Apakah Hidup Kudus Menghalangi Untuk Menikmati Kebahagiaan?

Apakah Hidup Kudus Menghalangi Untuk Menikmati Kebahagiaan?

Puji Astuti Official Writer
7945

1 Petrus 1:14-16

Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.

Jika membaca ayat di atas, Anda mungkin berpikir bahwa mengikut Kristus menghidupi pengajaran-Nya adalah sebuah kemustahilan. Lebih lagi, muncul pertanyaan, "Apakah kita bisa merasa bahagia dengan hidup kudus?"

Kecenderungan manusia adalah mengikuti hawa nafsu dan keinginannya, banyak diantaranya seringkali membawa manusia jatuh ke dalam berbagai pencobaan dan dosa. Namun dari sudut pandang mereka, apa yang mereka lakukan adalah kebahagiaan karena dapat memuaskan hawa nafsunya.

Namun tahukah Anda, bahwa hidup dalam hawa nafsu dan keinginan diri sendiri adalah kebahagiaan yang beracun karena akan berujung kepada kehancuran bahkan kebinasaan. Sebaliknya, hidup dalam kekudusan adalah mengejar kebahagiaan sejati. Namun banyak orang percaya melihat sebaliknya, perintah untuk hidup kudus dipandang sebuah pengekangan sehingga membuat mereka merasa berat dan sulit saat menjalaninya.

Jadi apakah tetap bisa bahagia ketika hidup dalam kekudusan? Jawabannya pasti bisa.

Dalam 2 Korintus 6:41 (FAYH) dituliskan "Dan sekarang, ya TUHAN Allah, bangkitlah serta masuklah ke tempat perhentian-Mu tempat tabut perjanjian TUHAN, lambang kekuasaan-Mu. Biarlah para imam-Mu mengenakan jubah keselamatan, ya TUHAN Allah. Biarlah orang-orang kudus-Mu bersukacita atas segala kebaikan-Mu. "

Jadi orang-orang yang hidup dalam kekudusan mereka mengalami sukacita, namun bukan sekedar karena keinginan mereka terpenuhi, tetapi karena pusat kehidupannya adalah Tuhan, dan mereka bisa mensyukuri setiap hal yang ada dalam hidup mereka dengan menyadari bahwa semua itu karena kebaikan Tuhan.

Bisa ditegaskan bahwa Tuhan itu anti terhadap dosa, Dia tidak mengijinkan dosa ada di hadapannya. Tetapi Tuhan tidak anti terhadap kebahagian dan sukacita, bahkan Tuhan menginginkan umat-Nya hidup dalam sukacita yang sejati (Mazmur 16:11).

Hidup kudus adalah hal bodoh?

Hari-hari ini standar moralitas mulai bergeser, sehingga standar kebenaran sering dianggap sebagai kebodohan. Mereka yang mengejar kebahagiaan akan diperhadapkan dengan sebuah kebohongan yang ditabur oleh si jahat : hidup dalam kebahagian dan menikmati dosa, atau hidup kudus dalam penderitaan dan tekanan.
Pada hal kenyataannya adalah sebaliknya, saat Anda hidup dalam kebenaran dan kekudusan, Anda merdeka dan tidak lagi dalam perhambaan dan keterikatan. Inilah hidup dalam kemaksimalan, dimana kebahagiaan bukan sekedar menimati minuman keras, menjalani kehidupan malam, memiliki kelimpahan harta tanpa peduli caranya, dll. Sebaliknya dalam kekudusan Anda akan mengalami sukacita bukan karena faktor diluar kita, namun karena hati kita dipenuhi kasih Allah.

Charles Spurgeon pernah berkata, "Kekudusan adalah jalan mulia menuju kebahagiaan. Kematian dosa adalah hidupnya sukacita."


Apakah artikel ini memberkati Anda? Jangan simpan untuk diri Anda sendiri. Ada banyak orang di luar sana yang belum mengenal Kasih yang Sejati. Mari berbagi dengan orang lain, agar lebih banyak orang yang akan diberkati oleh artikel-artikel di Jawaban.com seperti Anda. Caranya? Klik disini.


Sumber : Crosswalk.com | Jawaban.com | Puji Astuti

Ikuti Kami