6 Kesalahan Investasi Beresiko Tinggi Menurut Warren Buffet

6 Kesalahan Investasi Beresiko Tinggi Menurut Warren Buffet

Puji Astuti Official Writer
30906

Satu hal yang pasti dari sebuah investasi adalah resiko, jadi jika Anda melakukan investasi harus siap untuk menghadapi resiko kerugian. Terlebih jika Anda melakukan investasi di saham dan reksadana, instrumen insvestasi ini mengalami naik dan turun yang kadang terjadi dengan cepat dan tidak terprediksi. Gejolak yang terjadi tersebut, seringkali memicu rasa takut investor yang membuat mereka  melakukan kesalahan. Berikut adalah 6 kesalahan yang sering dilakukan investor menurut Warren Buffet :

1. Menyimpan uang tunai dalam jangka panjang

Banyak orang takut dengan fluktuasi di pasar saham sehingga memilih untuk menyimpan uang tunai dalam jangka panjang. Buffet mengakui bahwa "Menyimpan dana dalam bentuk ekuitas selama satu hari atau satu minggu atau satu tahun lebih beresiko (baik secara nominal dan daya beli) dibandingkan menyimpannya dalam bentuk tunai," namun dia berpendapat bahwa hal tersebut jauh berbeda dalam jangka panjang. "Karena dalam jangka panjang, nilai uang Anda akan mengalami erosi karena inflasi, hal itu lebih menghancurkan dibandingkan fluktuasi jangka pendek yang terjadi di pasar saham," demikian terang Buffet.

Karena inflasi, nilai uang akan berkurang sekitar 15 hingga 25 persen dalam sepuluh tahun, hal itu jauh lebih besar dari jatuhnya nilai saham dalam jangka waktu yang sama. Bandingkan jika Anda melakukan investasi dalam jangka waktu 10 tahun lalu pada saham-saham perusahaan berkelas seperti dalam S&P 500, Anda akan menerima lebih dari dua kali lipat karena deviden yang diinvestasikan selama kurun waktu itu, sekalipun pasar saham sempat mengalami krisis di tahun 2008.

Saran : Cocokkan investasi dengan jangka waktu yang Anda miliki. Setiap uang yang Anda butuhkan dalam waktu 5 tahun ke depan, simpanlah dalam cadangan kas tunai. Namun jika tidak diperlukan investasikan dalam saham dan juga obligasi untuk meredam gejolak yang terjadi.

2. Tidak melakukan diversifikasi

Kesalahan lain yang sering dilakukan adalah melakukan investasi terlalu banyak di satu saham, terutama diperusahaan tempat mereka bekerja. Ada banyak alasan mengapa orang melakukan hal ini, dan hal tersebut tetap bukan sebuah keputusan yang bijak. Jika Anda hanya investasi pada satu saham atau satu jenis saham, Anda bisa kehilangan semua investasi Anda. Karena terkadang karena satu dan lain sebab sebuah saham itu tidak bisa bangkit lagi.

Saran : Pastikan anda memiliki setidaknya 30 sampai 50 saham individual (dengan tidak lebih dari 15% setiap sahamnya) dari berbagai variasi industri atau bertahan di satu reksadana yang melakukan diversifikasi saham dengan uang Anda.

3. Menunggu "waktu" yang tepat

Ini adalah alasan yang umum diberikan ketikan investor menunda investasnya, mereka menantikan ketika pasar sedang turun untuk membeli saham. Memang benar bahwa pasar pasti akan turun, namun tidak seorangpun tahu hal itu kapan terjadi. Buffet menjelaskan seperti ini, "Apa saja bisa terjadi di pasar. Tidak penasihat, ekonom atau komentator TV - dan pasti bukan Charlie Munger atau saya - bisa memberitahu Anda kapan kekacauan akan terjadi. Pengamat pasar bisa mengisi telinga Anda namun tidak bisa mengisi dompet Anda."

Tapi bagaimana Anda bisa tahu kapan harus melakukan investasi? Terlalu awal maka Anda akan rugi, namun jika terlambat Anda akan kehilangan momen dan harus menunggu lagi ketika pasar turun.

Saran : Dari pada menunggu pasar turun (yang tidak pernah dilakukan bahkan oleh investor sekelas Warren Buffet), waktu Anda masuk ke pasar itulah yang penting.

"Pada abad ke-20, Amerika Serikat mengalami dua perang dunia dan konflik militer yang traumatis dan mahal; Depresi; selusin resesi dan kepanikan keuangan; goncangnya harga minyak; wabah flu dan pengunduran diri presiden yang dipermalukan. Namun Dow naik dari 66 jadi 11,497." (Dow Jones Industrial Average baru-baru ini harganya ditutup dinilai 18,203).

4. Melakukan perdagangan aktif

Banyak orang mencoba peruntungannya dengan melakukan perdagangan aktif untuk mendapat keuntungan dari fluktuasi yang terjadi di pasar saham. Namun jika manager investasi profesional yang banyak berasal dari sekolah bisnis terkenal dengan akses kepada hasil riset terbaru dan tim analis yang cerdas tidak bisa mengalahkan pasar secara konsisten, apa yang membuat Anda berpikir bisa melakukannya? Dari pada mencoba menaklukan pasar saham, batasi jual beli pada portfolio yang cocok dengan jangka waktu Anda dan resiko yang bisa ditoleransi, atau berpindah dari saham dengan biaya yang tinggi kepada saham berbiaya rendah.

5. Membayar biaya yang terlalu tinggi untuk manajer dan penasihat investasi

Banyak orang tidak memperhatikan biaya jual beli untuk reksadana atau saham. Beberapa jenis saham mematok harga biaya ini cukup tinggi, bahkan ada yang hingga 5-6 % dari uang investasi kita dan hal itu masuk ke kantong broker yang menjual saham tersebut. Namun dalam jangka panjang, biaya ini bisa lebih rendah. Sedangkan untuk biaya penasihat investasi biasanya mencapai 1%.

Saran : Anda bisa meminimalkan biaya ketika melakukan diversifikasi dan menyederhanakan investasi ke dalam  bentuk reksadana.

6. Lakukan investasi dengan uang pinjaman

Hanya sedikit melakukan investasi dengan uang pinjaman, karena menyadari hal ini sangat beresiko. Jika Anda meminjam ke bank untuk melakukan investasi, bisa jadi jikapun investasi anda berhasil, keuntungan yang didapat hanya bisa untuk menutup bunga pinjaman.

Saran : Jangan melakukan investasi dengan uang pinjaman dan jangan melakukan investasi jika Anda masih memiliki hutang.

Jadi daripada kuatir dengan fluktuasi di pasar saham, fokuslah untuk menghindari melakukan 6 kesalahan di atas. Jika Anda berhasil melakukan investasi jangka panjang seperti yang dilakukan Warren Buffet, berharaplah hasilnya akan sama seperti yang dia terima.

Sumber : Forbes.com | Jawaban.com | Puji Astuti
Halaman :
1

Ikuti Kami