Silahkan login terlebih dahulu sebelum
memasukkan pertanyaan Anda.

Register Login

intadestria

Official Writer
2011


Suatu hari, seorang anak bersama ayahnya baru saja pulang kebaktian hari minggu. Sesampainya di rumah, ia sibuk menonton tayangan kartun favoritnya. Tidak sampai sepuluh menit ia menikmati tontonannya, ia mendengar suara tetangga sebelah yang sedang bertengkar dengan orang lain. 

Ia mengintip dari jendela untuk melihat apa yang terjadi, kemudian menghampiri ayahnya dan bertanya, “Yah, bukannya ibu sebelah tadi duduk bersama kita saat kebaktian?” Ayahnya hanya tersenyum sementara anak tersebut melanjutkan pertanyaannya, “kok kalau abis dari kebaktian ibu itu malah marah-marah?” 

Baca juga: Yang Satu Ini Bisa Jadi Teman Terbaikmu Atau Musuh Terbesarmu, Pilih Yang Mana?

Bukannya menjawab pertanyaan dari sang anak, ayah justru pergi ke dapur dan mengambil dua buah gelas. Karena penasaran, sang anak mengekor ayahnya. “Lihat deh, ini ada dua gelas. Ayah isi dengan air. Yang satu airnya ini panas, yang satu airnya dingin. Kita coba celupkan teh sebanyak tiga kali ke masing-masing gelas, ya.” 

Sang anak hanya mengangguk, kemudian melihat reaksi yang timbul dari dua gelas tersebut. “Reaksi dari setiap gelas berbeda, bukan? Walaupun sama-sama dicelupkan sebanyak tiga kali, namun reaksi gelas yang diisi dengan air panas jauh lebih baik dan pekat dibandingkan dengan satunya yang hanya berwarna sedikit coklat.”

“Demikian juga dengan orang yang datang untuk beribadah, walaupun orang tersebut berdoa, mendengarkan firman Tuhan, rajin menyembah Tuhan, namun jika hatinya tidak sungguh-sungguh, maka hal itu tidak akan memberi reaksi apa pun terhadap dirinya. Ia tidak akan mengalami perubahan yang berarti,” terang ayahnya. 

Ibarat dua gelas dengan air dingin dan panas yang memberikan reaksi yang berbeda terhadap teh, kita pun sama. Mungkin salah satu dari kita aktif dalam persekutuan, memiliki banyak waktu untuk berdoa yang sama dengan yang lainnya. Tetapi, kualitas dan reaksi setiap pribadi bisa berbeda, tergantung pada keadaan hati kita untuk memuji nama Tuhan. 

Dalam Perjanjian Lama, kita bisa melihat kalau mereka adalah orang-orang yang rajin beribadah kepada Tuhan dan dengan bibirnya mereka memuliakan Tuhan, namun hatinya jauh dari Tuhan. Hal ini tertulis dalam Yesaya 29:13, “Dan Tuhan telah berfirman: “Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari padaKu, dan ibadahnya kepadaKu hanyalah perintah manusia yang dihafalkan,” 

Inilah yang membuat mereka dalam kesehariannya tidak menghidupkan firman Allah dalam diri mereka. Ketika kita hanya membawa tubuh ke hadirat Tuhan namun tidak memberikan hati kita kepadaNya, maka semua pujian, penyembahan dan firmanNya tidak akan hidup dalam kita. 

Mulai sekarang, ayo bawalah hati kita kepada Tuhan saat sedang meluangkan waktu kepadaNya. Mendekatlah kepadaNya dengan hati yang selalu lapar dan haus akan kasih dan firmanNya. Muliakanlah nama Tuhan dengan sungguh-sungguh dan segenap hati. Dengan demikian, kita bisa merasakan kalau Roh Allah hidup atas kita. 


Sumber : jawaban.com

Share this article :

Setiap Persoalan selalu ada Harapan dan Jawaban. Hubungi kami sekarang !

Owen 19 August 2018 - 12:31:02

Nats Alkitab yang bercerita tentang rapat

1 Answer

Devon ryanto 19 August 2018 - 12:22:57

Cara menang dari dosa pornografi?

1 Answer

Erwin Julio 16 August 2018 - 09:19:44

Putus cinta

1 Answer


Ridoe Perdana 14 August 2018 - 11:19:06
Saya mohon dukungan doa dalam masa pacaran agar di... more..

Fenfen 13 August 2018 - 18:10:19
Syalom sahabat2 semua, saat ini saya sedang ada pe... more..

Putri NT 1 August 2018 - 11:15:57
Damai sejahtera sahabat-sahabat semua. Saat ini sa... more..

Junedi fajri 18 July 2018 - 00:35:51
Saya minta didoakan agar bisa terlepas dari pengar... more..

Banner Mitra Week  3


7191

Gempa Lombok