Mulailah Berkencan, Bila Sudah Siap …

Mulailah Berkencan, Bila Sudah Siap …

Budhi Marpaung Official Writer
3913
Kapan waktu yang tepat untuk berkencan dengan lawan jenis? Apakah kesiapan itu bisa dilihat dari umur atau kemapanan yang dimiliki saat ini atau ada hal lain? Kira-kira apa yang akhirnya membedakan orang-orang Kristen yang lajang dengan yang bukan orang-orang percaya?

Marshall Segal, staff penulis sekaligus managing editor dari desiringGod.org, mengungkapkan bahwa seringkali orang-orang begitu cepat untuk melakukan kencan adalah karena pada dasarnya mereka ingin bahagia, merasa dimiliki, dan dianggap (memiliki nilai bagi orang lain). Keinginan tersebut diperkuat dengan pemikiran bahwa semua itu akan didapatkan bila mereka memiliki keintiman dengan orang teristimewa di hati mereka.

Marshall Segal mengingatkan bahwa hati-hati dengan impian tersebut karena iblis bisa menggunakannya untuk menjerat kita (seluruh anak Tuhan yang single/lajang). Oknum jahat itu membuat perangkap agar kita jatuh ke dalam dosa dan terus menerus hidup di dalam penyesalan nantinya.

Oleh karena itu, Marshall Segal menyarankan agar para lajang Kristen memulai berkencan apabila kedua belah pihak (sang pria dan gadis) telah siap untuk menikah. Siap menikah di sini berarti Anda memiliki alasan kuat menjadikan orang tersebut sebagai suami/istri.

Lalu kalau begitu, apa yang harus dilakukan saat ini? Mengingat kita belum siap menikah tapi memiliki hasrat besar untuk menjalin kasih dengan lawan jenis. Berikut empat hal yang bisa dikerjakan:

1. Berikan contoh yang berani dan setia bagi orang lain.

Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” (I Timotius 4:12)

Kita mungkin belum berbicara dengan tepat soal mengasuh atau membuat anak berhasil atau membuat pernikahan berhasil bekerja selama puluhan tahu, tetapi kita dapat hidup untuk mengatakan sesuatu tentang Yesus. Lewat apa? Perkataan, tingkah laku, kasih, dan kesucian yang kita pegang senantiasa.

2. Hidup untuk melayani, bukan dilayani.

“Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah. Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah; jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. Ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin.” (I Petrus 4:10-11)

Seringkali karena kemudahan-kemudahan hidup yang kita dapatkan akibat kemajuan teknologi, kita jadi orang yang maunya selalu dilayani. Namun, cobalah untuk menengok sebentar, anak-anak muda atau orang-orang yang berprestasi mengharumkan nama kota dan bahkan negara ini.

Bagaimana jika kita gunakan talenta yang Tuhan berikan untuk membawa perubahan di kehidupan orang lain? Anda bisa menjadi seorang pelayan ibadah minggu di gereja, pemimpin kelompok sel, atau menjadi seseorang yang dibutuhkan sekitar Anda. Dengan kata lain, hiduplah untuk memuliakan Tuhan dan membuat nama-Nya ditinggikan oleh orang-orang sekitar karena kita.

3. Berusaha untuk menjadi pasangan masa depan sebagaimana yang Tuhan kehendaki.

Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami  dalam segala sesuatu. Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya. (Efesus 5:22-25)

Beberapa dari kita sejak kecil mungkin begitu menginginkan untuk menikah, tetapi tidak ada satupun dari kita yang sejak kecil langsung siap untuk menikah. Panggilan untuk mengasihi pasangan adalah panggilan terbaik sepanjang masa / sejarah – Allah sendiri datang ke dunia sebagai manusia untuk menebus dosa kita (yang disebut sebagai pasangan-Nya). Secara natur sebagai manusia, meskipun begitu besar kasih kita kepada orang yang kita cintai, tetapi itu tidak membuat kita mau memberikan nyawa kepada orang lain.

Sampai siap untuk menikah, Allah akan membuat kita untuk mengasihi sebagaimana yang Dia kehendaki, dan akan mengubah kita menjadi serupa dengan-Nya (2 Korintus 3:18).  

4.  Buat semua orang di sekitar tertegun dengan memancarkan sukacita.

“Sebab itu sejak waktu kami mendengarnya, kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu. Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna, sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah, dan dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar,” (Kolose 1:9-11)

Pada umumnya, orang-orang sekitar tidak perlu jauh-jauh untuk bisa melihat wajah muram para pria atau perempuan lajang. Wajah-wajah tersebut biasanya bisa mereka ketahui di dekat mereka. Sulit untuk menemukan para single yang bersemangat untuk menemukan identitas, kebahagiaan, dan rasa aman di tempat lain.

Kejutkan orang-orang itu dengan menjadi pribadi yang tetap bersukacita di masa-masa tanpa pasangan dan bahkan kencan, karena kita mengetahui apa yang kita butuhkan ada di dalam Tuhan.

Sumber : desiringGod.org
Halaman :
1

Ikuti Kami