Jack Sim, Pemilik 16 Perusahaan yang Banting Stir Jadi Pekerja Sosial

Career / 12 December 2013

Kalangan Sendiri

Jack Sim, Pemilik 16 Perusahaan yang Banting Stir Jadi Pekerja Sosial

Budhi Marpaung Official Writer
5729

Jack Sim (56 tahun) mungkin adalah satu diantara jutaan pengusaha di dunia yang berani membanting stir karir mapannya. Memiliki 16 perusahaan mulai dari perdagangan material bangunan, real estat, hingga Sekolah Internasional Australia, pada usia yang ke-40 justru memutuskan menjadi pekerja sosial.

“Ketika mencapai usia 40 tahun, saya berpikir apa lagi yang akan saya lakukan. Saya ingin hidup berguna bagi banyak orang sebelum saya mati. Mencari banyak uang tidak menarik lagi bagi saya,” ucap Jack di sela-sela pelaksanaan World Toilet Summit di Solo, Jawa Tengah, awal Oktober lalu.

Di antara banyaknya hal yang bisa dilakukannya sebagai pekerja sosial, ia justru memutuskan memilih toilet sebagai ladang pengabdiannya.

“Saya menghayati bagaimana kondisi orang miskin yang tidak punya toilet karena saya pernah mengalaminya. Sampai sekarang toilet diabaikan sehingga saya memutuskan ikut mengurusi. Kebetulan saya membaca berita, Perdana Menteri Goh Cok Tong mengatakan, kebersihan negara dari kondisi toilet umum. Meskipun di Singapura kondisinya sudah baik, masih banyak orang yang belum punya toilet,” ujar pria yang memiliki julukan Mr Toilet ini.

Dalam pandangan Jack, toilet erat kaitannya dengan kesehatan, pendidikan, pariwisata, pertumbuhan ekonomi, hingga kebanggaan dan harga diri.

Salah satu pencapaian di bidang yang digeluti selama 16 tahun terakhir ini adalah ia berhasil melobi pemerintah Singapura mengubah aturan untuk memberi ruang lebih luas bagi toilet perempuan. Menurut Jack, perempuan butuh waktu tiga kali lebih lama ketimbang pria saat berada di toilet sehingga perempuan kerap harus antre mendapatkan toilet.

Pasca mendirikan Restroom Association of Singapore (RAS) pada 1998 dan berkampanye tentang sanitasi, Jack menyadari masih sangat banyak penduduk bumi yang belum tersentuh sanitasi yang baik. Beranjak dari kesadaran itu, Jack akhirnya menggagas pembentukan World Toilet Organization (WTO) pada 19 November 2001, yang kemudian dideklarasikan sebagai Hari Toilet Sedunia.

“Bagaimana mau mencari solusi kalau masalahnya saja kita hindari pembicaraannya. Tidak semestinya jutaan anak mati hanya karena masalah yang kita tidak mau membicarakannya,” sambung Jack.

Sampai dengan sekarang, pria bernama Tionghoa, Sim Juek Wah ini mengaku terus menggelar pelatihan bagi para pembersih dan para pelatih pembersihan toilet. “Kita harus membuat punya toilet itu lambang status yang tinggi seperti halnya punya ponsel. Toilet yang baik tidak perlu mahal, cukup syarat bersih, higienis, bebas dari lalat, dan tidak mencemari air dan lingkungan,” jelas Jack.

Jack menyatakan apa yang dilakukannya ini sangat didukung oleh keluarga. Bahkan anak-anaknya kini terinspirasi untuk meniru jejak sang ayah sebagai pekerja sosial.

Walau telah cukup lama berkiprah di bidang sanitasi (toilet), Jack menyatakan bahwa targetnya belum sepenuhnya tercapai, yakni membuat toilet tidak lagi menjadi isu tabu. “Sudah mulai dibicarakan di tingkat elite, tetapi kami ingin membawanya lebih membumi,” pungkas Jack.


Baca juga :

Perusahaan Susu Ingin Ubah Definisi Susu

Berdoa di Dalam Hutan

Mujizat Kesembuhan Terjadi Dalam Hidupku

Thread Forum JC : Bakti Sosial (Berbagi Kasih Dengan Anak-Anak Tanah Merah - OBI  

Cara Tepat Mendiagnosa HIV/AIDS

Sumber : Kompas Cetak / bm
Halaman :
1

Ikuti Kami