Kurang Tidur Berakibat Buruk Pada Jantung Wanita

Kurang Tidur Berakibat Buruk Pada Jantung Wanita

Lestari99 Official Writer
4167

Bukti terus menunjukkan bahwa masalah tidur dapat mempengaruhi kesehatan jantung, dengan konsekuensi yang lebih buruk pada wanita, dan sebuah studi terbaru dapat menjelaskan alasannya.

Perempuan yang melaporkan bahwa mereka memiliki kualitas tidur yang buruk dan sulit untuk tidur memiliki gangguan psikososial yang lebih besar bila dibandingkan dengan rekan-rekannya yang memiliki kualitas tidur yang baik. Selain itu para wanita ini juga memiliki kadar yang lebih tinggi terkait dengan substansi diabetes tipe 2, penyakit jantung dan masalah kesehatan lainnya. Hal ini dikemukakan oleh Dr. Edward C. Suarez dari Duke University Medical Center di Durham, Carolina Utara.

Tapi bagi pria, tidak ada hubungan yang ditemukan antara kualitas tidur dengan masalah kesehatan mental ataupun fisik mereka.

Hingga saat ini, kebanyakan studi yang mempelajari tidur dan penyakit jantung menunjuk kepada mereka yang memiliki gangguan tidur seperti sleep apnea. Namun dalam studi kali ini, Suarez melibatkan 210 pria dan wanita yang sehat dan tidak terdiagnosis menderita gangguan tidur klinis. Mereka diminta untuk mengisi kuesioner yang akan mengevaluasi kualitas tidur mereka.

Suarez menemukan para wanita yang memiliki kualitas tidur yang buruk, memiliki kesulitan untuk tidur lebih dari dua malam dalam seminggu dan membutuhkan waktu lebih dari 1,5 jam untuk jatuh tertidur memiliki level yang lebih tinggi untuk kekurangan insulin - sebuah tanda meningkatnya resiko diabetes tipe 2 - serta tingkat yang lebih tinggi lagi akan kemungkinan peradangan dan fibrinogen, suatu faktor pembekuan yang telah dikaitkan dengan stroke.

Wanita yang kurang tidur juga dilaporkan memiliki gejala mudah terkena depresi, memiliki sifat bermusuhan dan gampang marah.

"Menariknya, penelitian ini memperlihatkan tidak semua orang yang memiliki kualitas tidur yang buruk dihubungkan dengan resiko jantung yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan mereka yang membutuhkan waktu yang panjang untuk jatuh tertidur," ujar Suarez yang dirilis dalam hasil penelitiannya di Duke University. "Wanita yang dilaporkan membutuhkan waktu 1,5 jam atau lebih untuk jatuh tertidur memperlihatkan profil resiko yang terburuk."

Perbedaan gender dalam fungsi kimia otak serotonin, hormon melatonin, atau asam amino triptofan dapat membantu menjelaskan hasil penelitian ini, mengingat bahwa ketiga bahan kimia ini terlibat baik terhadap mood maupun kesehatan jantung.

"Memperbaiki kualitas tidur sama artinya dengan mengurangi resiko penyakit jantung dapat terbukti secara nyata pada wanita," ujar Suarez menyimpulkan.

Sumber : saidaonline

Ikuti Kami