Kisah Pasangan Misionaris Korsel Korban Pesawat Air Asia

Kisah Pasangan Misionaris Korsel Korban Pesawat Air Asia

Lori Official Writer
9927
Pasangan suami istri asal Korea Selatan (Korsel)  yang menjadi korban jatuhnya pesawat Air Asia QZ 8501 akhir pekan lalu (28/12), diketahui ternyata misionaris Kristen. Park Seong-beom (37) dan istrinya Lee Kyung-hwa ditugaskan di Kota Malang, Jawa Tengah sejak September 2014 lalu.

Park adalah seorang misionaris yang dikirim oleh Gereja Yeosu First Presbyterian, Korea Selatan. Sedang Lee, misionaris yang dikirim oleh gereja asalnya di Seoul. Sembari melayani, mereka juga mengajar bahasa Korea dan Komputer di Malang.

“Park dan istrinya baru dua bulan berada di tempat penempatan tugas dan baru menginjakkan tempat itu,” terang Kim Jong-heon, pendeta Gereja Yeosu First Presbyterian, seperti disampaikan kepada Asia News, Senin (29/12).

Lee, yang berasal dari kota Seoul itu sudah tinggal beberapa tahun lamanya sebagai misionaris di Indonesia. Dan dia memutuskan untuk membawa serta keluarganya ke Indonesia. Keluarga baru ini bahkan baru dianugerahi seorang putri bernama Park Yuna, yang baru saja berusia 9 bulan.

Berdasarkan informasi yang disampaikan pihak Gereja Yeosu First Presbyterian, mereka berangkat ke Singapura dalam rangka pengurusan visa. Hingga peristiwa nahas itu terjadi dan belum diketahui kabar pasti keberadaan keluarga ini.

Untuk diketahui, pasangan misionaris ini sudah dikenal luas diantara keluarga Kristen Korea di berbagai belahan daerah dan negara. Pasalnya, gereja asal mereka kerap mengiriman misionaris ke berbagai belahan negara. Seperti di akhir tahun 2013 lalu, Persekutuan Misionaris Dunia di Korea bahkan sudah mengirimkan sebanyak 26.000 misionaris ke 169 negara.

Park lahir dan besar di Yeosu. Ia adalah lulusan Universitas Phnom Penh, yang masuk melalui Agen Koperasi Internasional Korea, sebuah program pemerintah Korea Selatan serupa dengan program Peace Corps di Amerika Serikat. Sebelum ke Indonesia, Park melayani di Cambodia pada usia 30-an selama lima tahun, dan kembali ke Korea untuk menerima tugas ke Asia Tenggara.

Di mata keluarga dan kerabat, Park dinilai sebagai sosok yang sangat bersemangat dan taat. Dia terlibat dalam kegiatan sekolah Minggu sejak duduk di sekolah menengah pertama (SMP).  “Ketika saya mendengar berita (tentang pesawat Air Asia), saya sangat sedih,” ucap Lee Jang-ho, pendeta Gereja Presbyterian yang pernah melayani di Malang pada tahun 1988 hingga 1996.

Pendeta senior Gereja Youse First Presbyterian, Kim Sung-chun menyampaikan bahwa saat pertemuan paroki, mereka berdoa bagi pasangan tersebut dan mengumumkan keputusan Park untuk fokus melayani dari Cambodia ke Indonesia. Tak lama setelah itu, mereka lalu berangkat ke Malang.

Sumber : Wsj.com/jawaban.com/ls

Ikuti Kami