Silahkan login terlebih dahulu sebelum
memasukkan pertanyaan Anda.

Register Login

HarryLee

Contributor
608


Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan. Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya (Kolose 3:20-21 TB)

Setelah absent dalam kurun waktu yang cukup lama, penulis kali ini mencoba untuk menampilkan catatan harian penulis dari serentetan konseling dengan orang tua dalam menghadapi kesulitan dalam mendidik anak-anak mereka. Hendaknya kali ini jangan kita sekalian memulai sebuah pertanyaan “Salah siapakah hinga anak-anak tidak taat pada orang tua mereka?” Siapa yang salah tidaklah terlalu penting, yang lebih penting adalah, apakah kita memiliki sebuah solusi untuk memperbaiki masalah yang kita sekalian hadapi setiap hari!

Penulis sangat meyakini bahwa kedua ayat tersebut diatas adalah sebuah solusi yang sangat tepat dalam menghadapi masalah yang ada dalam hubungan antara orang tua dengan anak dan sebaliknya antara anak dengan orang tua. Tugas bagi anak-anak adalah untuk mentaati orang tua mereka dalam segala hal selama hal itu tidak bertentangan dengan Firman Tuhan dan tugas orang tua adalah untuk tidak menyakiti hati anak-anak mereka. Efek dari menyakiti hati anak-anak seperti tertulis dalam Firman yang penulis kutip diatas adalah “mereka menjadi tawar hati.” 

Anak-anak yang tawar hati akan menutup hati mereka rapat-rapat, sehingga komunikasi menjadi terhambat. Amsal 16:24 mengatakan perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang. Tujuan akhir mungkin saja sama, tapi perkataan yang menyenangkan lebih bisa diterima dan akan mempunyai dampak yang lebih baik dalam mengubah karakter sang anak. Perkataan dengan nada yang melengking tinggi atau perkataan yang bersifat memalukan anak didepan teman-teman mereka akan memberikan dampak yang negative dalam hubungan anak dengan orang tua, karena anak akan segera menutup hati mereka terhadap orang tua mereka.

Dengan selalu menuduh bahwa anak berada pada posisi salah tanpa memberi kesempatan kepada anak untuk berbicara karena keengganan orang tua untuk mendengar akan menyebabkan hati mereka menjadi tawar – solusi apakah yang dicapai dengan cara ini? Apakah selaku orang tua, Anda terlalu memaksakan kehendak Anda dengan bersikap otoriter? Bukankah cara Anda seperti ini hanya menunjukkan bahwa Anda tidak mempunyai kapasitas memimpin keluarga? Jika Anda tidak mempunyai kapasitas memimpin keluarga, bagaimana Anda bisa memimpin orang lain; sebaiknya belajar terlebih dahulu untuk memimpin diri sendiri sehingga Anda bisa melakukan apa yang Anda ajarkan!

Pernahkah Anda mendengar atau Anda sendiri melakukan hal-hal sebagai berikut terhadap anak-anak Anda? “Papa,” kata Albert yang berumur Sembilan tahun, “Benjamin memukul perutku…” Sang ayah menjawab, “Pasti engkau terlebih dahulu memukul Benjamin karena Benjamin tidak pernah akan memukulmu tanpa engkau memulai terlebih dahulu.” Albert terdiam dan berlari masuk kamar untuk menangis; Albert sangat tersakiti dengan perilaku ayahnya. Beberapa minggu kemudian baru ayah Albert mendengar dari temannya bahwa Benjamin adalah seorang anak yang suka nge ”bully” anak-anak lain yang lebih lemah dari padanya, namun ayah Albert terlalu angkuh untuk meminta maaf pada Albert. 

Beberapa minggu kemudian setelah ayahnya mendengar berita tentang Benjamin, Albert kembali mendekati ayahnya untuk sebuah pertanyaan “science” yang tidak dimengertinya seraya berkata, “Papa kenapa ada jenis tanah tertentu yang dapat menyerap air lebih baik dari jenis tanah lainnya?” Sang ayah tidak menjawab karena tenggelam dalam mendengarkan warta berita dengan Koran ditangan kanannya. ”Papa,” ujar Albert, “Kenapa papa?” Sang ayah menjawab “Kesana kamu, papa lagi nonton warta berita.”

Keesokan harinya papa Albert berkata kepada Albert, “Albert jangan nonton TV sambil makan,” namun sang ayah sendiri nonton sambil makan. Albert mencoba untuk menyampaikan isi hatinya “Tapi papa juga nonton sambil makan.” Sang ayah menjadi marah, “Jangan kurang ajar kamu sama orang tua! Berani beraninya kamu melawan orang tua!”  Pesan apakah yang diterima Albert dari kejadian-kejadian ini? Sering kali orang tua tidak melakukan apa yang diajarkan mereka pada anak-anak mereka. Salahkah Albert jika hatinya menjadi tawar terhadap ayahnya?

Para pembaca yang budiman, hanya ada satu solusi yaitu cepat mendengar dan lambat berkata-kata dan jangan terburu-buru menghakimi seperti yang dilakukan ayah Albert kepada Albert. Dan hanya ada satu aturan untuk semua orang dalam sebuah keluarga “Jangan nonton TV sambil makan”, “Jangan berbohong” atau “Jangan mencuri” bukan hanya berlaku bagi anak-anak, namun juga bagi kedua orang tua. Semoga bermanfaat dan boleh menjadi berkat. Tuhan memberkati.


Penulis

Rev.Dr. Harry Lee, M.D., Psy.D., BTh.

Gembala Restoration Christian Church di Los Angeles - California

www.restoration117.org

Sumber : Rev.Dr. Harry Lee, M.D., Psy.D., BTh.

Share this article :

Setiap Persoalan selalu ada Harapan dan Jawaban. Hubungi kami sekarang !

Meilie 19 October 2018 - 15:39:12

Hutang

0 Answer

Barrydonald 19 October 2018 - 09:07:23

Tritunggal

0 Answer

Hanny Najoan 19 October 2018 - 08:31:06

Bisa dapat wanya terima kasih

0 Answer


Bella chandra 30 September 2018 - 11:51:26
Tuhan Yesus dengan kerendahan hati aku memohon unt... more..

brenda lenny wijayanti 27 September 2018 - 17:10:47
Semoga Tuhan Yesus membuka jalanku untukku ke Erop... more..

Andry Randa 25 September 2018 - 16:39:37
Tuhan Yesus, saat ini saya dan keluarga sedang men... more..

Christian 31 August 2018 - 05:12:12
Syalom dan terimakasih di kesempatan ini. Saat ini... more..

Banner Mitra Week 2


7272

Konselor