Kisah Nyata Bezaleel: Papiku Sudah Tenang bersama Tuhan

Kisah Nyata Bezaleel: Papiku Sudah Tenang bersama Tuhan

Yenny Kartika Official Writer
15183

Nama saya Bezaleel Subhan, atau biasa dipanggil Subhan. Saya tergabung dalam sebuah gangster di Jakarta. Perkelahian menjadi menu sehari-hariku. Uangku bertambah banyak seiring dengan panggilan (order) untuk memukul atau menyiksa orang lain. Darah kekerasan ini menurun dari orangtua, tepatnya papiku. Sewaktu saya kecil, saya sering melihat Papi gemar memukul Mami. Pernah kuintip, rupanya Papi acapkali melakukan ritual gaib di kamarnya. Dari situlah aku sadar bahwa Papi selama ini memakai ilmu hitam untuk menghimpun kekuatannya. Karena dia tidak bisa mengontrol kekuatan yang ada dalam dirinya, makanya Papi sering ngamuk.

Saya sadar kesadisan saya tidak bisa terus dipelihara, dan saya ingin mengubah diri saya maupun keluarga saya. Bagaimana caranya supaya Papi bisa lepas dari jerat okultismenya? Suatu hari saya berkenalan dengan seorang pemuda bernama David. Karena sepertinya dia dapat dipercaya, saya pun mengutarakan uneg-uneg saya selama ini. David memberitahu saya, “Ada satu pribadi yang akan menolong lu. Lu harus percaya dan menerimanya, Subhan. Pribadi itu namanya Yesus, Isa Almasih.” Ia mendorong saya untuk percaya dan menerima Isa Almasih. Namun dia mengingatkan bahwa tugas saya belum selesai. “Itu semua harus berawal dari kamu, Subhan. Kamu harus berubah dulu, baru Papi kamu bisa berubah,” kata David. “Kamu bisa menyembuhkan Papi kamu.” Di akhir pembicaraan, David memberikan Alkitab dan buku renungan harian untuk saya baca setiap hari. Saya sebenarnya masih bingung bagaimana cara berdoa kepada Tuhan, tetapi David hanya bilang, Lu enggak usah bingung. Lu ngomong aja langsung sama Tuhan pakai bahasa lu sendiri! Tuhan tahu hati lu.” Mulai sejak itu, saya berdoa untuk Papi.

Beberapa minggu kemudian, saya mendapat kabar bahwa Papi meninggal. Saya terkejut, kenapa saat saya mulai mendoakan Papi, ia justru meninggal. Saya pun membereskan barang-barang untuk pulang ke rumah di Sulawesi. Tiba-tiba saya menemukan buku harian terbuka, dan di situ tertulis, “Mengucap syukurlah engkau karena semua itu adalah rencana-Nya.” Saya marah, tidak terima, dan kecewa kepada Tuhan. Dalam perjalanan pulang, saya menantang Tuhan. “Oke, Tuhan, kalau memang ayah saya meninggal dan kini ada bersama-Mu, saya minta Engkau buat jenazah ayah saya tersenyum,” kataku.

Sesampainya di rumah, Mami menyambutku. Melihatku menangis, Mami malah bilang, “Nak, Papimu sekarang sudah ada di sorga.” Rupanya beberapa waktu sebelum meninggal Papi sudah dibawa bertobat oleh Om saya. Papi bercerita kepada Om bahwa dia sudah lelah dengan jimat dan ilmu-ilmu yang dipegangnya selama ini. Ia pun meminta pengampunan kepada Tuhan.

Mendengar cerita itu, aku menangis, tetapi bahagia. Aku menangis bukan karena Papi meninggal, dan karena Yesus hidup, Papi saya kini sudah tenang bersama-Nya. Saya berlutut di depan jenazah Papi dan melihat dengan jelas, Papi tersenyum.

Kejadian-kejadian yang telah saya alami membuat saya ingin lebih lagi mengenal Yesus, Isa Almasih ini. Saya terus mencari tahu tentang diri-Nya dan bertekad untuk berubah; meniru karakter Yesus. David mengingatkan saya, “Kalau lu mukulin orang  yang bikin lu emosi, itu biasa. Tapi, kalau lu mengasihi orang yang bikin lu emosi, itu yang luar biasa.” Saya pun belajar untuk meninggalkan sifat keras saya dan berubah menjadi orang yang lemah lembut. Kini, saya mengisi hari dengan menjadi pelatih parkour dan freestyle basketball. Saya membagikan hal yang baik dengan orang lain. Mengapa? Karena kita sudah terlebih dahulu mendapatkan kebaikan dari Yesus.


Sumber Kesaksian:

Bezaleel Subhan

Sumber : V130618111612
Halaman :
1

Ikuti Kami