Obama Siapkan Tim Gedung Putih

Obama Siapkan Tim Gedung Putih

Tammy Official Writer
3345
Tim penasihat kampanye Obama sudah menyiapkan langkah-langkah ke Gedung Putih dengan perencanaan yang matang. Ben Rhodes, penulis pidato Obama mengatakan, mereka telah menyiapkan beberapa program untuk melangkah ke Gedung Putih sebelum pelantikan 20 Januari 2008. Meskipun, belum merinci program dan kebijakannya, namun bisa ditelusuri berbagai pernyataan Obama dalam kampanye. Khususnya, dalam perdebatan langsung atau tanggapannya atas pernyataan-kebijakan John McCain.

Tim transisi kepresidenan bekerja tertutup dan Obama menunjuk Kepala Staf Gedung Putih era Presiden Bill Clinton, John Podesta, memimpin tim transisi kepresidenan. Obama pun menghubungi pemimpin mayoritas Demokrat Senat, Harry Reid agar memuluskan persetujuan para calon birokrat Gedung Putih yang diajukannya. Tujuannya, agar kelambatan pengesahan tim Clinton pada tahun 1992 tidak terulang. Clinton butuh setahun untuk mengesahkan para staf utamanya. Mereka adalah Kepala Staf, Direktur Kepegawaian, Tim Hukum, Tim Media, Penasihat Keamanan, para pejabat Dewan Ekonomi Nasional, dan Direktur Anggaran. Untuk peralihan kepresidenan, Presiden Bush menyediakan dana US$ 8,5 juta. Gedung Putih segera memberikan pengarahan kepada para pembantu utama Obama, termasuk staf pers, yang sudah diundang masuk sebagai tim media bayangan.

Mengajak Senior Republik

Barack ObamaObama selalu tegas sebagai kandidat oposisi. Penulis senior Michael Hirsh mengatakan, kesenatoran Barack Obama adalah model prinsip tokoh oposan. Anehnya, ada tokoh senior Republik yang didekati Obama, yakni Richard Lugar. Kabarnya, Lugar, anggota Komisi Luar Negeri Senat asal Indiana ini, kemungkinan diajak Obama ke Gedung Putih.

Kedekatan mereka ber-awal ketika Obama mengunjungi Capitol Hill tahun 2005 dan terkesan dengan pola pikir dan pembicaraan anggota Senat itu. Rupanya, persahabatan tokoh dua kubu ini terjalin baik. Keduanya pernah mengunjungi wilayah-wilayah bekas Uni Soviet, untuk meneliti kebocoran radioaktif. Obama memuji ketenangan Lugar meskipun dalam kondisi tertekan, dan memuji keterusterangan Lugar, serta sikap dan senyum bermaknanya selama pertemuan-pertemuan dengan para pejabat luar negeri. Kesan inilah yang diguratkan Obama dalam bukunya yang terkenal "Audicity of Hope."

Asisten Obama melukiskan, Richard Lugar sudah berusia 76 tahun, namun masih sigap dan enerjetik. Diakui, Lugar adalah pribadi yang cerdas, pendiam, serta humoris, mampu menenangkan situasi ketika orang-orang serius bekerja. Sahabatnya ini pun memutuskan sesuatu tanpa melotot dan selalu disertai way out (jalan keluar). Meski mendukung McCain, beberapa asisten merekomendasi Lugar masuk daftar Kabinet Obama, mungkin sebagai Menlu.

Kunjungan Obama ke Asia menunjukkan keterbukaan dan pandangannya yang luas. Bersama teman sekamarnya waktu kuliah di Harvard, yakni Mohammad Hassan Chandoo, mereka keliling Asia Selatan pada tahun 1981. Obama menyenangi Metropolis Karachi yang luas, namun dibelenggu kemiskinan serta terlanda konflik antarsektarian.

Bagian istimewa dari keliling Pakistan seperti dikutip media AS, adalah seputar Karachi ada warga yang feudal. Kaum petani miskin yang terkepung justru berjuang mencari nafkah harian, di tengah-tengah kehidupan demokrasi modern.

Dia kembali merenung dan belajar sebagai pemuda berusia 20 tahun. Dia memaklumi kondisi serupa di masa kanak-kanaknya di Indonesia. Ternyata, banyak rakyat miskin dunia berupaya memenuhi kebutuhan pokok, termasuk rumah, lapangan kerja, dan pendidikan untuk anak-anaknya.

Promosi Keagungan Hidup

Barack ObamaMasa kecil dan pengalaman di Asia itu menjadi konsep kebijakan Obama berjudul Promotion Dignity (Promosi Keagungan Hidup). Hal ini menuntut upayanya mengatasi keadaan, ketimbang memusatkan diri pada pemilihan dan urusan demokrasi lainnya.

Penasihat luar negerinya, Susan Rice mengatakan, "Presiden terpilih menekuni berbagai tantangan untuk memperkuat kapasitas negara-negara lemah. Tujuannya, merundingkan cara mengatasi kemiskinan dan pemerintahan yang bagus!"

Bila ini substansinya, maka negara-negara miskin Asia seperti Indonesia, India, dan Pakistan bisa menjadi fokus utama kebijakan (dan bantuan) luar negeri Presiden Barack Obama.

Dalam mengelilingi Pakistan, Obama secara khusus mendalami ketegangan negara-negara muslim. "Konsekuensi pernah tinggal di Indonesia dan mengelilingi Pakistan yang miskin, membuat saya menjadi jernih berpikir mengenai sejarah antagonisme dua faksi besar Islam Sunni dan Syiah," kata Obama. Ia meyakini pengetahuannya tentang masyarakat muslim dan merencanakan melaksanakan KTT para Pemimpin Islam Dunia di awal menjabat.

"Saya yakin bisa berbicara tulus dan percaya bahwa, saya menghormati budaya mereka. Bahwa saya memahami sebuah negeri Islam dengan modernisasinya dan penghormatan atas hak-hak asasi serta menolak kekerasan. Saya merasa bisa berdialog dengan percaya diri yang lebih besar," tegas Obama.


Sumber : suarapembaruan.com/Tmy
Halaman :
1

Ikuti Kami