Kemarahan Presiden Jokowi Jadi Berita, Wajar Gak Sih Pemimpin Marah di Depan Publik?

Kemarahan Presiden Jokowi Jadi Berita, Wajar Gak Sih Pemimpin Marah di Depan Publik?

Lori Official Writer
556

Untuk pertama kali, Presiden Jokowi marah di depan jajaran menteri negara. Kemarahan ini terjadi saat Presiden Jokowi melakukan sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Jakarta pada Kamis, 18 Juni 2020 lalu.

Dalam sebuah video berdurasi 9 menit yang beredar, presiden memperingatkan jajaran kabinet untuk bekerja extraordinary untuk menanggapi keadaan krisis pandemi global yang terjadi saat ini.

"Kita yang berada di sini bertanggung jawab pada 260 juta penduduk Indonesia. Tolong digarisbawahi dan perasaan itu tolong sama. Kita sama ada sense of crisis yang sama hati-hati," ucap Jokowi.

Setelah memaparkan krisis ekonomi dunia yang sedang mengancam, Jokowi pun meminta seluruh jajaran kementeriannya menyikapi situasi ini dengan serius.

“Bank dunia menyatakan (ekonomi) bisa minus sampai 5%. Perasaan ini harus sama. Kita harus ngerti ini. Jangan biasa-biasa saja. Jangan linier. Jangan menganggap ini normal. Saya melihat masih banyak dari kita menganggap ini normal…Kerja masih biasa-biasa saja. Jadi kerjanya memang harus ekstra luar biasa. Extraordinary,” lanjutnya menyampaikan dengan nada tinggi seperti menunjukkan kemarahan.


Baca Juga: Sambut New Normal, Jokowi Perintahkan Pembukaan Tempat Ibadah Melalui Tahapan Ketat


Kemarahan orang nomor satu RI ini pun mengundang komentar dari banyak kalangan. Dahlan Iskan, misalnya, menilai jika sosok halus seperti Jokowi saja bisa marah itu artinya situasinya pasti sudah keterlaluan.

“Orang halus seperti Pak Jokowi marah besar berarti keadaan sudah keterlaluan. Misalnya soal anggaran kesehatan itu. Yang baru terpakai 1%,” ucapnya.

Sementara yang lain menilai bahwa mempertontonkan kemarahannya kepada publik bukanlah tindakan yang bijak.

“Jokowi semestinya enggak usah marah-marah menguliti menteri di depan publik. (Karena) sama saja bukan aibnya sendiri, sama saja ketikdakmampuan Presiden dipertontonkan,” kata Pangi Syarwi Chaniago, Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting.

Gak dipungkiri selama masa pandemi ini Jokowi sudah beberapa kali menunjukkan kemarahannya. Hal itu pun ditunjukkan kepada publik. Gak heran kalau ada banyak orang yang bertanya apakah bijak jika seorang pemimpin marah-marah di depan publik?

Mari menyikapi hal ini dari pandangan kekristenan. Di Yohanes 2: 14-16, Yesus marah saat menyaksikan bait suci dijadikan sebagai pasar. Sebagian orang pada waktu itu pasti berpikir kalau sikap Yesus itu aneh. Tapi setelah tahu alasan kemarahan Yesus, kita mengerti kalau Dia marah untuk alasan yang benar.

Sebagai Tuhan, Yesus menunjukkan kemarahannya di depan publik. Dia marah karena tindakan sembrono orang lain yang tidak menghormati Allah.

Bahkan Nehemia marah karena mendengar perlakuan yang dialami oleh orang Yahudi (Nehemia 5: 1-8). Dia menjadi marah karena didorong oleh ketidakadilan yang terjadi pada saat itu.

Namun walaupun dalam beberapa situasi marah dianggap pantas. Tapi seorang pemimpin juga dituntut untuk memiliki kesabaran yang besar dan mampu mengendalikan diri.

Seorang pemimpin diharapkan tidak mudah bereaksi terhadap masalah. Setelah mendengarkan keluhan-keluhan orang Yahudi, Nehemia mengambil waktu untuk berpikir apakah kemarahan itu benar atau salah. Jadi, marah adalah sikap yang wajar dialami oleh setiap orang, gak terkecuali kepada seorang pemimpin. Jadi, mari belajar menempatkan kemarahan seperti Yesus dan mengambil langkah untuk menimbang kemarahan seperti Nehemia.

Sumber : Jawaban.com

Ikuti Kami