Anak dan Perceraian

Parenting / 12 December 2005

Kalangan Sendiri

Anak dan Perceraian

Fifi Official Writer
4112
Nyaris tidak ada orang yang berjalan di altar dengan maksud untuk segera bercerai. Semua kesibukan yang mengikuti indahnya pernikahan sama sekali tidak dicemari oleh pemikiran akan hak asuh anak atau harta gono gini. Semua manusia normal yang menikah pasti memimpikan kesetiaan sampai maut memisahkan. Tapi tetap saja perceraian terjadi dimana-mana. Bahkan terjadi di waktu yang paling tidak disangka-sangka.

Dan ketika cinta itu hancur berkeping, bukan hanya pengantin pria atau wanitanya yang patah hati. Ada pihak lain yaitu anak-anak yang berakhir hidup dalam ketakutan dan ketidakpastian seiring dengan runtuhnya label keluarga.

Lalu apa yang bisa dilakukan? Ketika perceraian harus terjadi, bagaimana agar anak-anak bisa dipulihkan? Bagaimana agar mereka tetap dengan jati diri mereka? Bagaimana menjawab pertanyaan sulit dari mereka? Bagiamana bisa membuat masa depan mereka tetap penuh rasa aman dan harapan?

Itu semua bukan tugas yang mudah. Tapi perlahan segala usaha yang terbaik harus mulai dilakukan:

1. Orang tua harus tetap menjaga diri. Orang tua yang bercerai cenderung tidak menjaga diri. Gaya hidup jadi tak teratur, penampilan jadi berantakan, dan emosi jadi sering meluap. Hal inilah yang diperhatikan oleh anak dan membuat mereka makin tertekan. Jika orang tua yang bercerai bisa menjaga diri agar tetap stabil, itu akan sangat membantu anak. Carilah teman dan lingkungan yang benar untuk membantu memperoleh kestabilan ini.

2. Bantu anak untuk pulih. Pemulihan bagi anak yang terluka harus dimulai dari sisi orang tua. Ambillah waktu untuk berdoa bersama anak, untuk mendengarkan segala keluhan mereka, dan pertahankan komunikasi yang sehat dengan mereka.

3. Biarkan anak tetap menjadi anak. Orang tua yang bercerai kadang berlari kepada anak-anak mereka untuk mencari pembenaran dan perlindungan serta kekuatan untuk mereka sendiri. Padahal itu dapat memaksa seorang anak untuk menjadi dewasa sebelum waktunya. Karena itu, sebisa mungkin jangan jadikan anak sebagai objek untuk berlari dari sakit hati.

4. Bicarakan jika siap. Jika anak yang tadinya tidak mengerti mulai bertanya, bersiaplah untuk menjawab pertanyaan mereka. Ambil nafas panjang, duduklah dengan mereka dan jelaskan kepada mereka. Bersiaplah untuk menerima berbagai reaksi. Tetap tegar dan mengertilah mereka.

5. Percayalah. Hampir semua orang tua yang bercerai takut jika kejadian yang sama akan terulang pada kehidupan rumah tangga anak mereka. Karena itu, kuncinya adalah pemulihan. Jika anak sudah dipulihkan, maka percayalah bahwa sejarah tidak harus terulang kembali.
Halaman :
1

Ikuti Kami