Terinfeksi Setelah Kunjungi Pasien Virus Corona, 18 Pendeta Italia Ini Meninggal

Terinfeksi Setelah Kunjungi Pasien Virus Corona, 18 Pendeta Italia Ini Meninggal

Lori Official Writer
1474

Kabar duka datang dari Italia dimana setidaknya 18 pendeta Italia meninggal setelah terjangkit virus corona.

Mereka diketahui mulai terjangkit setelah mengunjungi pasien terinfeksi maupun yang memimpin acara pemakaman pasien yang meninggal. Hal ini diketahui mulai terjadi sejak Paus Fransiskus mendesak para pendeta gereja Katolik untuk pergi mengunjungi orang-orang sakit akibat virus corona di unit-unit perawatan intensif di Italia. Sayangnya, kunjungan tersebut malah menimbulkan masalah besar bagi para pendeta.

Setidaknya terdapat 10 pendeta yang meninggal setelah terjangkit virus corona di Milan, Italia. Menyusul pendeta lainnya asal kota Parma, Brescia, Cremona dan Italia Utara.
Jumlah kematian ini dinyatakan belum sepenuhnya karena gereja kesulitan dalam mengumpulkan data komunitas dan juga pendeta mereka yang terinfeksi virus corona.

Sama seperti para dokter, pendeta dan imam Katolik diketahui juga melakukan perkumpulan dalam jarak dekat. Sehingga penularan pun semakin meluas. Jumlah tim medis Italia yang sudah meninggal mencapai 13 orang.

"Mengenakan topeng, topi sarung tangan, jubah dan kacamata pelindung, kami para imam berjalan di sekitar aula seperti zombie," kata Pastor Claudio del Monte.

Del Monte sendiri berasal dari paroki Bergamo, sebuah kota berbukit yang indah dan telah menjadi pusat wisata di kota Italia.

Namun hal ini juga yang membuat provinsi ini sebagai pusat penyebaran virus corona terburuk, dimana terhitung pada Jumat (20/3) jumlah terinfeksi sudah mencapai angka 4.634 orang.


Baca Juga: Paus Fransiskus Tantang Imam Katolik Temui Pasien Terinfeksi Virus Corona


Banyaknya korban yang meninggal membuat pemerintah kewalahan dalam menangani jenazah. Hingga aakhirnya mereka harus mengirimkan pasokan peti mati kayu yang diangkut dengan menggunakan truk-truk tentara.

"Kami tidak lagi tahu dimana harus menempatkan orang mati," kata uskuo Bergamo, Francesco Beschi.

Seperti korban meninggal lainnya, para pendeta dimakamkan tanpa menjalani upacara gereja.
Kondisi mengenaskan ini pun mendesak pemerintah untuk menetapkan larangan untuk menghadiri pemakaman dan pernikahan selama beberapa minggu atau bahkan bulan ke depan.

"Menyakitkan rasanya melihat para imam (pendeta) jatuh sakit. Kadang-kadang hal itu terjadi kepada mereka karena semangat pastoral. Mereka mengunjungi unit perawatan intensif dimana tak seorangpun yang harusnya pergi ke sana," kata Enrico Salmi, Uskup Parma.

Sampai saat ini belum ada pernyataan resmi dari pemimpin Gereja Katolik Paus Fransiskus terkait kematian para pendeta dan imam ini.

Sumber : Dailymail.co.uk | Straitstimes.com

Ikuti Kami