Mengulik Sejarah di Balik Penetapan Natal 25 Desember

Mengulik Sejarah di Balik Penetapan Natal 25 Desember

Lori Official Writer
6176

Ketika berbicara soal festival keagamaan, kita sering kali sulit memisahkan antara sejarah dan tradisi. Sementara Alkitab tidak benar-benar mengungkapkan bulan, tanggal atau bahkan tahun kelahiran Yesus sendiri. Namun para peneliti dan ahli mampu mengumpulkan beberapa narasi dari fakta Natal pertama terjadi ribuan tahun silam dengan menetapkan 25 Desember sebagai Natal yang dirayakan untuk pertama kali oleh Gereja Katolik.

Bagi orang Kristen, Natal adalah hari besar paling penting setelah Paskah, yang menjadi perayaan kebangkitan Yesus yang begitu fenomenal sepanjang sejarah. Sementara dalam kalender modern yang disebut dengan Kalender Gregorian, yang awalnya dikembangkan oleh Paus Gregorius XIII pada tahun 1582, sebenarnya didasarkan pada kelahiran Yesus. Singkatan dari penanda jaman Masehi dan Sebelum Masehi masih digunakan saat ini sebagai tolak ukur sejarah dari ‘Sebelum Kehadiran Kristus’ dan anno Domini (dalam bahasa Latin artinya Tahun Kehadiran Kristus).

Penetapan pertama Natal pada 25 Desember ditemukan di kalender Romawi pada tahun 336 Masehi. Sebelum itu, Gereja mengikuti perayaan Epiphany yang dirayakan setiap 6 Januari. Perayaan ini sekaligus sebagai penanda libur panjang setiap musimnya.

Perayaan ini juga diikuti dengan festival Three King’s Day, yang mengakui kunjungan dari tiga orang Majus untuk menyaksikan kelahiran Yesus di Nazareth serta pembaptisan Yesus oleh nabi Yohanes Pembaptis di Sungai Yordan.

Lalu siapa sebetulnya tokoh di balik penetapan Natal pada 25 Desember? Sejarawan telah membuktikan bahwa penetapan Natal yang sekarang ini kita rayakan adalah pihak Gereja Katolik. Dalam sejarahnya, tanggal tersebut dipilih karena bertepatan dengan peristiwa titik balik matahari musim dingin di Kalender Julian, kanlender terdahulu sebelum Kalender Gregorian yang masih diikuti oleh denominasi Kristen Ortodoks Timur. Peristiwa kelahiran matahari, yang dipercayai oleh kaum pagan ini akhirnya menggerakkan gereja untuk memilih tanggal 25 Desember sebagai perayaan Natal untuk membelotkan kepercayaan kaum pagan.

Kendati begitu, sebagian gereja tetap tidak setuju karena justru menggunakan tradisi kaum pagan sebagai momen untuk merayakan hari kelahiran sang juruslamat.

Kendati hampir seluruh gereja akhirnya mengikuti penetapan kalender ini, namun tidak semua orang Kristen yang ikut merayakan Natal pada 25 Desember. Karena denominasi Kristen Ortodoks Timur masih mengikuti kalender Julius, dimana Natal dirayakan malah pada bulan Januari. Sementara Kristen Armenia merayakan Natal pada 6 Januari tepat saat perayaan Epiphany.

Terlepas dari benar tidaknya tanggal dan bulan kelahiran Yesus, kita patut bersyukur bahwa penetapan Natal yang jatuh setiap tanggal 25 Desember ini bisa menjadi momen bagi seluruh umat Tuhan duduk bersama-sama dan merasakan sukacita yang sama memperingati kelahiran sang juruslamat dunia.

Sumber : Ibtimes.com/jawaban.com
Halaman :
1

Ikuti Kami