Anderson : Aku Hina Menjual Wanita, Tuhan Jadikan Mulia

Family / 19 April 2011

Kalangan Sendiri

Anderson : Aku Hina Menjual Wanita, Tuhan Jadikan Mulia

Lois Official Writer
12719

Dari sejak SMP, Anderson sudah berhubungan intim layaknya suami istri dengan seorang wanita. Waktu itu, mereka berada di rumah si wanita dan di sanalah mereka melakukan hubungan tersebut. Hubungan itu sangat berkesan di hati Anderson, dia terus mengingat wanita tersebut dan juga kejadian yang dialami bersamanya. Di situ, Anderson sudah mulai ketagihan.

Anderson lalu bekerja di Jakarta. Di Jakarta, dia bekerja di sebuah proyek yang membuatnya banyak uang. Di situlah kejadian itu terulang lagi. Kali ini dia melakukan hubungan seks dengan perempuan-perempuan malam. “(Saat itu) semacam ada ketergantungan dengan seks,” ungkap Anderson. Sepertinya seks mendarah daging dalam dirinya.

Anderson kemudian menikah dengan seorang wanita yang dikenalnya, namun kebiasaan buruk Anderson tetap dijalankannya. “Setelah saya menikah dengan dia, saya tinggalin di kota. Saya punya proyek ada di hutan. Nah, di situ juga saya mempunyai kesempatan untuk melakukan seks dengan perempuan-perempuan malam.”

Kegilaan Anderson seperti tidak ada habisnya. Anderson memiliki wanita simpanan di pedalaman Kalimantan, bahkan dia membiarkan cincin pernikahan mereka beralih ke jari wanita tersebut. “Saya tahu kalau istri saya itu hamil. Tapi kalau di sana itu, saya tidak ingat lagi. Saya mabuk oleh minuman dan kelap kelip malam, saya sudah tidak ingat lagi.”

“Saya dengar satu dua kali saya biarin, karena saya pikir nggak mungkin. Ketahuannya pas saya sudah hamil tua.” tutur Lili, istri Anderson. Lili menyadari bahwa cincin pernikahan yang dia berikan kepada Anderson sudah tidak ada. Anderson berkelit dengan mengatakan bahwa cincin itu sudah dia berikan lagi kepada Lili, tapi Lili tidak percaya.

“Perasaan saya saat itu sakit banget. Kok suami saya seperti ini, main di belakang saya dengan wanita lain. Saya waktu itu kesel banget, saya pukul dia. Saya ngomong kata-kata kasar yang sangat tidak sopan di telinga saya sendiri. Saya ke depannya bagaimana, kalau suami saya seperti ini saya sudah tidak sanggup. ” kisah Lili selanjutnya.

Tidak tahan dengan sikap suaminya, Lili meminta suaminya pindah dari Kalimantan, meskipun dengan resiko suaminya akan kehilangan pekerjaan. Akhirnya, mereka pun pindah ke kampung halaman. Ternyata di kampung, Anderson harus menghadapi sesuatu yang di luar dugaannya. “Saya hadapi mbah-nya istri saya yang saya tidak kuat. Saya banyak ditekan seperti keluar mencari pekerjaan, menghidupi istri dan anak.”

Anderson pun memutuskan untuk kembali ke Kalimantan dan meninggalkan istri serta anaknya yang baru berusia 4 bulan. Sejak saat itu, Lili tidak tahu bagaimana keadaan Anderson. “Saya tunggu-tunggu, sehari, dua hari, berminggu-minggu, akhirnya bulanan tetap nggak ada kabar. Saya cari kemana-mana tetap nggak ada.”

“Pada saat itu, saya tidak kepikiran untuk meninggalkan mereka. Tapi setelah di luar, saya biarkan saja mereka. Saya mau bersenang-senang, melakukan sesuatu sesuka hati saya. Rasa-rasanya saya tidak membutuhkan mereka.”

