Rusia Ajukan Petisi Untuk Larang Saksi Yehuwa Karena Dianggap Kelompok Ekstrimis

Rusia Ajukan Petisi Untuk Larang Saksi Yehuwa Karena Dianggap Kelompok Ekstrimis

Puji Astuti Contributor
8543

Kementrian Hukum Rusia pada Rabu (15/3/2017) lalu secara resmi mengajukan petisi ke Mahkamah Agung negara tersebut untuk melarang keberadaan Saksi Yehuwa karena dianggap sebagai kelompok ekstrimis. Menurut Moscow Times, Saksi Yehuwa sudah dilarang di delapan wilayah Rusia. Petisi yang diajukan oleh Kementerian Hukum tersebut adalah langkah untuk menutup kantor pusat mereka di dekat St.Petersburg yang sejak awal 2016 lalu sudah dilabeli sebagai "aktivitas ekstrimis."

Pengajuan banding dari pihak Saksi Yehuwa telah ditolak oleh pihak berwenang pada Januari 2017 sehingga membuka jalan untuk pemerintah untuk melakukan penutupan secara menyeluruh atas aliran Saksi Yehuwa ini. 

Jika Mahkamah Agung meloloskan petisi tersebut, maka keberadaan Saksi Yehuwa di Rusia akan menjadi sesuatu yang ilegal. 

"Keputusan Mahkamah Agung terhadap klaim kementerian akan berdampak mengerikan bagi Saksi Yehuwa di Rusia. Saksi Yehuwa akan kehilangan properti yang didedikasikan untuk beribadah, sekitarl 400 badan hukum akan dibubarkan, dan lebih dari 170.000 saksi akan di anggap kriminal hanya karena mengadakan pertemuan ibadah, membaca Alkitab bersama, atau menceritakan iman mereka kepada orang lain," demikian pernyataan dari kelompok Saksi Yehuwa Rusia. 

Menurut salah satu jemaat, keberadaan Saksi Yehuwa di Rusia sudah mengalami penolakan sejak 100 tahun lalu. Mereka mengkuatirkan nasib anak cucu mereka yang akan menghadapi penganiayaan karena kepercayaan mereka. 

Perbedaan Saksi Yehuwa dan kekristenan secara keseluruhan

Menurut berita yang dikuti Christianpost.com dari laman Saksi Yehuwa, aliran ini memiliki jemaat sekitar  8 juta yang tersebar di berbagai belahan dunia. Mereka percaya pada Tuhan yang Maha Kuasa yang ada di Alkitab yang bernama Yehuwa. Mereka mengikuti pengajaran Yesus dan percaya bahwa Dia adalah Juru Selamat dan Anak Allah, namun Yesus bukanlah Tuhan. 

"Kami pelajari bahwa dokrin Trinitas tidak memiliki dasar Alkitabiah," demikian tulis kelompok ini dalam websitenya. 

Saksi Yehuwa percaya bahwa Alkitab pesan Tuhan yang diinspirasikan kepada manusia, namun mereka tidak mempercayai segalanya harus diartikan secara literal. "Kami melihat bahwa beberapa bagian dari Alkitab ditulis dalam bentuk kiasan dan simbol, dan tidak bisa diartikan secara harfiah." Mereka tidak melakukan perpuluhan, atau persembahan saat ibadah, mereka tidak percaya adanya neraka dan juga tidak melakukan transfusi darah. 

Pihak berwenang menolak keberadaan Saksi Yehuwa menyebut mereka sebagai ekstrimis karena dianggap menyebarkan kebencian kepada kelompok agama lain, dan menyatakan bahwa Saksi Yehuwa sebagai satu-satunya "iman" yang benar. 

Sumber : Christianpost.com
Halaman :
1

Ikuti Kami