Aku Berkencan Dengan Wanita Yang Telah Menikah

Aku Berkencan Dengan Wanita Yang Telah Menikah

Puji Astuti Official Writer
4461

Jujur, pikiran apakah yang terlintas dalam pikiran anda sekalian yang membaca artikel yang penulis tulis hari ini? Pikiran negatifkah yang muncul? Pikiran yang menghakimikah yang muncul? Atau ada pikiran lain yang muncul saat anda membaca judul artikel ini? Sebelum anda membaca lebih lanjut, apakah anda setuju dengan judul artikel ini? Apakah anda dapat menyetujuinya jika sahabat anda mengatakan pada anda  "Aku Berkencan Dengan Wanita Yang Telah Menikah". Bagaimana caranya anda menanggapi pernyataan sahabat anda ini? Bukankah kebanyakan dari antara kita akan memberikan reaksi marah, kecewa dan sebagainya? Bagaimana reaksi anda seandainya penulis mengatakan penulis setuju bahkan menyokong perbuatan ini?

Mungkin anda sekalian kaget dan bahkan tersentak jika penulis mengatakan bahwa penulis selalu mencari waktu untuk berkencan dengan wanita yang telah menikah, karena penulis masih ingin belajar lebih banyak dari wanita ini. Nah, sampai saat berapa banyak dari anda sekalian yang sudah menghakimi penulis sebagai orang yang bejat moral? Berapa banyak dari anda sekalian menjadi marah, berpikiran negatif dan bahkan mengatakan penulis adalah seorang yang sesat. Mohon sabar sebentar, heningkan diri anda sekalian, tarik nafas yang dalam-dalam, apakah anda sudah bertanya kepada penulis siapakah wanita yang telah menikah yang berkencan dengan penulis? Jawabannya sangat sederhana, wanita yang telah menikah itu adalah Istri Penulis Sendiri yang telah menikah dengan penulis sejak dua puluh delapan tahun yang lalu dan bersama-sama kami telah dikaruniai seorang putri yang berusia lima belas tahun.

Sebelum mengambil keputusan untuk menikahi wanita ini dua puluh delapan tahun yang lalu, penulis terlebih dahulu telah menghabiskan waktu selama tujuh tahun untuk mengenal wanita ini. Sekalipun telah mengenal wanita ini selama tiga puluh lima tahun, penulis masih belum lulus dalam hal belajar mengenal wanita ini. Karena itu penulis masih terus menerus mengambil waktu untuk dapat berkencan dengan wanita yang telah menjadi ibu bagi anak kami. Berkencan itu tidak boleh berhenti saat menikah, berkencan itu harus terus berlangsung sampai maut memisahkan suami dan istri. Dari waktu kewaktu penulis mampir di rumah sakit dimana ia bekerja sebagai dokter ahli bius, tidak jarang kami menghabiskan waktu makan siang atau makan malam bersama. Hal ini mengingatkan kami saat kami berdua masih kuliah di Fakultas Kedokteran di Jerman Barat, makan bersama di kantin di rumah sakit, sebuah kenangan yang manis yang dapat diulang kembali saat ini. Bukankah ini sebuah pilihan yang baik? Firman Tuhan dalam Amsal 5:18 BIS dengan jelas mengatakan bahwa kita sekalian harus setia dengan istri yang kita nikahi sejak masa muda dan senantiasa menikmati kehadiran satu dengan yang lainnya sambil berkencan dengannya sampai maut memisahkan kita.

Sebab itu, hendaklah engkau berbahagia dengan istrimu sendiri; carilah kenikmatan pada gadis yang telah kaunikahi (Amsal 5:18 BIS).

Pelajaran apakah yang anda dapatkan dari artikel ini?  Mungkinkah anda mendapatkan pelajaran untuk mengontrol alam pikiran anda untuk tidak berpikiran negatif saat anda mendengarkan kabar burung, gosip yang banyak tersebar luas di internet, pikiran yang menghakimi sebelum mendengarkan penjelasan dari berita yang anda dengar, pikiran yang negatif saat membaca judul artikel ini tanpa membaca artikel ini sampai selesai? Penulis berharap kita semua bersama-sama belajar mengambil waktu untuk berkencan dengan istri kita masing-masing sampai maut memisahkan kita dengan pasangan hidup kita. Amin.

 

Penulis

Rev. Dr. Harry Lee, MD., Psy.D

Gembala Restoration Christian Church di Los Angeles - California

www.rccla.org

Sumber : Rev. Dr. Harry Lee, MD.,PsyD
Halaman :
1

Ikuti Kami