Akhir Hidup Sang Dalang Teroris Di Indonesia

Akhir Hidup Sang Dalang Teroris Di Indonesia

Puji Astuti Official Writer
9422

JAWABAN.com - BATU - Pelarian Dr Azahari Husin terhenti kemarin di Kota Batu, Malang. Otak peledakan serangkaian bom di tanah air itu menemui ajal Rabu kemarin, 9 November 2005 dalam baku tembak dengan tim Detasemen 88 Antiteror Polri di rumah kontrakan Jl Flamboyan blok A1 no 7, Songgokerto, Kota Batu.

Jasad Azahari dikabarkan hancur. Seperti beberapa jasad korban bom yang diledakkannya di berbagai tempat. Sumber di kepolisian mengatakan, jasad pria asal Malaysia itu sudah tidak utuh.

Begitu juga dua anak buahnya yang juga menemui ajal. Tubuh mereka hancur berkeping-keping. Mereka diduga melakukan aksi bom bunuh diri dengan meledakkan bom yang masih mereka miliki. Paling tidak, terdengar sebelas ledakan dari dalam rumah itu. Akibatnya, rumah kontrakan itu hancur. Dua rumah di kiri dan kanan TKP juga rusak.

Ada dua versi tentang terbunuhya mantan dosen Universitas Teknik Malaysia (UTM) dalam baku tembak itu. Versi pertama, Azahari tewas bunuh diri. Dia meledakkan bom rakitan sendiri. Inilah yang membuat tubuhnya hancur.

Versi kedua, sumber tepercaya di Polda Jatim mengatakan, pria berkaca mata minus tersebut mati ditembak polisi. Saat itu, polisi berusaha membidik langsung Azahari. Sebuah tembakan membuat tersungkur Azahari yang berada di dalam rumah. Setelah itu, terdengar sebuah ledakan dahsyat dari dalam rumah. Diduga kuat bom bunuh diri itu diledakkan oleh anak buah Azahari yang panik setelah pemimpinnya tewas.

Persembunyian Azahari itu diintai polisi sejak sekitar enam hari sebelum kejadian. Polisi memperoleh informasi penting itu dari Muji yang ditangkap di Semarang.

Polisi akhirnya memutuskan untuk menyerbu rumah kontrakan tersebut kemarin. Sekitar pukul 13.30, Tim Detasemen 88 Mabes Polri dibantu puluhan polisi dari Polresta Malang, Polres Batu, Polwil Malang, dan Brimob Ampeldento mengepung lokasi.

Situasi makin mencekam karena listrik dalam radius 200 meter sekitar lokasi dipadamkan. Sebelumya, masyarakat setempat diimbau untuk tidak keluar rumah oleh polisi.

Penangkapan Azahari mendapat perhatian besar dari petinggi Polri. Sekitar pukul 18.30, Kapolda Jatim Irjen Pol Sunarno datang ke lokasi kejadian. Pangdam V Brawijaya Mayjen Mapparepa menyusul datang. Sayangnya, mereka tidak diperbolehkan masuk ke TKP karena diduga masih ada bom aktif di rumah kontrakan tersebut.

Kapolri Jenderal Pol Sutanto sekitar pukul 21.00 juga tiba di lokasi. Dua menit sebelumnya, Tim Forensik Polda Jatim juga datang. Penjagaan di sekitar lokasi kejadian sangat ketat. Sekitar 200 meter dari lokasi sudah dipasangi garis polisi.

Untuk memastikannya, lanjut Sutanto, Polri akan melakukan tes DNA pada tiga pelaku yang tewas. Hingga tadi malam, polisi belum mengidentifikasi dan mengevakuasi jenazah dari lokasi. Sebab, di dalamnya diduga masih ada bom aktif. Di dalamnya terdapat tas ransel yang diduga bom serta sejumlah rompi berisi bom bunuh diri yang sudah disiapkan. Pelaku menggunakan senjata AK-47, granat, dan rompi berisi bom saat melawan petugas.

Karena masih ada bom aktif, polisi masih menunggu hingga Kamis pagi ini untuk menyisir bom serta mengevakuasi ketiga mayat pelaku yang kondisinya diduga hancur akibat bom bunuh diri.

Amerika tunggu konfirmasi Indonesia

Sementara itu Amerika Serikat negara yang paling sengit memerangi terorisme di dunia masih menunggu konfirmasi resmi dari Pemerintah Indonesia mengenai tewasnya Azahari, warga negara Malaysia yang dipercaya sebagai otak aksi terorisme di Indonesia.

"Kami sudah mendengar berita soal Azahari yang dikabarkan tewas saat penyerbuan oleh polisi Indonesia, tapi sementara ini kami belum bisa memberi komentar lebih jauh sebelum adanya kepastian dan konfirmasi resmi", kata jurubicara Deplu AS Justin Higgins di Washington DC.

Dihubungi Antara dari New York, Rabu petang (Kamis dinihari WIB), Justin mengatakan pihaknya tidak ingin terlalu dini dalam menanggapi hal tersebut karena kemungkinan ada perkembangan baru lagi berkaitan dengan hasil investigasi di Indonesia.

Justin mengatakan Deplu AS melihat Dr Azahari merupakan orang yang sangat berbahaya dan diyakini sebagai pelaku pengemboman di sejumlah tempat di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini.

Ia juga menegaskan Amerika Serikat selalu siap untuk bekerjasama dengan Indonesia dalam upaya memerangi terorisme tersebut(joe)

Sumber : metrotv/indopos/antara/berbagai sumber

Ikuti Kami