Kisah Nyata Sandy Triyasa: Kutemukan Tujuan Hidupku di Hari Natal

Kisah Nyata Sandy Triyasa: Kutemukan Tujuan Hidupku di Hari Natal

Puji Astuti Official Writer
12963

Bagi Sandy Triyasa, kekerasan sudah menjadi gaya hidupnya sejak kecil. Tidak ada siapapun yang ia takuti, bahkan gurupun ia tantang untuk berkelahi.

“Berkelahi atau menyakiti orang itu mungkin menjadi sebuah kebanggan dan ada kepuasan,” demikian tutur Sandy.

Menurut Sandy, karakter keras dan kasar itu terbentuk karena lingkungan dimana ia tumbuh. Ejekan dan pelecehan yang ia terima sering memicu kemarahannya dan membawanya kepada perkelahian. Dalam pandangan ibunya, perkelahian di masa kecil masih dalam taraf yang wajar. Sayangnya, tabiat buruk itu terus Sandy lakukan hingga ia duduk di bangku SMA. Orangtuanya mulai kuatir dan memindahkan Sandy ke sekolah lain, tapi bukannya berubah, ia malah semakin bandel.

“Kenakalan saya tambah parah disana. Masa-masa SMA di sekolah yang baru itu mulai menggunakan narkoba. Bukan karena frustrasi, tapi karena teman-teman pakai maka saya pakai,” demikian pengakuan Sandy.

Di masa remajanya itu, Sandy seperti tidak terkendali. Mulai dari merambah kehidupan malam, seks bebas, narkoba, merokok di depan guru hingga berkelahi. Hal itu membuatnya menghadapi ancama dikeluarkan dari sekolah.

“Saya merasa putusasa. Tapi saya melihat pada masa itu, dimana teman-teman menjauhi saya dan sekolah akan mengeluarkan saya, disitu ada seorang ayah yang mau membela saya.”

Sandy saat itu merasa begitu lelah dan hidupnya merasa hampa. Sempat terbersit dalam dirinya untuk bunuh diri, namun ia pun takut dengan kematian sebab ia tidak tahu pasti apa yang akan dihadapinya.

Hingga suatu hari, “Entah apa yang mendorong saya untuk datang ke gereja dalam event natal saat itu. Pada 22 Desember 1996, saya duduk paling belakang. Pada saat mereka puji-pujian, penyembahan dan mulai akan masuk pada kotbah, hati saya mulai terasa panas bergejolak. Saya keluar dan merenungkan tentang kehidupan saya: mengapa ya hidup saya seperti ini? Saya seperti berdialog dengan Tuhan. ‘Tuhan saya ini ingin menjadi anak yang baik, tapi mengapa ya Tuhan, setiap kali saya berusaha untuk menjadi anak baik malah saya jadi semakin jahat.’ Akhirnya saya seperti menantang Tuhan, ‘Ok Tuhan, kalau mau pakai saya, silahkan pakai saya. Tapi kalau Tuhan tidak berencana pakai saya, biarkan saya jadi jahat, jahat sekalian.’”

Saat Sandy sedang merenung sendiri diluar gereja, seorang pembimbing rohani datang dan mengajaknya membicarakan kegalauan yang ia rasakan.

“Saya jelaskan pergolakan hati saya. Saya merasa tidak nyaman ada di ruang ibadah, saya merasa bukan tempat saya lagi.”

Kasih yang tulus dari sang pembina rohani dan kuasa Tuhan yang bekerja saat itu membuat Sandy merasakan jamahan Tuhan dan damai sejahtera belum pernah ia rasakan memenuhi hatinya.

“Saya merasakan damai sejahtera dan ada jawaban dari kehampaan itu. Akhirnya saya memutuskan, ‘Pakai hidup saya Tuhan.’”

Hari itu Sandy menemukan pengharapan yang baru dan kepercayaan diri yang baru. Di tahun itu ia lulus SMA dan memutuskan untuk melanjutkan ke sebuah sekolah theology. Disekolah theology itulah Sandy dapat melihat dengan jelas visi Tuhan atas kehidupannya.

“Saya merasa terpanggil menjawab tiga tantangan atas persoalan bangsa ini. Pertama, kemiskinan, kebodohan dan pengangguran.”

Untuk mewujudkan visi tersebut, Sandy berjuang dan bekerja keras dalam iman dan ketaatan kepada Tuhan. Kini, dengan anugrah Tuhan ia sudah mulai mewujudkan visi tersebut dengan membangun sebuah sekolah dan juga menjadi motivator serta menulis buku yang menginspirasi generasinya.

“Tuhan Yesus menjadi sosok suatu figur yang bisa mentransformasi segala keadaan. Seburuk apapun, sehancur apapun, ketika ada ditangannya, kita bisa menjadi sesuatu yang berbeda,” demikian Sandy menutup kesaksiannya.

Sumber kesaksian:

Sandy Triyasa

Sumber : V111221140447

Ikuti Kami