Kisah Nyata Made Irawan dan Kebutaannya

Kisah Nyata Made Irawan dan Kebutaannya

daniel.tanamal Official Writer
6720

Terlahir dengan kondisi mata yang tidak bisa melihat membuat Made Irawan mendapat perlakuan yang tidak semestinya dari sang ayah. Dirinya ditolak dan dianggap tidak berharga oleh sang ayah. Hal ini membuat Made merasakan kebencian dan kepahitan yang teramat dalam kepada ayahnya. inilah Kisah Nyata Made Irawan.

“Saya hidup mengalami kepahitan. Saya mau kadang-kadang bagaimana Tuhan itu kalau bisa cabut saja nafas saya. Dari kecil hidup saya sakit-sakitan. Kalau dalam istilah orang Bali bilang itu meremengan. Keluarga saya berpikir bahwa saya sejak kecil harusnya sudah mati,” ungkap Made.

Sang ayah pun membawa Made ke seorang dukun untuk menyembuhkan matanya. Berbagai jenis hal yang dipercaya dukun dapat menyembuhkan, dimasukan ke mata Made seperti darah ular, makan daging cicak, pisang raja 12 sisir. “Selama tujuh tahun ayah saya menggunakan balian (dukun) itu,” katanya.

Beberapa tahun Made begitu menderita atas obat dari dukun tersebut, hingga sang ayah membawanya ke seorang dokter. Namun hasilnya memperlihatkan bahwa Made mendapatkan obat yang salah. Kenyataan ini membuat sang ayah kecewa dan putus asa. Belum lagi Made harus mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan dari anak-anak di kampungnya yang mengejeknya dengan julukan si buta.

Hingga suatu ketika seseorang dari sebuah yayasan mendatanginya untuk mengajaknya bergabung disebuah pendidikan khusus di Denpasar. Sang ayah pun dengan enteng mempersilahkannya pergi karena sudah dianggap menyusahkan.

Made pun akhirnya bergabung ke pendidikan yang berada di Sanglah Denpasar. Ditempat ini dirinya berkumpul dengan teman-teman lain dari beragam etnis. Selama dirinya berada ditempat itu ayahnya tak pernah menengok. Beberapa tahun kemudian pun Made menemukan tambatan hatinya dan segera menikah.

Diumur pernikahan yang ke enam bulan, Made mulai tertarik dengan Yesus Kristus. Dirinya teringat oleh nasihat dari orang-orang yang berkunjung ke pendidikannya dahulu. Dimana Made diberika suatu kebenaran yang hidup bahwa meski dirinya tidak melihat namun dirinya adalah ciptaan dan milik Tuhan.

“ada satu rasa bahagia, rasa sukacita, ada satu pengharapan. Apapun yang ayah saya katakana dahulu, diamana saya dibilang tidak berguna, tidak saya ingat lagi. Saya mengampuni ayah saya. Semenjak saya bertobat, saya datangi ayah saya dan berjabat tangan dan tidak lama lagi memang ayah saya dipanggil oleh Tuhan.”

Rasa benci terhadap sang ayah pun sirna karena Tuhan telah membalut luka Made. Saat ini Made melayani para tuna netra. Agar mereka pun memiliki arti hidup yang sejati. Seperti Made yang telah merasakan bagaimana penyertaan Yesus kepada dirinya membuat dirinya menjadi pribadi yang berharga.

 

 


 

Sumber : V130703140935
Halaman :
1

Ikuti Kami