Rokok Ancam Anak-anak, Pemerintah Didesak Ratifikasi FCTC

Rokok Ancam Anak-anak, Pemerintah Didesak Ratifikasi FCTC

Lori Official Writer
3360

Bagi sebagian kita tentu masih ingat dengan balita bernama Sandi Susanto (4) asal Kota Malang, Jawa Timur yang mengalami kecanduan merokok akibat dampak buruk lingkungan di sekitarnya pada tahun 2010 silam.

 

Seperti diketahui, Sandi hidup dilingkungan masyarakat yang rata-rata adalah perokok berat. Orang dewasa disekitarnya menjadi model buruk bagi balita ini. Menurut penuturan sang ibu Mujiati, Sandi bahkan sulit terlepas dari kebiasaan merokok setiap kali bangun tidur.

 

Sandi mungkin satu dari sekian banyak balita yang mengalami dampak buruk dari rokok dan perilaku orang dewasa di sekitarnya. Rokok maupun asap rokok tentu menjadi ancaman serius bagi kesehatan fisik maupun psikis anak-anak.

 

Dengan kondisi memprihatinkan tersebut, banyak pihak mendesak pemerintah untuk melindungi anak-anak dari rokok dan paparan asap rokok tepat pada peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 23 Juli 2014 kemarin. Pemerintah didesak untuk segera meratifikasi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau atau Framework Convention on Tobacco Control (FCTC).

 

“Ini sebagai kado yang indah bagi anak Indonesia pada Peringatan HAN tahun ini. Mengingat, dalam berbagai kesmepatan, pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat dan Kementerian Kesehatan selalu menyampaikan kesiapan Indonesia untuk mengaksesi FCTC pada masa pemerintahan SBY,” kata Hery Chariansyah, Direktur Eksekutif Lentera Indonesia, seperti dikutip dari Kompas.com, Rabu (23/7).

 

Hery juga mengkritisi sikap pemerintah yang selama ini masih terkesan plin plan untuk segera melakukan tindakan pengendalian penjualan tembakau. Ia menilai pemerintah dinilai takut bila FCTC berdampak pada matinya industri rokok atau petani tembakau. Dengan tegas Hery menyampaikan bahwa FCTC merupakan jaminan terhadap perlindungan generasi muda dan masa mendatang dari dampak buruk komsumsi rokok dan paparan rokok terhadap kesehatan, yang didalamnya berisi aturan jelas tentang penjualan rokok dan pembatasan akses konsumsi rokok dikalangan kaum muda, anak-anak, kaum perempuan bahkan keluarga miskin.

 

Ia menilai saat ini adalah momen yang tepat bagi anak-anak  untuk terbebas dari ancaman buruk rokok bagi kesehatan dan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Desakan ini menjadi harapan terakhir yang disampaikan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebelum masa baktinya berakhir memimpin Indonesia.


Baca Juga Artikel Lainnya:

The Power of Influence

 

Sumber Pertolongan

 

Dua Pesan Khusus Ketua PGI Jika Jokowi Jadi Presiden

Hipertensi Perburuk Kondisi Emosi Penderita

 

Peningkatan Suhu Udara Tingkatkan Resiko Batu Ginjal

Sumber : Kompas.com/Beritasatu.com/ls
Halaman :
1

Ikuti Kami