Terpanggil Untuk Bersikap Jujur

Kata Alkitab / 6 May 2009

Terpanggil Untuk Bersikap Jujur

Budhi Marpaung Official Writer
6836

"Karena itu apa yang kamu katakan dalam gelap akan kedengaran dalam terang, dan apa yang kamu bisikkan ke telinga di dalam kamar akan diberitakan dari atas atap rumah." (Lukas 12:3)

"Hidup di dalam dunia yang penuh kemunafikan harus disiasati dengan hidup dalam kepalsuan". Mungkin kalimat itu yang pertama kali mendengar atau melihat kata "jujur". Banyak bahkan dari anak-anak Tuhan yang tidak mempercayai kejujuran itu masih ada dalam diri manusia. Istilah yang sering dipakai adalah ‘hidup menggunakan topeng'.

Manusia sering memakai topeng demi topeng agar bisa hidup bergaul dengan manusia lainnya. Tanpa disadari bahwa lama kelamaan ‘hidup menggunakan topeng' dilakukan seseorang saat menghadap Tuhan (ibadah minggu). Mereka tidak tenang kalau tidak menggunakan topeng. Suka atau tidak, tapi itulah kenyataannya. Namun, Alkitab memberikan ajaran kepada manusia akan hidup seperti apa yang seharusnya dijalankan oleh manusia. Jawabannya adalah hidup di dalam kejujuran.

Panggilan Kristus untuk menyerahkan diri adalah panggilan untuk bersikap tulus dalam kekristenan kita. Ini adalah panggilan untuk membuang semua kepalsuan dan kepura-puraan dan untuk bersikap tulus,jujur, dan sungguh dalam penyerahan diri kita. Kristus menjelaskan hal ini ketika Ia memperingatkan mengenai ragi orang Farisi dan ‘nasib' dari kemunafikan (Lukas 12:1-3).

Menjadi pertanyaan sekarang ini, apa dan siapa orang yang munafik itu? Cara yang terbaik bagi kita untuk mengetahui apakah orang munafik itu adalah dengan melihat orang-orang Farisi. Mereka adalah contoh klasik dari sesuatu yang harus kita hindari. Secara keseluruhan, orang-orang Farisi sangat mementingkan bagian luar dari agama dan mengabaikan bagian dalamnya. Mereka sangat memperhatikan penampilan, tetapi tidak memiliki ketulusan rohani. Agama mereka bergantung kepada waktu dan tempat.

Kata munafik berasal dari bidang drama ketika satu orang memainkan beberapa peran dalam sebuah sandiwara. Aktor tersebut memakai kedok yang berbeda untuk setiap peran yang dimainkannya. Kata munafik pada awalnya memiliki arti yang baik, tetapi berangsur-angsur kata tersebut dipakai untuk melukiskan orang yang bermuka dua, orang yang bersandiwara atau berpura-pura dalam kehidupan sesungguhnya.

Namun, Anda jangan keliru. Tidak semua orang yang hidupnya tidak bersesuaian dengan imannya dapat disebut munafik. Banyak orang secara tulus ingin hidup untuk Allah, tetapi gagal karena kelemahannya atau karena godaan. Perbedaan antara orang Kristiani yang lemah dengan orang munafik terletak pada itikad.

Penyerahan diri yang benar membuat kita menjadi pengikut Kristus yang tulus dan sejati. Dalam pengajarannya Yesus memberitahukan kepada kita tiga hal mengenai kemunafikan yang akan menolong kita untuk waspada terhadapnya.

1.Tak ada seorang pun yang kebal. Yesus memulai pengajarannya dengan peringatan "Waspadalah terhadap...kemunafikan) (Lukas 12;1). Di dalam diri kita, tanpa disadari atau tidak, memiliki kemunafikan tertentu. Mendekatkan diri kepada Tuhan adalah obat mujarab agar terhindar dari

2.Jenis dosa yang terburuk. Kebanyakan orang terus menerus berusaha menggolongkan dosa sebagai dosa kecil atau dosa besar. Alkitab tidak pernah melakukan itu. Bagi Allah semua dosa itu besar. Alkitab memberitahu kita, "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah" (Roma 3:23). Allah tidak menginginkan adanya kemunafikan dalam diri kita karena menurut-Nya kemunafikan adalah kepura-puraan dalam beragama dan DIA menentangnya. Jika kita sadar bahwa kita adalah orang berdosa dan jujur di hadapan-Nya, maka ALLAH akan sangat menghargainya. Jadilah orang yang tulus sejati dan konsekuen.

3.Anda tak dapat bebas dari hukuman. Yesus menyatakan kesia-siaan dari kemunafikan ketika ia berkata "Tidak ada seorang pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui..... (Lukas 12:2-3). Pada suatu hari nanti akan terbongkar siapa diri kita sebenarnya. Kita tidak dapat membohongi Allah. Alkitab sering sekali mengingatkan kita akan mata Tuhan yang tajam dan mengamati dengan cermat. Kita harus ingat bahwa lambat laun kita akan menuai apa yang kita tabur. Pada suatu hari dosa kita akan menimpa kita.

Allah menginginkan kejujuran hati dari manusia. Walaupun ALLAH menginginkan persembahan-persembahan yang kita bawa kepada-Nya, yang dia inginkan hanyalah ketulusan kita kepada DIA.   

Sumber: Paul W.Powell - Buku Murid Sejati

 

Halaman :
1

Ikuti Kami