Yang tersisa dalam diri Lili saat itu adalah rasa penderitaan yang harus dia tanggung. “(Saya) digunjingkan oleh setiap tetangga. Setiap kali pasti ada yang berbicara tentang saya. ‘Begitulah kalau dapat orang proyek’ atau ‘Begitulah kalau hamil di luar nikah’, seperti itu” lanjut Lili kemudian. Hal ini membuat Lili sebisa mungkin tidak keluar rumah.

Sementara itu, Anderson yang tinggal di Batam waktu itu, tetap mengikuti gayanya yang penuh hura-hura. Dia bersenang-senang bersama wanita malam di klub-klub yang ada di Batam. Malahan, dia menjual wanita-wanita itu kepada cukong di Singapura dan Malaysia. “Setiap kali saya dapat perempuan yang mau ke Malaysia, saya kirim melalui cukong untuk menjadi pekerja seksual di Malaysia. Sebelum dia ke Malaysia, perempuan tersebut saya ‘pake’ dulu gitu.”

Lili, di lain tempat, terus berusaha mencari dimana keberadaan suaminya dan berusaha membuktikan kepada tetangga-tetangga bahwa suaminya pasti akan kembali. “Prinsip saya memang kalau sudah menjadi suami istri, tidak bisa dipisahkan.”

Selama setahun pencarian, akhirnya Lili dapat menemukan dimana Anderson dan menghubunginya. Namun Lili menerima perlakuan yang tidak diduga olehnya. “Tahun pertama saya menghubungi dia ke sana, nggak ada yang mau terima, biarpun itu dia langsung. Dia baru bilang ‘halo’ aja aku udah kenali dia. Saya percaya itu dia. Saya bilang, ‘Pa, ini saya’. Dia langsung bilang, ‘Siapa kamu? Saya nggak kenal kamu’.”

 “Saya grogi waktu itu, saya takut. Bahkan saya matiin teleponnya, saya tidak mau berhubungan dengan dia. Saya mau tinggalin, saya punya sedikit pikiran untuk ninggalin dia.” komentar Anderson tentang telepon itu. Meskipun, setiap hari Lili meneleponnya, Anderson tetap cuek. Padahal untuk bisa menelepon, Lili harus pergi ke kampung tetangga yang letaknya lumayan jauh dengan mengayuh sepedanya.

Tanpa rasa bersalah, Anderson terus melakukan aktifitas seksnya, sementara Lili harus bertahan hidup dengan anaknya. Jadi, ketika anaknya berusia 18 bulan, Lili memutuskan untuk mencari nafkah untuk menghidupi mereka berdua dan meninggalkan anaknya di kampung.

“Waktu di Batam, saya tidak pernah mengirim duit kepada anak istri saya. Jadi, saya habisin duitnya dengan pesta pora dengan perempuan.” kisah Anderson kala itu. Lili sendiri merasakan tekanan yang begitu berat untuk meninggalkan anak mereka, namun keputusan sudah diambil. Anaknya yang masih kecil, tahu bahwa itulah yang harus ibunya lakukan, karena ulah papanya, dia harus merelakan ibunya pergi. Akhirnya, Lili pun berangkat ke Jakarta dan Lili harus rela terpisah dengan anaknya.

“Memang tiap malam pasti kebangun. Dan anaknya pun nangis terus. Setiap kali saya di telepon, anak saya nangis. Namun, saya harus hadapi ini semua.” Penderitaan yang diterimanya seakan belum cukup, dia pun harus tegar meninggalkan anaknya yang semata wayang.

“Saya memang berat sekali. Saya sering menangis. Saya kalau lihat anak kecil dimana aja, saya ikut menangis. Saya pasti peluk dia, anak siapapun dia dan menangis. Saya merasa bahwa saat itu saya melihat anak saya yang menangis. Dalam hati saya, ‘Kamu enak ada mamamu di sini’ ”.

Setelah tiga tahun berada di Batam, Anderson kemudian ke Jakarta untuk mengambil tiket pesawat karena ada tawaran pekerjaan di Manado. Dan secara tidak sengaja, Lili bertemu dengan Anderson setelah ditinggalkan. “Dia singgah dulu ke saya karena semua barang-barangnya hilang.”

