‘Efek Domino’ Konflik Keluarga Pada Anak

‘Efek Domino’ Konflik Keluarga Pada Anak

Theresia Karo Karo Official Writer
5969
Menurut salah satu ensiklopedia bebas, efek domino merupakan sebuah metafora dari kejadian beruntun dan berkaitan akibat dua peristiwa atau lebih. Sama seperti sebuah rangkaian domino yang diletakkan sejajar satu dengan yang lain, saat satu rangkaian dijatuhkan, domino lainnya juga turut terjatuh. Inilah yang disebut sebagai efek domino.

Efek domino inilah yang terjadi pada perkembangan anak lelaki bila dibesarkan dalam keluarga penuh konflik dan kekerasan. Inilah yang menjadi penyebab anak rentan mengalami masalah perilaku dan berpotensi mengulang perilaku yang sama saat mereka memiliki keluarga sendiri kelak.

Sedangkan hal yang sebaliknya terjadi. Saat anak dididik dalam keadaaan keluarga yang kondusif, mereka akan melakukan hal yang serupa pada keluarganya dengan menghindari konflik. Keluarga merupakan pondasi utama dalam membentuk kepribadian anak lelaki. Melalui nilai-nilai yang diajarkan oleh keluarga, pribadi anak akan terbentuk dan turut menentukan pribadinya saat dewasa kelak.

Sebuah survei oleh Rifka Annisa, anggota LSM yang bergerak di bidang pemberdayaan perempuan dan global IMAGES (International Men and Gender Equality Survey) menemukan bahwa anak laki-laki yang dibesarkan dalam keluarga yang penuh konflik dan kekerasan rentan mengalami masalah perilaku.

Beberapa diantaranya seperti, terlibat dalam geng, ketergantungan alkohol dan obat-obatan terlarang, hingga perilaku kekerasan seperti tawuran atau kekerasan terhadap pasangan saat mereka dewasa. Studi yang berlangsung sejak September 2012 hingga Juli 2013 ini melibatkan 2.500 responden lelaki berusia 18 – 49 tahun yang berasal dari Jakarta, Purworejo, dan Jayapura.

Dalam “Konferensi Membangun Ketahanan Keluarga Melalui Pencegahan KDRT dan Pernikahan Usia Anak”, yang digelar di Jakarta pada Senin lalu (13/4), Rifka memaparkan hasil penelitiannya. Sebanyak 25 persen laki-laki di Purworejo, 33 persen di Jakarta, dan 59 persen di Jayapura, mengaku pernah melakukan kekerasan fisik maupun seksual terhadap pasangannya.

Menurut penelitian, riwayat kekerasan saat masih anak-anaklah memicu perilaku kekerasan ketika dewasa. Selain itu diketahui bahwa kekerasan yang paling umum dialami responden adalah kekerasan verbal. Misalnya diteriaki, direndahkan di depan umum, atau diabaikan.

Oleh sebab itu, untuk menghindari efek domino ini, studi menegaskan bahwa peran pengasuhan dalam keluarga dan pandangan laki-laki dalam membangun relasi dalam keluarga menjadi hal vital untuk mencegah perilaku kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan membangun ketahanan keluarga.


Sumber : Beritasatu/Jawaban.com by tk
Halaman :
1

Ikuti Kami