Iniloh Yang Harus Kamu Lakukan Sebagai Orang Kristen Dalam Perang Melawan COVID-19

Iniloh Yang Harus Kamu Lakukan Sebagai Orang Kristen Dalam Perang Melawan COVID-19

Harry Lee, M.D., Psy. D. Contributor
1243

Berbeda dengan tulisan-tulisan yang selama ini penulis sajikan, kali ini penulis ingin mengajak seluruh pembaca yang selalu dengan setia mengikuti tulisan-tulisan penulis untuk merenungkan apa yang terjadi hari-hari ini dan bagaimana dampaknya bagi kehidupan kita baik secara pribadi maupun secara kolektif dalam sebuah lingkungan, dalam masyarakat, dalam sebuah kota maupun dalam sebuah Negara.

Hari-hari ini berita tentang Covid-19 menguasai berita di seluruh media yang ada di seluruh dunia. Setiap hari kita membaca atau mendengar berita yang sangat meresahkan karena bukan hanya jumlah penderita yang bertambah tapi juga banyak yang meninggal akibat serangan Virus Corona ini, namun demikian banyak juga yang sembuh.

Mari kita berhenti sejenak untuk tidak mengusut asal usul munculnya virus ini, karena hal inipun tidak akan memberikan solusi yang nyata. Faktanya adalah virus ini sudah menjalar ke mana-mana dan tugas kita semua adalah berperang menghentikan penjalaran virus ini lebih lanjut.

Di dalam sebuah peperangan yang aktif, semua tentara berada di garis terdepan untuk mempertahankan wilayahnya dari serangan musuh, menjaga agar musuh tidak masuk dan menduduki negeri tercinta. Setiap serdadu yang terluka ditarik ke belakang garis pertempuran untuk dirawat oleh tenaga medis. Tenaga medis berjuang untuk mempertahankan kelangsungan hidup dari setiap tentara yang tertembak musuh.

Sudah barang tentu tidak ada satu orang tentarapun yang dengan nekadnya mengeluarkan kepala dan tubuhnya ditengah-tengah hujan peluru. Setiap tentara bersembunyi di tempat mereka masing-masing pada saat peluru dari pihak musuh ditembakkan kepada mereka dan semua serdadu tunduk pada perintah atasan mereka masing-masing.

Kepada setiap serdadu diberikan senjata yang diperlengkapi dengan peluru-pelurunya, akan tetapi kepada para dokter dan perawat di rumah sakit tidak diberikan senjata dan peluru untuk menembak musuh mereka, karena rumah sakit tidak boleh diserang berdasarkan hukum internasional dan dokter serta perawat bertugas hanya untuk merawat pasien untuk meringankan penderitaan mereka sampai mereka sembuh. Tidak semua pasien yang dirawat di Rumah Sakit menjadi sembuh, sebagian meninggal dunia akibat luka tembak yang dialami mereka di medan perang.

#LOVEINACTION : Yuk bantu sesama yang terdampak COVID-19 dengan pemberian sembako, donasi KLIK DISINI

Berbeda dengan serdadu yang berlaga di medan perang – para tenaga medis tidak ikut berperang, mereka tidak ikut aktif menembak musuh. Dalam hal Covid-19 semua rakyat dibekali senjata dan amunisi untuk mencegah merebaknya musuh yang bernama Virus Corona ini untuk masuk ke dalam kota atau ke dalam Negara. Senjata dan amunisi yang dimaksud adalah pengetahuan bagaimana membunuh Virus Corona serta menghindari serangan Virus Corona.

Senjata dan amunisi yang di siapkan pemerintah untuk rakyatnya adalah:

1. Cuci tangan minimal 20 detik

2. Pakai Masker

3. Lakukan Social-Distancing

4. Diam Dirumah

5. Untuk tenaga medis di persiapkan Alat Pelindung Petugas Medis yang sudah barang tentu berbeda dari yang disarankan untuk masyarakat yang bukan Petugas Medis.

Seluruh masyarakat dengan demikian memiliki tanggung jawab terbesar dalam menentukan penularan atau menghentikan penularan Virus Corona berdasarkan perilaku mereka. Seluruh masyarakat dengan demikian berada di front terdepan yang harus dapat berfungsi untuk menahan kekuatan musuh bersama yang bernama Virus Corona. Caranya adalah dengan mematuhi peraturan yang diberikan pemerintah untuk mempergunakan senjata dan amunisi untuk menghancurkan Virus Corona seperti disebut diatas.

Jika masyarakat gagal melakukan tugas mereka, maka mereka dapat menjadi alat ditangan Virus Corona (alat ditangan musuh) untuk memusnahkan bangsa sendiri. Orang-orang seperti ini menjadi perpanjangan tangan Virus Corona untuk menghancurkan kehidupan orang lain. Melawan peraturan pemerintah dengan sengaja mengadakan pertemuan dalam jumlah besar seperti dipantai, berarti melakukan tindakan bunuh diri – dengan sengaja memberikan diri ditembak oleh musuh yang bernama Virus Corona dengan memberikan diri mereka tanpa perlindungan. Bukan hanya mereka mencelakakan diri mereka sendiri, tapi juga mencelakakan kehidupan orang lain.

Jika masyarakat gagal melakukan tanggung jawab mereka, maka Virus Corona yang menjangkiti mereka akan menyerang tenaga medis sebagai lapisan kedua, karena Virus Corona sudah berhasil menembus lapisan pertama yaitu segenap masyarakat. Apa yang dilakukan masyarakat yang mengabaikan peraturan yang diberikan pemerintah saat mereka terjangkit Virus Corona?

Mereka akan memainkan jari mereka untuk menghakimi para tenaga medis yang telah bekerja siang dan malam, mereka menuduh para tenaga medis sebagai tenaga ahli yang kurang cekatan sehingga menimbulkan banyak korban. Dimanakah akal sehat orang-orang ini?

Berbeda dengan perang antara Negara, hukum internasional melarang untuk menyerang rumah sakit seperti yang telah penulis sampaikan di atas tadi. Dalam hal peperangan dengan Virus Corona, Virus Corona tidak mengenal hukum internasional, Virus Corona akan menyerang siapa saja dan dimana saja. Virus Corona tidak membedakan kaya dan miskin, dokter dan rakyat jelata, warna kulit, dan sebagainya. Peperangan melawan Virus Corona ini sangat mungkin dimenangkan – karena itu mari kita menggunakan senjata dan amunisi yang telah dipersiapkan pemerintah.

Firman Tuhan dalam Matius 22:39 mengatakan, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Bagaimana caranya kita mengasihi sesama kita manusia? Aku memilih untuk melindungimu dengan mematuhi peraturan pemerintah seperti engkau juga memilih untuk melindungi diriku dengan mematuhi peraturan pemerintah. Pemerintah ditunjuk oleh Tuhan dan merupakan perpanjangan tangan Tuhan (Roma 13:1), mari kita patuhi peraturan pemerintah. Semoga bermanfaat dan boleh menjadi berkat!


Rev. Dr. Harry Lee, MD.,PsyD

Gembala Restoration Christian Church di Los Angeles - California

www.restoration117.org

Catatan: Untuk menjawab pertanyaan tentang kualifikasi penulis untuk menuliskan topik ini: Penulis adalah seorang Dokter Medis (Jerman), penulis juga adalah seorang Dokter Psikolog (Amerika), dan penulis juga seorang Bachelor Theology.

Sumber : Dr. Harry Lee

Ikuti Kami