Dendam Membara Dalam Diri Evertandus Terhadap Ayahnya

Dendam Membara Dalam Diri Evertandus Terhadap Ayahnya

Lois Official Writer
5481

Sedari kecil, Evertlandus Louputty sering sekali dimarahi ayahnya. Ayahnya suka melampiaskan kemarahannya untuk hal-hal yang kecil sekalipun. Pernah di dalam ingatan Evert, ayahnya makan nasi yang mungkin kurang matang. Dia pun marah kepada ibu Evert. Evert melihat bagaimana ayahnya memasukkan muka ibunya ke dalam tempat nasi sambil berkata, “Nih, rasain sendiri…” kata ayahnya.

Evert mencoba menarik tangan ayahnya, namun ayahnya malah balik memarahinya, Evert dan ibunya dipukul oleh ayahnya. Kemudian, semua makanan yang ada di meja tidak boleh dimakan, semua makanan itu kemudian dibuang oleh ayahnya. Kejadian itu membawa luka batin di dalam diri Evert. Selain itu, ayahnya memang tidak pernah ada di rumah. “Lebih baik dia ga ada deh, kalau nggak, semuanya dia bikin sakit,” kata Evert.

“Saya terus tanam di dalam diri saya, suatu hari akan saya balas, suatu hari akan saya balas,” kata Evert. Setiap pukulan yang dia terima, dia telan begitu saja. Dia hanya bisa pendam di dalam hatinya.

Evert pun beranjak dewasa dan memasuki masa SMA. Suatu ketika, saat dia dan teman-temannya yang lain sedang bermain basket, bola basket tersebut mengenai dua orang murid lainnya yang sedang lewat. Salah satu di antara mereka ternyata membawa celurit. Bola basket itu pun dipotong jadi dua. Tentu saja hal ini membuat Evertlandus marah sekali.

“Anak baru sudah songong (sombong, red) ya…” kata anak itu kepada Evert. “Mentang-mentang dia orang lama, dia pikir saya takut kali…” tutur Evert. Lalu, Evert mengajaknya berantem dengan tangan kosong. Melihat keberanian Evert, teman-teman sepermainan basketnya sudah siap bertempur. Lawannya sendiri, dengan alasan malas, tidak mau berantem. Namun, ketika lawannya pergi, Evert mengejarnya dan langsung memukulnya. Hal itu akhirnya kedengaran oleh satu sekolah, bahwa preman di sekolah itu dipukuli oleh anak kelas 1 (Evert, red).

Sejak saat itu, Evert didaulat jadi preman nomor satu di sekolah itu. Pengeroyokan dan tawuran jadi hal yang biasa baginya. Jika lawan menggunakan besi, Evert dan teman-temannya yang hanya mengandalkan tangan, kemudian akan memakai alat apa saja yang ada di sekitar kejadian. Tidak hanya guru, kepala sekolahnya pun tidak ada yang berani melerai Evert ketika berkelahi.

“Saya melampiaskan semua yang tidak bisa saya lakukan di rumah tapi di luar saya lampiaskan semuanya, dengan pukulin orang, tawuran. Saya menganggap bahwa semua orang itu ayah saya.” cerita Evertlandus tentang masa remajanya.

Pernah suatu hari ketika Evert pulang dari sekolah, dia mendapati ayahnya memarahi ibunya, bahkan memukulnya. Melihat kejadian itu, Evert begitu marah, dia melempar botol bir yang ada di meja ke dinding dan menantang ayahnya. Ibunya yang ketakutan, meminta Evert untuk tidak pulang dulu karena ayahnya masih mengamuk.

Di kesempatan lain, Evert melihat ayahnya selingkuh dengan wanita lain dan menyia-nyiakan ibunya. Evert pun langsung mengambil golok dari rumahnya dan menunggu di tengah jalan. Dia melihat ayahnya begitu mesra memeluk wanita tersebut. Amarah begitu berkobar dalam hati Evert dan dia ingin membunuh mereka.

Namun, entah kenapa, di saat-saat seperti itu Evert teringat akan perkataan neneknya. Neneknya pernah berkata bahwa sejelek-jeleknya sang ayah, dia tetaplah seorang ayah. Itu yang membuatnya tidak sampai hati untuk membunuh. Akhirnya, Evert pulang, menaruh golok, dan menunggu sampai ayahnya pulang ke rumah.

