PRINSIP HUKUMAN : TIM PENDIDIK SEHATI(Sehati Orangtua - Pembantu)

PRINSIP HUKUMAN : TIM PENDIDIK SEHATI(Sehati Orangtua - Pembantu)

Hevi Teri Official Writer
922

 

http://www.jawaban.com/assets/uploads/hevi_teri/images/main/140812105151.jpg

Suatu ketika saya pulang ke rumah, dan anak saya mengadu, bahwa suster marahi dia begini dan begitu. Hati saya panas, saya pikir, ini suster kurang ajar juga, dia khan anak saya, apa haknya dia marah-marah ke anak saya. Dia suster ya cukup jadi suster saja, gantikan pakaian, mandikan anak, kasih makan, ajak main, beresin mainan, bersihkan kamar dan jangan ‘lancang’ melampaui wewenang ikut-ikutan marah ke anak.

Saat itu saya bergumul dalam hati dan pikiran saya, dan akhirnya saya peluk anak saya, saya berikan empati namun sambil berkata kepada anak saya: “Kamu pasti ada salahnya?” “Tidak mungkin suster marah-marah kalau kamu tidak salah” Anak saya mulai berkata: “Ya tetapi khan saya ‘cuma’ begini begini dsb”. “Itu bukan cuma, itu salah, sana minta maaf sama suster” Bahkan sedikit saya paksa anak saya, minta maaf dengan suster.

Dengan prinsip semacam itu, waktu terus berjalan, maka kami orang tua yang ‘menikmati’ hasilnya, karena anak-anak menjadi hormat kepada suster (dan pembantu) sehingga kalau kami orang tua pergi, maka di rumah ada yang ‘ditakuti’ atau ‘dituruti’. Jika orang tua memandang rendah pembantu atau suster sebagai ‘babu’ yang harkat dan martabatnya dibawah kita, dan tidak boleh ‘marahi’ anak sekalipun anak salah, maka anak tidak akan menghormatinya.

Saya menjumpai anak-anak yang ‘menyiksa’ pembantu, dengan mencubiti atau memukul dan tidak menurut sama sekali. Susternya kerepotan dan tidak tahan, pembantu atau susternya ‘silih berganti’ setiap 3 maksimal 6 bulan keluar, orang tua yang repot juga. Ini banyak terjadi karena orang tua juga tidak menghargai pembantu sebagai ‘manusia’.

Anak akan bertumbuh dengan tidak menghargai orang yang lebih tua, dengan alasan status sosial dan ekonomi. Ini memang wajar dalam masyarakat namun menurut saya tidak baik. Seorang pemimpin yang berhasil adalah yang BERAKHLAK dan akhlak yang paling utama adalah berbelas kasihan, yang memiliki moral atau etika ‘menghormati orang yang lebih tua’ sekalipun dia seorang pembantu atau suster.

 

 

Inspirasi Mendidik Anak (Pdt. Ir. Jarot Wijanarko)

Sumber : google

Ikuti Kami