Misionaris Steve Saint Alami Derita Mahkota Duri Kristus

Misionaris Steve Saint Alami Derita Mahkota Duri Kristus

PrincessPina Cahyonoputri Official Writer
4672

Steve Saint, misionaris  yang mengalami kelumpuhan dari bagian leher ke bawah pasca kecelakaan yang menimpanya itu kini tengah menjalani terapi untuk mengembalikan fungsi tangan dan kakinya. Dalam perjuangannya menahan rasa sakit yang luar biasa, Saint mendapat perpektif baru tentang penderitaan Kristus.

Dalam penglihatannya, Saint melihat sengsara Yesus ketika prajurit memasangkan mahkota duri di atas kepala-Nya dan kemudian menekannya kuat. Disinilah Saint mendapat penguatan iman dimana dia boleh merasakan penderitaan Yesus. “Aku sudah tinggal di beberapa tempat yang begitu keras, tapi aku tidak pernah tahu bahwa rasa sakit bisa begitu hebat,” ungkapnya.

Selain itu, Saint juga mendapat penghiburan dengan menerima telepon dari  Mincaye, temannya yang beberapa dekade silam bergabung dengan prajuri suku Waorani di Ekuador lainnya dan membunuh ayah Steve, Nate Saintdan empat misionaris lainnya karena berusaha membawa injil ke wilayah mereka.

"Mincaye katanya bermimpi bahwa sesuatu terjadi pada Anda," kata penerjemah Mincaye kepada Saint.

Sejak Mincaye dan warga suku lain menjadi Kristen, Saint telah menganggapnya sebagai ayah angkatnya. "Saya merasa sangat buruk dan sedih ketika saya melihat Anda di rumah sakit. Tapi Tuhan juga tahu, bahwa kita bisa tetap bekerja dan saya ingin melihat Anda datang kembali ke Ekuador dan bekerja bersama dengan kami," ungkap Mincaye kepada Saint.

"Di seluruh dunia, Mincaye, tidak ada orang yang saya cintai lebih dari saya mencintaimu, dan itu berlaku untuk keluarga Anda juga," jawab Saint.

Kondisi Saint mengharuskannya untuk dirawat di rumah sakit selama dua sampai empat minggu ke depan. Menurut dokter pemulihan dapat terjadi walau mungkin lambat, namun kecil bagi Saint untuk dapat mengembalikan fungsi tubuhnya seperti semula.

Steve Saint kembali memberikan inspirasi dan teladan tentang iman yang unggul. Mujizat yang terbesar bukan hanya ketika seseorang dapat sembuh dari sakitnya, tapi ketika seseorang mampu bertahan dalam imannya walaupun tubuhnya semakin lemah dan tidak berdaya. Disinilah dia menunjukan kualitas iman sesungguhnya, sebuah iman yang harus kita teladani.

Baca berita tentang Steve Saint sebelumnya di sini.

 

Sumber : cbnnews/vina cahyonoputri
Halaman :
1

Ikuti Kami