Silahkan login terlebih dahulu sebelum
memasukkan pertanyaan Anda.

Register Login

Inta

Official Writer
685


Pendeta Junita Rondonuwu-Lasut berasal dari Gereja Protestan Indonesia Donggala (GPID) Sulawesi Tengah yang kini tengah melayani di Jerman.

Pendeta Junita mengisahkan awal perjalanannya melayani di Jerman, "Awal tahun 1999 saya diundang bekerja disatu lembaga yang bernama Dienst für Mission Oikumene und Entwiklung (Pelayanan Misi Oikumene dan Pengembangan) di Württemberg Landeskirche di kota Reutlingen kira-kira 30 km dari kota Stuttgart."

Pada tahun 2004, ia kembali ke gereja asalnya di GPID Sul-Teng. Kemudian, tahun 2006, ia mendapat kabar kalau ada satu gereja Indonesia di kota Frankfurt membutuhkan pendeta yang bisa berbahasa Indonesia dan Jerman.

Ia juga menceritakan perbedaan yang ia alami saat melayani di Indonesia dan di Jerman.

Kalau dari tugas, Jemaat Kristus Indonesia (JKI), gereja dimana Pendeta Junita melayani, sama saja. Namun, meski berlatar belakang orang Indonesia, ia juga masih punya masalah perihal bahasa.

Di Jerman ia berhadapan dengan jemaat dengan latar belakang Indonesia, di mana generasi pertama mereka sudah hidup lebih 50 tahun di Jerman, sementara generasi keduanya hampir tidak bisa berbahasa Indonesia lagi.

Menjadi seorang pendeta di Jerman juga berarti harus tahan mental, sebab harus bisa bekerja dalam tekanan. Apalagi orang Jerman sangat mengutamakan waktu dan target.

Menurut Pendeta Junita, pekerjaan disana juga kebanyakan didominasi dengan menulis: menulis khotbah, bahan seminar, sampai menulis laporan yang semuanya harus dalam bahasa Jerman.

Saat ditanyai soal pelajaran utama yang didapatkan selama hidup di Jerman, Pendeta Junita langsung menjawab singkat: tanggung jawab.

"Kalau saya buat janji dengan seseorang untuk bertemu jam 3 sore, misalnya. Lalu datang telefon dari Indonesia mengatakan bahwa ada pejabat tinggi yang bernama X mau bertemu dengan saya, besok jam 3 sore, saya tidak mungkin membatalkan agenda saya dengan orang yang telah buat janji dengan saya, walaupun orang itu pekerjaannya hanya sebagai tukang sapu. Begitu budaya di Jerman,” jelasnya.

Menurut Pendeta Junita, salah satu budaya Jerman yang berbeda adalah ketika orang sudah sudah mengatakan ‘ya’, maka orang itu harus bertanggung jawab sampai selesai. 

Sumber : Tribun

Share this article :

Setiap Persoalan selalu ada Harapan dan Jawaban. Hubungi kami sekarang !

Nur Ramadhani 18 September 2019 - 19:28:33

Tuliskan apa saja yg ada didalam diri anda?

0 Answer

Wang barry 18 September 2019 - 18:09:25

Bagaimana ketika kita menyerahkan persoalan kepada.. more..

0 Answer

Dimas Diang 16 September 2019 - 13:44:33

Bagian excelnyang berisi alamat suatu sel

0 Answer


Merry Sine 28 August 2019 - 14:42:33
Salom sahabat.. peekenalkan saya merry

The Kicker Ellex 26 August 2019 - 18:40:31
Salam sejahtera para sahabat... Perkenalkan, nama ... more..

Suhidi Yosua 2 August 2019 - 00:01:16
Shalom, Nama saya Suhidi Yosua, 30thn. Saya butuh ... more..

andrew 1 August 2019 - 02:12:17
saya Andrew 21thn saya mau meminta suport dan duku... more..

Banner Mitra September week 3


7275

Banner Mitra September week 3