Seorang Ekstremis Menjadi Misionaris Menyebarkan Damai Kristus

Seorang Ekstremis Menjadi Misionaris Menyebarkan Damai Kristus

Tammy Official Writer
4429
Hicham Chehab adalah seorang misionaris yang berbeda. Berasal dari Libanon yang terlahir sebagai Muslim, ia berangkulan dengan saudara prianya sepanjang perang sipil Libanon antara warga Kristiani dan Muslim.

Saudara prianya dibunuh oleh Kristiani dan ia sendiri masih ada guratan luka akibat serangan oleh warga Kristiani. Lain dari hal tersebut, ia mengatakan bahwa pengajaran-pengajaran Yesus memimpin dirinya kepada hidup untuk menyebarkan damai Injil.

Sepanjang perang sipil, ia bergabung dengan militant Muslim bersama dengan saudara prianya, yang berperan sebagai kapten hingga ia terbunuh.

Ia belajar bagaimana menggunakan peluncur-peluncur roket, mortar, dan bedil dan diajarkan, "Jika kamu ingin menembak dengan tepat, bayangkan ada orang Kristen di pandanganmu," menurut Daily Herald Chicago. Dalam peperangan, ia berperang sebagai penembak jitu.

Selagi ia menimba ilmu di American University di Beirut, saudaranya terbunuh oleh militan Kristiani selagi ia mencoba untuk bernegosiasi gencatan senjata. Setelah kematian saudaranya itu, Chehab membawa dua pistol dan sebuah peredam ke kampus dengan tujuan untuk membunuh orang-orang Kristiani.

Tetapi selama ia belajar ia mendapatkan pengajaran-pengajaran Yesus yang memberi dampak kepadanya, terutama Khotbah di Bukit yang berkata "cintailah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu."

ChehabChehab mengatakan, "Saya yang sedang mencari-cari musuh saya dengan sebuah senjata dan peredam di malam hari mendengar untuk pertama kalinya, "kasihilah musuhmu." Saya merasa ini adalah manusia super atau kebodohan. Musuh saya adalah orang-orang yang membunuh abang saya satu-satunya, satu-satunya keluarga saya, bahu yang menjadi sandaran saya untuk menangis."

Semenjak datang kepada Yesus ia menjadi seorang misionaris di Gereja Salem (yang artinya "Damai" dalam bahasa Arab dan Persia), Peace Lutheran Church di Lombard. Gereja Arab Lutheran, yang telah melayani selama setahun, melayani para pengungsi dan imigran dari Iran, Irak, Libanon, Sudan, dan Palestina.

Chehab mengatakan itu disebut Gereja "Damai" karena satu-satunya Pangeran Kedamaian, Yesus Kristus, yang bisa membawa rekonsiliasi di Timur Tengah. Chehab mengatakan bahwa ia berkomitmen untuk membawa damai antara Kristiani dan Muslim di Libanon.


Sumber : christianpost.com
Halaman :
1

Ikuti Kami