Nggak Cuma KDRT, Kekerasan Juga Kerap Terjadi Saat Pacaran, Kenali Jenisnya!

Nggak Cuma KDRT, Kekerasan Juga Kerap Terjadi Saat Pacaran, Kenali Jenisnya!

Inta Official Writer
1969

Pernah nggak sih mengalami saat masa sekolah dulu, bertemu dengan seseorang yang kita prediksikan bakal jadi 'orang' di kemudian hari. Hal yang sama ini menimpa pada saya sendiri. Pada saat kuliah dulu, saya punya teman di kampus, kakak tingkat, tepatnya.

Kakak tingkat ini tergolong cerdas dengan rentetan prestasi dalam bidang akademik yang bikin orang-orang sepakat dengan saya kalau ia akan menjadi orang sukses suatu hari nanti. Percakapan yang berbobot selalu saya nantikan darinya.


Selang hampir dua tahun tidak bertemu, tepat beberapa bulan yang lalu kami akhirnya bisa bersua. Sayangnya, obrolan itu tidak lagi sama. Jika dulu ia akan menjadi orang yang bisa diajak ngobrol berbagai topik A sampai Z dengan antusias, kini saat mengobrol pun ia cenderung menunduk. Rasanya ada sesuatu yang hilang darinya.

Saya kemudian membuka percakapan, “Kak, gimana nih sama si A?” Matanya mulai sayu, menghela nafas kemudian ia mencoba tersenyum pahit, “Udah enggak lagi nih, Ta.” Saya penasaran. Kok bisa ada seorang yang kita anggap wah begitu berubah drastis 180 derajat begini.

Rasa penasaran itu mengantarkan saya untuk bertanya lebih lanjut. Ternyata, kakak tingkat saya ini pernah mengalami kekerasan dalam pacaran. Bukan dalam bentuk fisik, justru ia mengalaminya secara emosional. Dan ini yang menimbulkan luka pada kakak tingkat saya yang berujung pada sulit move on dan perubahan sikap.

Dari kisah diatas, inilah pembelajaran yang bisa kita dapatkan

Dikutip dari helpnona, kekerasan dalam pacaran merupakan pola perilaku dimana salah satu pasangan berusaha mengontrol, mengatur, menyebabkan rasa takut, bahkan membuat ketergantungan pasangannya di dalam suatu relasi pacaran. Tidak perlu luka fisik untuk menjadi korban kekerasan dalam pacaran.


Dampak yang bisa ditimbulkan dari kekerasan dalam pacaran adalah;

1. Memiliki self esteem yang rendah atau ia tidak memandang dirinya berharga, merasa insecure atau menyalahkan diri sendiri.

2. Sulit berkomunikasi akibat trauma

3. Menganggap kekerasan sebagai jalan keluar suatu masalah

4. Membuka celah untuk awal KDRT


Bagaimana kita mengenali kekerasan dalam pacaran?

Pada tahun 2015, LBH APIK menangani 23 kasus kekerasan yang terjadi pada masa pacaran. 22% diantaranya mengalami kekerasan seksual, 35% gagal menikah, 26% kekerasan fisik, dan 17% hanya dimanfaatkan kondisi ekonominya saja.

Berdasarkan data di atas, kekerasan pada pacaran itu memang mungkin terjadi. Yuk kita bahas mengenai jenis-jenis kekerasan yang bisa kita temui saat pacaran.

1. Fisik

Pola kekerasan ini melibatkan aktifitas fisik seperti memukul, menampar, mencubit, melempar benda, atau hal lain yang berpotensi bikin pasangan terluka.

2. Emosional atau psikis

Tidak banyak orang menyadarinya, namun mengkritik, memiliki panggilan yang memalukan, mengejek, membentak pun menjadi contoh kekerasan dalam pola ini. Bahkan jika kita merasa kalau sering dipojokkan, dikekang, bahkan dihukum jika bertindak tidak sesuai dengan kehendaknya juga bisa disebut sebagai kekerasan.

Tidak lupa juga sikap pasangan yang terlalu mengontrol seluruh aspek kehidupan yang membuat kita ketergantungan terhadapnya. Bahkan, perilaku posesif seperti sering bertanya kapan, dimana, kepo-in handphone pun bisa menjadi salah satu bentuk kekerasan emosional, lho.

Baca juga: Hasil Voting JC, Ternyata Banyak Yang Lebih Milih Sahabat Dari Pacar Loh, Kenapa ya?

3. Seksual

Menurut seorang psikolog, kebanyakan orang melakukan seks pranikah dengan alasan untuk menunjukkan rasa cintanya terhadap pasangan. Memaksa untuk berlaku  demikian juga bisa masuk ke dalam kategori kekerasan dalam pacaran.

4. Ekonomi

Jika pasangan sudah mulai mengatur-ngatur kita untuk menuntut ilmu, ikut campur dalam jenjang karir, menahan pendapatan dan meminta ini itu untuk dibelikan, maka pola pacaranmu telah masuk ke tahap kekerasan dalam bidang ekonomi.

Salah satu cara pencegahannya adalah dengan menghentikannya sedini mungkin. Kalau kita merasa kalau hubungan sudah tidak lagi membuat kita nyaman, kenapa harus memutuskan untuk berkomitmen lebih jauh dengannya?

Biasanya, satu kekerasan cenderung mengantarkan kepada kekerasan yang lain. Karenanya, kita harus mengenal hubungan yang sehat di dalam Kristus dengan baik. Jika salah satu di antara kita sedang bergumul dengan masalah di atas, Sahabat24 siap mendengarkan curahan hatimu, hubungi kami di layanan telepon 1-500-224 atau 0811 9914 240, SMS ke 0817 0300 5566, atau live chat disini.  

Sumber : jawaban.com/helpnona
Halaman :
1

Ikuti Kami