“Tadinya nggak punya rencana untuk bertemu dengan istri saya gitu, nggak ada. Saya nggak punya perasaan pengen ketemu dia gitu, sama anak juga tidak. Pengennya cuma ambil baju.” kata Anderson.

Kejadian tidak seperti yang diharapkan Lili. Anderson pun kembali meninggalkan Lili. Namun, kisah tak terduga pun dialami oleh Anderson. “Suatu ketika, saya dihantam eksavator, eksavator yang buat gali-gali tanah itu menghantam saya dan membuat saya terlempar hampir sejauh lima meter. Waktu itu, pas saya pegang kepala saya, saya hampir mati. Tapi tidak ada darah, atau apa gitu.”

Setelah kejadian itu, Anderson mendapat cuti. “Mau nggak mau, saya harus sama istri saya.” katanya tentang hal itu. Selama satu bulan sampai dua bulan kemudian, Anderson merasa bahwa matanya gelap. Dia terkadang tidak bisa melihat. Mereka akhirnya pergi ke dokter. “Dokter memvonis saya bahwa mata saya tidak bisa lagi diobati. Waktu itu memang saya kaget, saya tidak bisa menerima mata saya seperti ini. Bagaimana dengan anak dan istri saya kalau kedua mata saya tidak bisa melihat lagi. Istri saya rasa-rasanya juga tidak mau menerima.”

Anderson pun akhirnya pasrah menerima kenyataan, jika kedua matanya tidak bisa berfungsi lagi. “Suatu ketika, dengan keadaan saya seperti ini, sungguh-sungguh saya tidak bisa apa-apa lagi, mau nggak mau saya harus mencari Tuhan. Dan suatu ketika saya dijamah Tuhan gitu. Dan saya melihat Tuhan. Tuhan ada di depan mata saya, waktu saya berdoa. Satu sosok yang luar biasa sedang memegang saya, yang sedang mengurapi saya gitu. Saya merasa saya tidak layak. Saya bilang saya ini orang yang berdosa di hadapan Tuhan. Saya teringat perbuatan-perbuatan saya, kekotoran-kekotoran saya gitu. Seks sama perempuan-perempuan, teringat kepada kehidupan saya yang bebas. Waduh, saya merasa najis di hadapan Tuhan, saya merasa saya tidak punya tanggung jawab sama anak dan istri. Tetapi saya melihat Dia tetap memegang saya,” kisah Anderson. Sejak itulah dia merasa menyesal dengan perbuatan-perbuatannya yang betul-betul menyakiti hati Tuhan. Anderson sampai menangis di hadapan Tuhan. Dia memohon ampun. Pada saat itulah, semua perasaan bersalah pun hilang. “Perasaan saya, Dia mengangkat dosa-dosa saya.”

Malam itu juga, Anderson pun minta ampun kepada istri dan anaknya dan sejak saat itu Anderson memulai hidup baru bersama keluarganya. “Saya merasakan Tuhan sedang menyatukan saya dengan istri saya, Dia menerima saya apa adanya. Dan saya melihat istri saya yang sungguh luar biasa. Selalu berdoa buat saya dan sampai saat ini juga dia selalu mendukung saya dalam pekerjaan saya.”

“Selama ini saya selalu berdoa buat suami, dalam keadaan apapun juga, saya siap. Memang kalau sudah dipersatukan Tuhan, tidak bisa dipisahkan. Jadi, apapun kondisi dia, saya tetap pegang itu. Dalam suka maupun duka, saya siap terima dia.” begitulah lapangnya dada Lili menerima kembali suaminya.

“Tuhan sungguh luar biasa dalam kehidupan saya. Dari saya gelap sampai saya menerima Tuhan, Tuhan itu sungguh luar biasa. Itulah kasih Tuhan dalam kehidupan saya.” (Kisah ini ditayangkan pada acara Solusi Life di O Chanel tanggal 19 April 2011)

 

Sumber Kesaksian :

Anderson dan Lili

Sumber : V100726132244
Halaman :
1

Ikuti Kami