Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi menyerukan
kondisi darurat keamanan selama tiga bulan ke depan setelah serangan bom terjadi
di dua gereja Kristen Koptik Mesir sekaligus tepat saat perayaan Minggu Palma pada
Minggu, 9 April 2017. Serangan brutal bom
bunuh diri ini menewaskan setidaknya 44 orang dan lebih dari 100 orang luka-luka.
Ledakan pertama terjadi di Gereja St
George di kota Delta Nil Tanta dan menewaskan sedikitnya 27 orang dan 78 lainnya
luka-luka. Ledakan terjadi di dalam gereja dan seperti yang tampak dalam pemberitaan bagian ruang gereja dipenuh tubuh tak bernyawa yang berceceran darah.
Menyusul satu jam kemudian ledakan yang terjadi
di Katedral St. Mark di pesisir Alexandria, Mesir. Serangan ini terjadi setelah
Paus Tawadros II, pemimpin Gereja Ortodoks Koptik Aleksandria baru saja selesai
memimpin ibadah Minggu Palma. Akibatnya dari serangan ini sedikitnya 17 orang tewas termasuk tiga diantaranya adalah polisi dan 48 lainnya luka-luka.
Sesaat setelah serangan, departemen keamanan
Mesir segera membentuk ruang gawat darurat. Presiden el-Sisi juga memerintahkan rumah sakit militer dioperasikan untuk proses perawatan korban.
Seperti diketahui, serangan yang terjadi di
kota Tanta, Aleksandria ternyata sudah yang kedua kalinya terjadi dalam kurun
waktu 10 hari terakhir. Pasalnya, tepat pada 31 Maret lalu, serangan bom serupa terjadi di pusat pelatihan kepolisian Mesir dan menyebabkan 16 orang luka-luka.
Menanggapi pernyataan media tersebut, Presiden
el-Sisi dengan tegas mengutuk pelaku karena telah menimbulkan kekacauan terhadap
kestabilan di negaranya. “Mesir telah menggagalkan rencana dan upaya dari beberapa
negara dan fasis, organisasi teroris yang mencoba mengendalikan Mesir,” ucap el-Sisi.
Pemimpin tinggi Islam Sunni Mesir, Imam
Besar Ahmed el-Tayeb bahkan mengutuk serangan itu. Dia menyebut serangan itu sebagai ‘bom terorisme keji’ yang ditargetkan kepada warga sipil yang tidak berdosa.
ISIS mengaku bertanggung jawab atas serangan Mesir
Kantor berita Aamaq memberitakan bahwa
kelompok teroris ISIS telah mengakui sebagai dalang di balik dua serangan gereja
Mesir tersebut. Hal ini diketahui setelah ISIS menayangkan sebuah video yang berisi ancaman serangan terhadap kelompok Kristen di Mesir.
ISIS juga telah mengakui serangan sebelumnya
yang terjadi di Katedral Ortodoks Koptik St Mark di Kairo pada bulan Desember 2016 lalu, yang menewaskan sekitar 30 orang.
Dikhawatirkan serangan saat ini menjadi dampak
dari peperangan yang dilakukan ISIS terhadap pasukan keamanan di Semenanjung
Sinai. Sehingga ISIS memindahkan fokus serangan kepada warga sipil Mesir.
“Teroris kembali menyerang Mesir lagi, kali
ini di hari Minggu Palma. Sesuatu yang menjengkelkan tapi upaya yang gagal melawan
semua orang Mesir,” kata Ahmed Abou Zaid, juru bicara Kementerian Luar Negeri Mesir.
Ini adalah serangan bom yang dilakukan ISIS
untuk yang kedua kalinya terhadap gereja Kristen Koptik Mesir selama enam bulan
terakhir.