Umat Kristen Dianiaya Dengan Brutal, Begini Cara Meresponi Menurut Paus Fransiskus...

Umat Kristen Dianiaya Dengan Brutal, Begini Cara Meresponi Menurut Paus Fransiskus...

Lori Official Writer
941

Dalam sebulan, penganiayaan di India terjadi dengan sangat brutal. Dua orang diantaranya dibunuh dengan kejam oleh warga Hindu setempat karena perbedaan keyakinan yang mereka anut.

Bukan hanya di India, negara-negara seperti Iran, Pakistan, China, Burkino Paso, Nigeria dan wilayah Afrika lainnya juga membuat umat Kristen hidup menderita.

Menanggapi apa yang sedang dihadapi oleh umat Kristen di berbagai wilayah negara. Pemimpin Gereja Katolik Roma Paus Fransiskus pun memberikan dukungan kepada seluruh umat Kristen untuk meresponi dengan benar, bukan membalas dengan tindakan kekerasan atau penganiayaan. Dia juga mengajak supaya umat Kristen tak perlu takut.

"Yesus menasihati para muridNya dan kepada orang-orang (percaya) yang saat ini menderita penganiayaan: ‘Jangan takut kepada mereka yang membunuh tubuh, tetapi yang tidak dapat membunuh jiwa’" kata Paus.

Dalam pesan misa Minggunya, Paus juga berpesan supaya umat Kristen tak perlu takut kepada orang-orang yang berusaha menghentikan pelayanan penginjilan di berbagai wilayah dunia dengan keangkuhan dan tindakan kekerasan mereka. Karena sampai hari ini, ada banyak orang Kristen yang masih dianiaya karena tugas pelayanannya. “Mereka menderita karena injil dengan kasih, mereka adalah martir di zaman ini,” ucapnya.


Baca Juga:

Selain India, Kasus Penganiayaan Orang Kristen Terus Meningkat di 3 Negara Ini Loh!

 

Persekusi di India Meningkat, Remaja Kristen Ini Dibunuh Kerena Sentimen Agama


Dia pun memaparkan alasan Yesus meminta murid-Nya untuk tidak takut terhadap penganiayaan oleh karena iman, seperti yang tertulis dalam Matius 10: 28. Menurutnya, orang-orang yang menganiaya umat Tuhan tidak bisa berbuat apa-apa terhadap jiwa. Tak seorang pun yang bisa memisahkan orang percaya dari kesatuan dengan Allah.

“Satu-satunya ketakutan yang harus dimiliki seorang murid adalah kehilangan karunia ilahi, keintiman dan persahabatan dengan Allah, hidup menyimpang dengan injil, sehingga mengalami kematian moral yang merupakan efek dari dosa,” ucapnya.

Selain penganiayaan, kondisi nyata yang akan dihadapi oleh murid Yesus adalah permusuhan terhadap iman dan firman Tuhan.

Pekabaran injil adalah amanat yang disampaikan oleh Yesus. Para pemberita injil bekerja untuk memenangkan, membungkam dan menyirami hati orang-orang yang berusaha menolak firman Tuhan dengan firman Allah yang manis.

“Yang penting adalah kejujuran, keberanian saksi kita, tentang kesaksian iman kita: Membagikan tentang Yesus kepada orang lain dan teruslah berbuat baik,” katanya.

Perlindungan Komunitas Beragama Ditegakkan

Selain meyakinkan umat Kristen untuk tidak takut. Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) sendiri sudah berkomitmen untuk memberikan perlindungan kepada kaum minoritas di berbagai negara untuk bisa mendapatkan hak untuk hidup sesuai dengan keyakinannya.

Secara tegas, pemerintah AS telah memasukkan negara-negara seperti China, Nigeria, Pakistan, Iran, Srilanka dan negara lainnya tsebagai negara yang gagal memenuhi standar dasar HAM internasional.

Komitmen perlindungan komunitas beragama ini pun direalisasikan dengan penandatanganan kampanye kebebasan beragama oleh Presiden Donald Trump pada 2 Juni 2020 lalu.

Perintah itu akan dikerjakan oleh Departemen Luar Negeri bersama USAID dengan cepat dan efisien. Salah satu langkah yang akan ditempuh adalah dengan mempromosikan kebebasan beragama kepada berbagai negara dan pentingnya pemerintah negara tersebut melindungi komunitas agama yang ada. Sebagai perwakilan komunitas beragama, AS diharapkan bisa meyakinkan pemerintah negara-negara lain untuk bekerja sama melindungi kaum minoritas di negaranya.

Sumber : Jawaban.com

Ikuti Kami