A Bui, Alami Kelumpuhan Saat Dalam Penjara

A Bui, Alami Kelumpuhan Saat Dalam Penjara

Budhi Marpaung Official Writer
13661

Nama saya Hendra Gunawan. Oleh teman-teman, saya biasa dipanggil A Bui. Sejak kecil, saya sudah tinggal di panti asuhan. Semasa di panti, tawuran adalah kegiatan saya selepas pulang sekolah. Suatu kali, saya bertemu dengan seorang gadis yang merupakan kakak dari teman sepermainan, namanya Fuinawaty atau biasa dipanggil sehari-hari Nana. Keseksian tubuh Nana membuat saya terkesima dan tak tahan untuk menggoda serta meminta kenalan dengannya.

Walau awalnya Nana cuek, tetapi seiring komunikasi yang saya lakukan kepadanya, hubungan yang kami bangun ternyata semakin kuat dan membawa kami berdua ke dalam hubungan berpacaran.

Mulanya Nana tidak tahu bahwa saya adalah pengguna dan sekaligus bandar narkoba. Namun, ketika saya sedang dalam keadaan sadar tidak sadar, ia berhasil menelepon saya. Disitulah ia akhirnya mengetahui kelakuan saya. Tidak cukup disitu, dalam kesempatan lain, ia bahkan men-gep saya dengan wanita malam. Lewat peristiwa itulah, kami berdua putus.

Kandas dalam hubungan asmara, petualangan saya berdagang narkoba juga ikut berakhir. Berawal dari sebuah operasi penjebakan, saya akhirnya berhasil dijebloskan ke penjara. Tinggal di hotel prodeo ternyata tidak membuat saya sadar. Justru di situ kelakukan saya semakin menjadi-jadi.

Walau tetap menggunakan narkoba, hati saya begitu senang ketika mendengar lagu pujian yang sering terdengar di kala persekutuan penjara. Saya pun mulai tertarik untuk menghadiri kebaktian setiap hari minggu itu.

Satu hari, ketika sedang berbicara dengan seseorang di persekutuan, bibir sebelah saya tiba-tiba mengeras. Omongan saya menjadi kacau. Merasa masuk angin, saya minta izin pamit untuk istirahat. Namun, baru jalan lima langkah, saya terjatuh. Sejak itu, segala aktivitas saya termasuk buang air besar dibantu oleh orang lain.

Dalam kelumpuhan saya, saya mulai teringat sebuah nama yang sering disebut teman-teman persekutuan penjara, yakni nama Tuhan Yesus. Walau masih mengalami kelumpuhan, saya tidak pernah jemu-jemu untuk berdoa dan membaca Alkitab.

Puji Tuhan, dalam kesetiaan saya melakukan semua itu, saya mendapat satu ayat firman Tuhan yang menyatakan bahwa saya ini sangat disayang oleh Tuhan. Semenjak itu, saya semakin rajin beribadah di dalam persekutuan penjara. Tak lama setelahnya, saya pun menyerahkan hidup saya pada Yesus.

Perlahan tapi pasti usaha saya untuk dapat pulih dari kelumpuhan saya membuahkan hasil positif. Diawali dari berdiri sendiri, kemudian berjalan sendiri, dan terakhir berbicara lancar – Satu persatu semua yang tidak berfungsi itu disembuhkan total oleh Tuhan. Sebagai rasa terima kasih kepada-Nya, saya pun memutuskan untuk hidup benar.

Setelah menjalani hukuman selama 2 tahun 10 bulan dan mengajukan pembebasan bersyarat, saya akhirnya diizinkan bebas dari penjara pada Juni 2010 dan setahun lebih setelah itu tepatnya Desember 2011, saya bebas secara murni. Sebelum mendapatkan bebas murni, saya memperbaiki hubungan saya dengan Nana. Bulan September 2011, saya dan Nana akhirnya memutuskan mempersatukan kasih kami dalam sebuah pernikahan kudus.

Melihat semua hal yang saya dapati, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Tuhan. Saya bersyukur telah diselamatkan oleh-Nya dan bahkan hati yang baru diberikan-Nya kepada saya.

 

Sumber Kesaksian :

Hendra Gunawan

Sumber : V121008180349
Halaman :
1

Ikuti Kami