Ibadah Dengan VR & Lakukan Babtisan Virtual, Gereja Dekade Baru Dengan Teknologi Canggih

Ibadah Dengan VR & Lakukan Babtisan Virtual, Gereja Dekade Baru Dengan Teknologi Canggih

Puji Astuti Official Writer
1287

Masuki dekade baru, gereja pun ikut berinovasi, tidak hanya melakukan ibadah tayangan langsung melalui media online atau streaming, namun juga sudah menggunakan aplikasi dan bahkan virtual reality (VR) dan augmented reality (AR). Bukan hanya ibadah dan kotbah yang bisa disaksikan secara online, namun babtisan pun dilakukan secara virtual.

Salah satu yang telah melakukannya adalah VR Church yang dipimpin oleh D.J.Soto, dimana dia mengklaim sebagai institusi religious pertama yang sudah memakai kecanggihan komputer secara maksimal untuk pelayanan.

“Kita meninggalkan era informasi dan memasuki era pengalaman dari VR (virtual reality) dan AR (augmented reality),” demikian ungkap Pastor Soto.

Setiap minggu, jemaat hadir secara virtual dengan avatarnya masing-masing. Tempat ibadahnya pun bisa bervariasi, mulai dari gedung tertinggi di Dubai, yang kemudian bisa pindah ke padang rumput dengan pemandangan kota Dubai menjadi latar belakangnya. Setiap minggu, sekitar 150 jemaat mengikuti ibadah gereja ini.

Baca juga :

5 Alasan Banyak Orang Nyaman Dengan Hubungan Virtual, Yuk Kenali Risikonya
Bisakah Teknologi Jadi Ancaman Bagi Kekristenan? Ini Jawabannya…

“Ibadah kami lebih sedikit layanan panggung. Mereka lebih terhubung. Kami ingin jemaat benar-benar mengalami firman Tuhan, jadi saya membawa semua orang mengikuti saya masuk dalam cerita,” demikian jelas Pastor Soto.

Untuk menghadiri ibadah ini, jemaat menggunakan alat kaca mata virtual reality, platform social media di mana ada grup khusus untuk bertemu dengan avatar masing-masing. Mereka juga punya berbagai variasi acara, seperti malam komedi atau stand up komedi.

Gereja ini digagas oleh Soto satu bulan setelah ia mengundurkan diri dari pekerjaannya di sebuah megachurch lokal di Pennsylvania pada 2016. Ia memulai dengan acara pujian penyembahan yang “radikal dan inklusif” menggunakan virtual reality.

Ide ini muncul setelah ada perbincangan tentang sulitnya membangun gereja secara fisik, dan orang-orang yang sulit mendapatkan tempat ibadah yang tepat. Gereja virtual yang dihadirkan oleh Pastor Soto tersebut dianggap mengisi kekosongan ini.

Selain itu Pastor Soto juga menjadikan gerejanya menjadi tempat aman bagi orang beragama lain dan juga orang ateis utuk berinteraksi dan berdiskusi tentang Tuhan dengan cara yang santun.

Gereja virtual seperti yang dihadirkan oleh Pastor Soto ini diprediksi akan menjadi alat penjangkauan disaat banyak orang-orang di Amerika saat ini yang meninggalkan gereja ketika mereka beranjak dewasa. Gelombang  generasi milenial yang meninggalkan gereja ini menimbulkan keprihatinan di kalangan umat Kristen Amerika.

Bagaimana dengan gereja-gereja di Indonesia, apakah akan memanfaatkan juga teknologi canggih seperti ini? 

Baca juga :

Bimas Kristen Ungkap 50% Generasi Milenial Kristen Tinggalkan Gereja, Ini Data Risetnya!

Pendeta Ini Bikin Gereja Virtual Untuk Para Gamer, Alasannya Bakalan Bikin Kamu Tercengang

Sumber : Berbagai Sumber | Jawaban.com

Ikuti Kami