Hari Kesaktian Pancasila : Tuhan Ajari Kita Memaafkan

Internasional / 2 October 2010

Kalangan Sendiri

Hari Kesaktian Pancasila : Tuhan Ajari Kita Memaafkan

daniel.tanamal Official Writer
5229

20 tahun adalah periode waktu yang panjang bagi anak Mayjen TNI (Anumerta) DI Panjaitan, Catherine Panjaitan untuk melupakan sekaligus memaafkan tragedi nasional G30S. Hal itu disampaikan pada Rekonsilisasi Silaturrahmi Nasional Anak Bangsa (FSAB ) di Gedung Nusantara V MPR/DPR Jumat (1/10/2010), dengan tema  “berhenti mewariskan konflik, tidak membuat konflik baru.”

Dalam testimoninya, Catherine menyaksikan langsung bagaimana pasukan Cakrabirawa merenggut nyawa DI Panjaitan. "Saya menyaksikan langsung, bagaimana kepala ayah saya ditembak. Otaknya keluar dan saya lari bersembunyi. Saat semua keluar, saya hanya menemukan darah dan otak ayah saya yang berceceran. Saat itu, saya merasa sebagai orang yang sial dan menjadi pribadi yang traumatis selama 20 tahun," kenang Catherine.

Kepada Jawaban.com usai acara, Catherine pun mengingat kembali kehidupan traumatis pasca tragedi tersebut yang merenggut kedamaian keluarganya. “Hidup setelah kejadian itu jadi buram, linglung, shock, dan saya sering nangis. Saya bilang sama ibu saya kalau saya gak suka di rumah ini, karena saya selalu terbayang dan trauma kalau melewati  tempat dimana bapak ditembak. Akhirnya saya pindah.” katanya.

Titik balik pun ditemuinya kala ia mendapat jawaban dan pengampunan di dalam Tuhan. “Di gereja, firmanNya mengajak kita bercermin. Kita instropesksi. Kita diingatkan bahwa kita orang berdosa, gak ada yang sempurna,  walau proses lama tapi akhirnya bisa melupakan. Tuhan selalu mengajari kita memaafkan “ tegasnya

Bersama sejumlah putra-putri pahlawan revolusi dan putra-putri tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI), Catherine turut menjadi pemrakarsa dan pendiri Forum Silaturahmi Anak Bangsa. Di sini, mereka bersama-sama mengikis dendam. "Selama ini, saya menganggap Mas Ilham Aidit (putra tokoh PKI, DN Aidit) adalah musuh. Setelah saya berkenalan dan bertemu mereka di FSAB, hilang semua perasaan dendam. Saya memandangnya dari sudut kemanusiaan bahwa manusia pernah berbuat salah," ungkap Catherine .

Ia menekankan, bahwa masyarakat didareah perlu tahu untuk bersama menjalin rekonsiliasi agar tidak tersimpan lama dendam diantara anak bangsa. “Kita harus  memulai keberanian untuk damai dan memaafkan, bergandengan tangan, berjalan bersama-sama, mulai dari bawah, karena Tuhan Yesus bilang kita harus mulai dari yang kecil. Kita harus kedaerah agar  mereka tidak salah pengertian. Ini adalah pergumulan. Kita harus bilang Stop kepada semua kejadian yang menimpa ini.”

Inilah wujud dari kebersamaan dalam kasih. menyadari sepenuhnya terhadap kondisi bangsa indonesia, mereka bukan hanya dapat saling memaafkan terhadap pribadi lepas pribadi tetapi dapat berdamai dengan masa lalu.

Sumber : Jawaban.com/dpt
Halaman :
1

Ikuti Kami