Silahkan login terlebih dahulu sebelum
memasukkan pertanyaan Anda.

Register Login

believers24

Official Writer
1643


Sebagai pendeta bagian pernikahan dan pengasuhan anak di Gereja Lakewood Joel Osteen di Houston, Texas, Clayton dan Ashlee Hurst mengenal satu atau dua hal tentang hubungan. Mereka telah menikah lebih dari 20 tahun, memiliki dua orang anak, dan menasihati banyak pasangan tentang bagaimana mengembangkan pernikahan yang berpusat pada Kristus dan bermakna.

Namun, ada saat hubungan mereka tidak sehat.

"Kami berdua dibesarkan di rumah (keluarga) Kristen dan orang tua kami memiliki pernikahan yang stabil," kata Ashlee seperti dilansir laman ChristianPost. "Jadi kami menikah dengan berpikir itu akan mudah. Kami melakukan banyak usaha kepada hari pernikahan, tetapi tidak sampai hari-hari berikutnya. Perlahan, karena kurangnya pengetahuan tentang pernikahan itu sebenarnya, kami turun ke sebuah lembah tanpa harapan dan miskomunikasi, dan kesombongan."


Hanya dengan anugerah Tuhan, ujar Clayton, pernikahan mereka akhirnya bisa sembuh setelah lima tahun menderita. Kini, mereka ingin membantu orang lain menghindari perangkap dan jebakan yang kerap ditampilkan di film-film komedi romantis.

Hurst berbagi kisah perjuangan dan penderitaan mereka, penyembuhan dan pengampunan dalam buku baru mereka, Hope for Your Marriage: Experience God’s Greatest Desires for You and Your Spouse. Mereka menggabungkan pengalaman pribadi mereka dengan kebijaksanaan alkitabiah untuk mengatasi akar pembusukan pernikahan yang paling umum dan menguraikan perubahan kecil yang mudah dikelola yang dapat diterapkan untuk membuat pernikahan kembali ke jalur yang benar.

"Kami ingin orang tahu, 'Inilah yang kami lakukan, jangan lakukan ini,'" kata Ashlee. "Inilah hal-hal yang kami harap bisa kami ketahui untuk membantu orang lain di sepanjang jalan. Orang-orang yang berada di tempat tanpa harapan itu, kami ingin memberi mereka harapan."

Sudah lama dilaporkan bahwa setengah dari perkawinan Amerika Serikat berakhir dengan perceraian. Walaupun di kalangan pasangan Kristen jumlahnya termasuk rendah, itu tidak berarti mereka kebal terhadap masalah pernikahan.

"Kami terkejut dengan jumlah orang yang akan mendatangi kami di gereja setelah melayani dan meminta doa untuk pernikahan mereka," ungkap Clayton. "Pernikahan ternyata adalah hal nomor satu yang diminta orang untuk didoakan."

Begitu banyak pasangan menikah yang berjuang dengan sejumlah masalah, mulai dari kurangnya komunikasi dan ketidakpedulian terhadap konflik yang sedang terjadi, namun hal itu sebenarnya "selalu bermuara pada keangkuhan," kata Ashlee.


"Ada begitu banyak kesombongan yang dibangun di dalam pernikahan, dan kerendahan hati adalah langkah awal penyembuhan dalam hubunganmu," jelasnya. "Kami melihat keangkuhan dipromosikan di mana-mana dalam budaya, namun Alkitab sangat jelas tentang kerendahan hati dan dan bahaya kesombongan. Alkitab mengatakan, 'Kesombongan adalah awal kehancuran,' dan itulah yang terjadi dalam banyak pernikahan."

Dalam setiap sesi konseling, Clayton berkata, dia dan istrinya bertanya kepada pasangan yang ada di hadapan mereka: "Apakah kamu bersedia melakukan apapun yang diperlukan untuk memiliki pernikahan yang kamu harapkan dan idam-idamkan?"

"Kerendahan hati lahir dari kemauan," imbuh Clayton. "Apakah saya bersedia untuk meletakkan harga diri saya? Apakah saya bersedia memenuhi kebutuhan suami atau istri saya sendiri?"

