Silahkan login terlebih dahulu sebelum
memasukkan pertanyaan Anda.

Register Login

Inta

Official Writer
188


Tantangan pengasuhan adalah hal yang pasti terjadi saat kita menjadi orang tua. Mulai dari anak yang ngambek, mogok makan, nggak nurut, bahkan sampai anak mengalami kecelakaan kecil. Saat situasi itu terjadi, nggak jarang kita cenderung menyalahkan pasangan atas apa yang terjadi pada anak.

Kita pikir, kalo aja pasangan lebih cermat dan nggak ceroboh, anak kita pasti akan lebih baik, terhindar dari kecelakaan kecil, lebih nurut, dan lain sebagainya. Cek-cok pun jadi nggak bisa terhindarkan. Nggak sadar kita malah saling melempar tanggung jawab. Ketika kondisi tidak terkendali, kita cenderung mencari kambing hitam daripada cari kebenaran atau solusinya.

Sebagai orang tua, kita diingatkan untuk tidak saling menyalahkan. Sebab, sikap ini bisa berdampak negatif pada anak, lho. Nggak cuma ke anak, bahkan hubungan kita dan pasangan juga akan jadi lebih berjarak. Kira-kira, kenapa bisa begini, ya? Yuk simak alasannya di bawah ini.

1. Memicu ingatan masa kecil yang buruk

Kita: "Lihat tuh, anakmu kok nakalnya bukan main. Kamu sih terlalu manjain dia!"

Pasangan: "Enak aja, yang harusnya ngurus anak kan kamu!"

Cek-cok dan saling menyalahkan merupakan sebuah ingatan yang kita nggak pengin ada pada anak, bukan? Kalau kita terlalu sering melakukan hal ini, anak-anak akan terpicu pada ingatan masa kecil yang terkait dengan kegelisahan, kemarahan, bahkan rasa malu.

2. Merefleksikan ekspektasi kita yang tidak realistis

Buat anak, kita adalah pahlawannya. Kita pasti pengin anak percaya kepada kita, begitu pula sebaliknya. Ornag tua merupakan percontohan tingkah laku anak di masa sekarang atau di masa yang akan datang. Kita pengin menciptakan lingkungan keluarga yang nyaman dan aman bagi semua pihak, tetapi kita justru saling menyalahkan, apalagi di depan anak-anak.

Kalau kita pengin anak punya sikap dan karakter yang baik, maka kita harus bisa memberikan contoh demikian kepada anak. Setidaknya, tidak dilakukan di hadapan anak. Kalau pun saling menyalahkan atau percek-cokan harus terjadi, maka cobalah untuk membahasnya tidak di depan anak-anak.

3. Mencirikan kalau kita belum dewasa secara emosional

Dimana pun, salah satu orang yang dianggap dewasa secara emosional merupakan mereka yang bisa bertanggung jawab atas sikapnya sendiri. Kita percaya kalau pengasuhan merupakan tanggung jawab kita dan pasangan. Bukankah tidak seharusnya kita saling menyalahkan?

Kita harus ingat kalau pengasuhan merupakan sebuah proses pembelajaran. Baik kita mau pun pasangan bisa melakukan kesalahan, kok. Daripada menyalahkan, seharusnya kita bisa lebih bertanggung jawab soal bagaimana solusi dari masalah pengasuhan anak ini.

4. Anak percaya kalau dirinya adalah produk gagal dari pasangan

Menyalahkan pasangan di depan anak bisa membuatnya percaya kalau tingkah buruknya adalah hasil dari pihak orang tua yang salah mengasuh.Kita nggak bisa mengabaikan emosi anak. Mereka bisa merekam apa yang dialaminya, bahkan sejak mereka masih balita.

Ketika aksi saling menyalahkan terjadi, anak bisa berpikir bahwa ternyata pihak pasanganlah yang salah, sebab ia membesarkan anak dengan cara yang salah pula. Siapa sih yang suka disalahkan? Ketika kita menyalahkan pasangan, nggak jarang ini akan memicu pertengkaran. Hal ini kemudian akan mempengaruhi presepsi anak terhadap orang tua.

Lalu, bagaimana kalau pasanganlah yang justru mulai menyalahkan kita? Jawabannya adalah dengan mengabaikannya. Kita bisa langsung meninggalkan pasangan, atau mengingatkannya untuk tidak berbicara dulu saat anak-anak sedang ada di sekitar kita.

Menahan emosi itu nggak ada ruginya sama sekali, lho. Justru lewat menghindari, kita jadi nggak meninggalkan ledakan emosi atau penyesalan. Manusia cenderung bereaksi dengan emosi negatif saat merasa terancam.

Jadi, solusinya adalah dengan menjaga interaksi kita dengan pasangan. Bukan selayaknya orang tua yang marah apda anak, coba arahkan komunikasi kita kepada pasangan. Dari sikap ini, kita akan belajar untuk membangun tanggung jawab buat diri sendiri. Kita harus tahu kalau kita sendiri yang bertanggung jawab atas hal-hal yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan.

 

 

 

 

Sumber : berbagai sumber

Share this article :

Setiap Persoalan selalu ada Harapan dan Jawaban. Hubungi kami sekarang !

Susi Salfia 9 December 2019 - 15:20:13

Jelaskan apakah orang yang sudah lahir baru ada ke.. more..

0 Answer

Chrisman_ Panjaitan 9 December 2019 - 10:14:37

Saya mohon dukung dia agar saya terlapas dari kesu.. more..

0 Answer

BaiqNur Afriliani 8 December 2019 - 12:19:17

Komunikasi lebih dari sekedar kata-kata. Jelaskan .. more..

0 Answer


JustinDI 22 November 2019 - 16:40:34
Bapa kami yang di Surga, Dikuduskanlah namaMu Data... more..

JustinDI 22 November 2019 - 16:40:25
Bapa kami yang di Surga, Dikuduskanlah namaMu Data... more..

surya 10 November 2019 - 18:37:53
Hi teman teman JC, nama saya surya, saya mengalami... more..

marisca benedicta 9 November 2019 - 10:23:48
tolong bantu doa, agar saya terlepas dri jeratan h... more..

Banner Mitra November Week 4


7262

advertise with us