Silahkan login terlebih dahulu sebelum
memasukkan pertanyaan Anda.

Register Login

believers24

Official Writer
438


Tak pernah dibayangkan oleh Trivet Sembel bahwa pertemuannya dengan seorang pengemudi online akan memberinya sebuah pelajaran penting tentang toleransi. Kejadian saat ia masih bersama dengan pacarnya kala itu (sekarang sudah jadi mantan menurut pengakuan Trivet, red) membuat ia makin mengerti di dalam melihat perbedaan yang ada.   

“Jadi si bapak ini ngomong kalian pacaran ya. Iya, kamu sering ngerasa ada perbedaan gak, gue bilang pasti sih pak. Dia bilang bagus. Kenapa emang pak? Ini yang saya percaya de, bunga itu indah gara-gara warnanya beda-beda, ada yang coklat, ada yang hijau, terus mahkotanya bisa warna-warni. Bayangin kalau mahkota bunga semua warnanya sama, sama-sama coklat, sama-sama hijau, pasti tidak akan seindah ketika bunganya warnanya beda-beda mulai dari atas sampai ke bawah,” ungkap Trivet di hadapan para peserta acara Bersama Merawat Keberagama(a)n di Binus Centre F(X) Sudirman, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (12/7/2018).

Terkait komunitas merawat toleransi yang ia dirikan yakni Proud Project, Trivet mengaku bahwa komunitas ini ia dirikan dilatarbelakangi karena sebuah keresehan.


(Trivet bersama dengan Gloria (ketiga dari kiri) dan Alanda (paling kanan) berbagi pengalaman terkait toleransi. Acara Bersama Merawat Keberagama(a) ini dimoderatori oleh Ayu Kartika Dewi dari SabangMarauke (paling kiri). Sumber: Rosa Cindy / Campaign

“Saya waktu itu masih kuliah di Seattle, so waktu itu one night, waktu itu lagi winter, dingin banget, waktu itu gue lagi sama teman gue yang orang Indonesia juga. Kita waktu itu lagi dinner. Pas selesai dinner bareng, kita balik ke perapian. Pas jalan ke parkiran, gue ketemu sama orang, badannya gede banget, dia orangnya gimbal, pake topi kupluk, pokoknya tinggi banget,” kata Trivet mengenang.

Terjadilah dialog antara dirinya dengan bapak tersebut. Bapak ini meminta rokok kepadanya. Karena tidak merokok, dengan ramah ia berkata bahwa dirinya tidak merokok. Namun, bapak tersebut mengulangi permintaan hingga kali ketiga.

“Dia ngomong lagi, i know Indonesia people smoked, i’ve seen Indonesian smoked everywhere. Kayak orang elo merokok di mana-mana. I’ve seen Indonesian on the campus, on halte bus, disebutin satu-satu…. So, I can make sure that cigarette in yout pocket right now,” imbuh Trivet.

Kemudian bapak tersebut melanjutkan perkataannya yang menghentak dirinya.

“Terus dia ngomong lagi, so Indonesian people like you go back to your country and go bomb other place,” cerita Trivet.

Baca Juga: Kaleidoskop 2017: Inilah 4 Aksi Toleransi Umat Beragama yang Buktikan Kalau Beda itu Indah

Tidak ingin mencari masalah, sambung Trivet, ia dan temannya meninggalkan pria tersebut dan naik ke mobil. Namun, kejadian itu membuatnya berpikir tentang tembok yang ada antara orang Amerika Serikat dengan orang Indonesia.

“Siapa sih yang buat tembok ini? Apakah orang Amerika yang bikin, kita bilang orang Amerika rasis, orang Indonesia the best. Lama-kelamaan gue mikir kayaknya ada yang salah sama pikiran gue ya karena at times goes by, gue melihat orang-orang Amerika yang inspiratif, orang-orang yang gue look up banget.. Dari situ gue bertanya siapa dong (berarti) yang buat tembok ini,” ucap Trivet.

Berjalan waktu, akhirnya ia menemukan bahwa tembok  ini ada karena dibuat oleh orang Indonesia juga.  

“Setelah gue pikir-pikir kalau ada orang Amerika yang rasis, ada orang Indonesia yang juga rasis. Ada orang Batak di sini? Ada yang mau ngaku? Tapi orang Batak streotipenya orangnya selalu berisik, selalu marah-marah mulu, padahal kagak. Mantan gue aja kagak begitu... Pokoknya poinnya gak semua orang Amerika rasis,” pungkas Trivet.

Selain Trivet Sembel, pengalaman seputar toleransi dan perbedaan juga diungkapkan oleh Gloria NAtapradja Hamel (Duta Kemenpora) dan Alanda Kariza (Indonesian Youth Conference).

Acara bertajuk “Bersama Merawat Keberagama(a)n” merupakan hasil kolaborasi antara Indika Foundation, Campaign, Toleransi.ID, SabangMarauke, dan Binus International. Adapun latar belakang acara ini dibuat karena kepeduliaan akan masih maraknya diskriminasi dan kekerasan pada kelompok minoritas di Indonesia. Lewat acara ini, peserta dan masyarakat diajak untuk menghargai dan merawat keragaman di Indonesia agar sejalan dengan slogan resmi Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika.

Sumber : Laporan lapangan / Budhi Marpaung

Share this article :

Setiap Persoalan selalu ada Harapan dan Jawaban. Hubungi kami sekarang !

traveller cantik 19 December 2018 - 00:01:26

Kalau kita tidak menyukai hobby pasangan bagaimana.. more..

0 Answer

Rizam Lede 17 December 2018 - 13:25:45

Mencari pacar yang Takut akan Tuhan

0 Answer

antonia anton 14 December 2018 - 16:16:46

stress

1 Answer


chintya agustin sulistiani 15 December 2018 - 12:51:18
Tolong bantu doa saya. Saya mau ikut Yesus, tapi k... more..

chintya agustin sulistiani 11 December 2018 - 05:02:40
I am a Muslim, butI believe this December I will s... more..

sea_regardz 8 December 2018 - 13:19:50
Ada teman sekerja, perempuan, punya anak hanya 1, ... more..

Lina 2 December 2018 - 15:32:08
Bantu saya Dan doakan saya selalu kuat di dalam Tu... more..

Banner Mitra Week  3


7226

advertise with us