"Dalam Efesus 5, dikatakan bahwa kita harus tunduk satu sama lain, dan itu tidak selalu mudah. Laki-laki dan perempuan berbeda, sebagian besar, otak kita dihubungkan dengan cara yang berbeda, dan disitulah masalah komunikasi menyelinap masuk. Akan tetapi akhirnya, kita berada di tim masing-masing, ketika dia menang, saya menang. Jika dia kalah, saya kalah. Kami dimaksudkan untuk bekerja sama. Itu adalah niatan Tuhan untuk pernikahan."

Baca Juga: Pernikahanmu Akan Jadi Lebih Kuat! Ini 3 Resolusi Tahun Baru 2018 yang Patut Dilakukan

Salah satu cara gereja dapat membantu mempersiapkan orang-orang Kristen dan pasangan yang terlibat untuk menikah adalah dengan membicarakan masalah keras dan sulit - seperti seks dan keintiman.

"Dewasalah, kamu selalu pernah mendengar, 'Tidak, tidak, tidak' jika menyangkut seks tetapi kamu tidak pernah mendengar 'mengapa' di baliknya," ujar Ashlee. "Seks itu disajikan sebagai sesuatu yang kotor dan buruk, dan jika kamu melakukannya, ada begitu banyak rasa malu. Di situlah saya menemukan diri saya begitu kita menikah, sulit bagi saya untuk menjadi intim karena saya memiliki semua luka ini dari masa lalu saya, dan butuh waktu bertahun-tahun sebelum saya membuka diri terhadap Clayton tentang hal itu. "

Dalam setiap sesi konseling, Ashlee menyatakan, bahwa mereka bekerja untuk menciptakan tempat yang aman di mana orang dapat membuka diri tentang masalah dan mengajukan pertanyaan yang rentan untuk mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan.

"Bukankah kita akan seperti setan bila kita tetap mengisolasi diri dan menganggap kita adalah satu-satunya (yang mengalami itu)? Kami ingin orang tahu mereka tidak sendiri, untuk mengajukan pertanyaan sensitif," imbuh Ashlee.

Ia juga memotivasi para pasangan lajang atau yang masih berpacaran untuk mempersiapkan diri mereka ke jenjang pernikahan dengan mempelajari Alkitab dan menyatakan kehidupan atas hubungan mereka saat ini dan masa depan (Yehezkiel 37:1-14).

Sementara itu, Clayton dan Ashlee sepakat bahwa sangat penting bagi suami-istri untuk menahan diri untuk tidak merasa puas saat berkaitan dengan pernikahan mereka.

"Jangan pernah berhenti belajar. Selalu menjadi murid satu sama lain, selalu menjadi mahasiswa pernikahan," saran Clayton. "Apakah kamu pengantin baru atau pasangan suami-istri yang sudah berpengalaman, temukan orang-orang yang telah lebih lama menikah (darimu), mentor yang bisa menantang dan membantumu tumbuh. Bahkan jika pernikahan kamu sudah begitu luar biasa hebat, masih ada tingkatan lain yang dapat kamu capai."

Sebagai penutup, Ashlee mengatakan, "Tuhan bisa menyelesaikan apa saja. Suatu hari jika ada pasangan di gereja kita yang berselingkuh: masih ada harapan di sana. Sepasang suami-istri yang benar-benar berusaha saling membunuh, masih ada harapan di sana. Pasangan sedang menghadapi tantangan karena memiliki anak yang autis, Masih ada harapan di sana. Selalu ada dan ada harapan."

Sumber : christianpost.com

Share this article :

Setiap Persoalan selalu ada Harapan dan Jawaban. Hubungi kami sekarang !

Christian 14 August 2018 - 10:38:46

prolegomena

0 Answer

Adhe Adhe 12 August 2018 - 14:31:24

Tdak mungkin bagi manusia.. Apalagi sya sdh melaku.. more..

1 Answer

Adhe Adhe 12 August 2018 - 13:58:09

Apakah hidupku bsa dpulihkan setelah aku melakukan.. more..

1 Answer


Ridoe Perdana 14 August 2018 - 11:19:06
Saya mohon dukungan doa dalam masa pacaran agar di... more..

Fenfen 13 August 2018 - 18:10:19
Syalom sahabat2 semua, saat ini saya sedang ada pe... more..

Putri NT 1 August 2018 - 11:15:57
Damai sejahtera sahabat-sahabat semua. Saat ini sa... more..

Junedi fajri 18 July 2018 - 00:35:51
Saya minta didoakan agar bisa terlepas dari pengar... more..

Banner Mitra Week 2


7188

Gempa Lombok