Ketika ayahnya pulang, Evert langsung membentaknya, “Ngapain di tengah jalan peluk-pelukan?” tanya Evert kepada ayahnya. Dan dengan seenaknya sang ayah menjawab, “Itu bukan urusan kamu, kamu cuma anak kecil. Masuk sana,” kata sang ayah. Mendengar perkataan ayahnya tersebut, Evert langsung menantangnya berkelahi dan perkelahian pun tak dapat dihindarkan antara anak dan ayah. Sang ibu melihat mereka dari depan rumah dengan risau.

Di tengah perkelahian, teman-teman Evert datang dan melerai mereka. Semenjak saat itu, Evert benar-benar jenuh hidup bersama ayahnya, dia pun memutuskan untuk keluar dari rumah. Sejak saat itu sampai dia beranjak dewasa, minuman keras dan narkoba yang menjadi temannya.

Di tempat inilah, Evert merasakan sedikit kebahagiaan dengan seorang wanita. Pada awalnya, Evert ke klub malam hanya untuk minum. Suatu hari, ada seorang wanita yang datang mendekatinya. “Kenapa ga melantai?” tanya wanita itu kepada Evert. “Nggak, saya hanya datang untuk minum.” jawab Evert. Mereka pun mulai berkenalan. Dan malam itu, wanita tersebut meminta Evert untuk mengantarnya pulang. Dan di situlah hubungan intim itu pertama kali terjadi.

Evert merasa senang-senang saja, karena dia tidak perlu membayar. Dan dari situlah, hubungan itu pun terus berlanjut sampai setahun. Setelah itu, Evert mencoba mengubah hidupnya dan menikahi wanita baik-baik. Tetapi pernikahan itu dia jadikan kedok untuk menutupi bisnis haramnya, yaitu transaksi ganja. Namun, akhirnya hal itu diketahui oleh istrinya.

Berkali-kali Juliet Debora, sang istri, memperingatinya agar berhenti melakukan perdagangan tersebut, namun tak digubris Evert, padahal Evert pernah berjanji untuk berhenti. Hal itu membuat Debby, panggilan istri Evert, menginginkan perceraian pada akhirnya. Sejak kata cerai dikeluarkan, Evert mencoba melunakkan hati Debby. Dia berjanji untuk tidak melakukannya lagi, namun ternyata di luar rumah Evert masih melakukan hal yang sama.

Di tengah keputusasaan, Debby mengajak Evert menghadiri sebuah kebaktian, dimana pembicaranya dari luar. Pendeta itu berkata, “Di sini ada seorang laki-laki yang seorang drug addict yang datang bersama istrinya…” kata pendeta itu. Saat mendengar perkataan itu, Evert berkata dalam hatinya, “Itu bukan saya, itu bukan saya…” sampai pembicara itu menunjuk dirinya untuk maju.

Evert pun maju dan didoakan. Istrinya hanya bisa berharap bahwa Evert bertobat dan berhenti dari pekerjaan haramnya. Malam itu, Evert meminta pertolongan dari Tuhan. Dia meminta Tuhan untuk melepaskan dirinya dari rokok, minuman keras, ganja, dan obat-obatan terlarang lainnya. Evert berdoa dari pukul 12 malam sampai jam tiga pagi di hari itu.

Di pagi hari, ketika temannya meminta rokok, Evert langsung memberi semua rokok yang ada padanya. Ketika Evert menghirup rokok tersebut, dia langsung merasa pusing. Hal yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Sejak saat itu, Evert tahu bahwa Tuhan sudah lepaskan. Dia tidak punya keinginan untuk rokok, minum, maupun menghisap ganja.

Evert pun ingin berdamai dengan ayahnya. Dia datang ke rumah yang pernah menjadi rumahnya. Dia bertemu sang ayah dan sambil memegang tangannya Evert meminta maaf. Di saat itu juga, ayahnya meminta maaf atas semua kesalahan yang pernah dilakukannya. Mereka kemudian berdoa bersama. Sampai saat ini, Evert terus bersyukur untuk segala yang sudah Tuhan lakukan dalam hidupnya.

 

Sumber Kesaksian :

Evertlandus Louputty

Sumber : V120530153438
Halaman :
1

Ikuti Kami