Terlalu Terobsesi, Pertanda Gangguan Obsesif Kompulsif

Terlalu Terobsesi, Pertanda Gangguan Obsesif Kompulsif

Lori Official Writer
18941
Seseorang dapat melakukan sesuatu secara berulang-ulang disertai dengan kecemasan berlebihan merupakan pertanda gangguan Obsesif Kompulsif atau Obsessive-Compulsive Disorder (OCD). Ini adalah kelainan psikologi yang menyebabkan seseorang memiliki pikiran obsesif dan perilaku yang bersifat kompulsif.

Kelainan ini ditandai dengan pikiran dan ketakutan yang tidak masuk akal yang mengakibatkan kebiasaan melakukan sesuatu secara berulang. Misalnya, kebiasaan seseorang yang merasa harus memeriksa pintu dan jendela lebih dari tiga kali sebelum memutuskan untuk tidur di malam hari.

Seseorang yang mengalami gangguan ini biasanya akan ditandai dengan gejala yang berbeda-beda. Gangguan yang masih terbilang ringan hanya akan menghabiskan sekitar satu jam bergelut dengan pikiran obsesif dan kompulsif. Sedang seseorang yang sudah mengalami gangguan yang parah, seluruh kehidupannya cenderung dikendalikan oleh OCD.

Penderita OCD akan mengalami keterpurukan dalam menghadapi pikiran dan perilakunya sendiri. Biasanya mereka akan menghadapi empat tahap perilaku, seperti :

- Obsesi : Pikiran ini muncul saat pikiran penderita terus dikuasai oleh perasaan takut atau cemas.

- Kecemasan : Saat sudah mengalami obsesi, rasa cemas akan semakin meningkat dan memacu aksi selanjutnya, yaitu tindakan kompulsif atau melakukan sesuatu secara berulang-ulang.

- Kompulsi : Akibat dorongan kecemasan yang menguasai, penderita OCD biasanya akan melakukan sesuatu hal tak cukup hanya sekali saja hingga perasaan aman dan lega muncul.

- Kelegaan sementara : Ini adalah hasil tindakan konfulsif yang dilakukan penderita OCD. Mereka akan merasa lega sejenak waktu. Perilaku kompulsif tersebut akan membuat penderita merasa lega untuk sementara, tapi obsesi serta kecemasan akan kembali dan membuat penderita mengulangi pola tersebut.

Seperti dikutip dari Psychologymania.com, gangguan ini disebabkan oleh banyak faktor, yaitu faktor genetic dengan riwayat keluarga yang berisiko mengalami OCD; faktor organik atau kelainan saraf di bagian otak tertentu; faktor kepribadian yang berobsesi tinggi sangat rentan terkena OCD; pengalaman masa lalu yang membuat seseorang trauma dan cemas berlebihan serta depresi dan stress juga sangat berisiko menyebabkan OCD.  

Gangguan Obsesif Kompulsif ini bisa disembuhkan dengan cara penanganan yang serupa dengan penderita stress atau depresi, yaitu dengan menjalani cognitive-behavioural theraphy (CBT) serta mengkonsumsi obat-obat medis yang dilakukan secara bersamaan dalam masa perawatan penderita OCD. Obat medis yang dikonsumsi dalam pengobatan OCD seperti Selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs) (Flouxetine (Prozac), sertraline (Zoloft), escitalopram (Lexapro), paroxetine (Paxil) dan citalopram (Celexa).


Bagi Anda yang terserang penyakit dan membutuhkan dukungan doa serta konsultasi secara personal, dapat menghubungi kami di counseling center kami: 0-800-151-3344 (bebas pulsa) atau email/live chat di kotak bertanda di bawah artikel ini. Kami siap melayani Anda 24 jam setiap hari.

Sumber : Psychologymania.com/jawaban.com
Halaman :
1

Ikuti Kami