Ayah, Jadilah Kepala Keluarga Idaman

Ayah, Jadilah Kepala Keluarga Idaman

Puji Astuti Official Writer
5260
Pada tulisan kali ini penulis ingin mengajak Anda sekalian yang membaca tulisan ini untuk merenungkan arti perkataan keluarga dan makna yang tersirat dalam perkataan "kepala" dari sebuah keluarga yang ada. Apakah keluarga itu? Keluarga adalah suatu kesatuan yang terdapat dalam masyarakat yang terdiri dari suami, isteri dan anak-anak yang hadir sebagai buah pernikahan yang diberikan Tuhan atas keluarga tersebut. Kehadiran anak tidak merubah fungsi dasar sebuah keluarga! Sebuah keluarga tetap merupakan keluarga tanpa atau dengan anak dalam pernikahan yang ada. Setiap keluarga mempunyai seorang pemimpin dan Tuhan menyerahkan tanggung jawab untuk memimpin keluarga yang ada kepada suami. Oleh karena itu suami sesuai dengan petunjuk Tuhan menjadi kepala isteri dan keluarga (Efesus 5:23).

Tanggung jawab dalam memimpin keluarga yang Tuhan maksudkan adalah memimpin didalam kasih dan kelemah lembutan serta saling menghormati satu dengan yang lainnya (Efesus 5:23-33; 6:4). Adapun tanggung jawab tersebut meliputi:

1 Perlindungan serta kenyamanan dalam menjalani kehidupan sebagai isteri dalam hidup bersama dalam sebuah keluarga. Suami bertanggung jawab penuh untuk menyediakan kebutuhan hidup yang ada dalam sebuah keluarga. Adapun kebutuhan tersebut bukan hanya terdiri dari kebutuhan fisik yang ada, namun juga kebutuhan rohani, dimana suami juga berfungsi untuk memandikan isterinya dengan Firman Tuhan (Efesus 5:26).

2 Kasih, perhatian serta jaminan hidup setia dalam berkeluarga untuk kesejahteraannya sebagaimana Kristus mengasihi GerejaNya bahkan rela memberikan nyawaNya bagi GerejaNya.

3 Saling menghormati, saling memberikan pengertian dan perhatian terhadap kebutuhan isteri dan keluarga (Kolose 3:19; Efesus 6:4).

4 Menghormati janji pernikahan dan setia sampai maut memisahkan ikatan pernikahan yang ada (Matius 19:6).

Jika suami selaku kepala isteri dan keluarga dapat berfungsi sebagaimana seharusnya ia berfungsi dalam memimpin keluarga yang ada yaitu memimpin didalam kasih dan kelemah lembutan serta saling menghormati satu dengan yang lainnya, dan isteri tunduk pada suami selaku pemimpinnya (1 Petrus 3:1), maka keharmonisan rumah tangga dapat dijamin. Jika suami atau isteri tidak berfungsi sebagaimana seharusnya sebuah keluarga berfungsi, maka sudah dapat dipastikan ketegangan dalam keluarga tersebut akan muncul. Persoalan-persoalan yang tadinya kelihatannya sepele jika tidak pernah diselesaikan, lambat laun akan bertumpuk dan membentuk sebuah gunung persoalan dimana masing-masing pihak mulai saling menyalahkan satu dengan yang lainnya dan akhirnya persoalan yang tidak pernah terselesaikan ini karena memang telah dipendam dan telah berlarut-larut akan menimbulkan sebuah ledakan besar yang dapat diakhiri dengan sebuah perceraian.

Rekonsiliasi atau restorasi hanya dapat terjadi jika salah satu pihak bersedia untuk mematikan dagingnya dalam pengertian mematikan haknya untuk mengatakan aku yang benar, kamu yang salah atau kamu juga mempunyai bagian dalam masalah ini; mematikan hak dan niat untuk menunjukkan pandangannya kenapa ia benar dan yang lain salah; mematikan kemarahannya dan menggantikannya dengan mengampuni secara tulus sama seperti Kristus yang tidak pernah bersalah namun dihakimi secara kejam memilih untuk mengampuni dengan mengatakan dalam keadaan tersalib, "Bapa ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat" (Lukas 23:34).

Karena itu penulis mengajak pembaca sekalian agar dapat menjalankan tugas masing-masing sesuai dengan fungsi yang telah dinyatakan oleh Tuhan dalam FirmanNya, yaitu suami untuk mengasihi isterinya dan tidak bertindak kasar dan isteri hendaknya tunduk kepada suaminya selaku pemimpinnya. Sudah barang tentu isteri tidak dapat mengatakan aku hanya dapat tunduk dibawah pimpinanmu selama engkau mengasihi aku dan suami sudah barang tentu juga tidak dapat mengatakan aku hanya dapat mengasihimu selama engkau berkehendak untuk tunduk dan menghormatiku selaku pemimpinmu. Masing-masing pihak harus melakukan tugas masing-masing sesuai dengan petunjuk yang telah diberikan Alkitab tanpa menuntut.

Penulis juga ingin mengajak pembaca sekalian untuk kembali merenungkan arti sebuah keluarga, karena pada saat Anda ingin menikah Anda berada dalam keadaan sadar bahwa orang yang Anda ingin nikahi adalah orang pilihan Anda sendiri dan Anda memilih untuk menikah dengan orang tersebut dengan segala konsekuensi yang ada. Sudah barang tentu Anda juga sadar bahwa Anda berkewajiban untuk mengasih isteri Anda dan menjalankan seluruh tanggung jawab Anda selaku suami dan isteri sudah barang tentu juga sadar bahwa ia selaku isteri berkewajiban untuk tunduk kepada suaminya selaku pemimpinnya. Jika Anda kembali sadar akan hal ini, dan dapat segera mengembalikan fungsi Anda masing-masing sebagai suami dan isteri maka rekonsiliasi segera akan terjadi, keluarga Anda akan pulih kembali dan keharmonisan yang Anda dambakan akan muncul secepat Anda menjadi sadar akan tugas dan tanggung jawab Anda masing-masing selaku suami dan isteri. Semoga bermanfaat dan boleh menjadi berkat.

Penulis

Rev.Dr. Harry Lee, MD.,PsyD

Gembala Restoration Christian Church di Los Angeles - California

www.rccla.org

Sumber : Rev.Dr. Harry Lee, MD.,PsyD

Ikuti Kami