Share this article :

Salut! Pebasket Berdarah China Ini Donasikan 1.3 M Untuk Danai Pendidikan Perempuan

 Thu March 9th, 2017
 763

Artikel ini ditulis oleh :

Lori Mora

Contributor
 

Salut! Pebasket Berdarah China Ini Donasikan 1.3 M Untuk Danai Pendidikan Perempuan Sumber : Bloomberg.com

Siapa yang tak kenal dengan pebasket muda asal Amerika Jeremy Lin? Ya, tak hanya sekadar pebasket sukses tapi pria berdarah China ini juga dikenal sebagai pria yang sangat mengasihi Tuhan. Saat tur tahunan bersama timnya Brooklyn Nets ke Asia tahun 2016 silam, dia membagikan kesaksian imannya dan menyampaikan soal semangatnya untuk menyebarkan injil ke seluruh dunia.

Atlet basket berusia 28 tahun ini juga secara tegas menyampaikan soal imannya pertama kali dalam Forum Ekonomi Dunia di Tianjin. Dengan berani dia menyampaikan bahwa dengan usia yang semakin tua, dia ingin semua orang tahu soal identitas dirinya. “Aku belajar untuk menghargai identitasku tentang bagaimana orang lain berpikir tentang apa hal yang membentuk diriku. Aku adalah seorang Kristen, jadi yang selalu aku bicarakan pertama kali adalah identitasku dan yang terutama dari Kristus,” ucap Jeremy saat pertama kali menyampaikan identitasnya di depan publik.

Baru-baru ini, pria yang memiliki tinggi badan 190 cm ini bahkan melakukan sesuatu yang mencengangkan. Kabarnya, Jeremy baru menyumbangkan gaji dari hasil pertanding melawan tim Boston Celtics pada 17 Maret pekan depan yang berkisar 100.000 dolar (atau 1.3 milliar) untuk mendanai program pendidikan anak-anak perempuan di seluruh dunia. Dana ini akan diserahan kepada lembaga non-profit One Day’s Wages, yang fokus untuk menyediakan pendidikan bagi anak-anak yang kurang mampu.

Selain donasi tersebut, Jeremy juga berjanji akan menyumbangkan 100 dolar (sekitar 1.3 juta) untuk setiap poin yang berhasil dicetak saat pertandingan sepanjang musim ini. Sebagai komitmennya, Jeremy bahkan membuat pernyataan di website resmi One Day’s Wages. Tulisnya, “Aku percaya penting sekali untuk meningkatkan kesadaran tentang isu-isu keadilan sosial yang telah disembunyikan. Karena itu aku bersama One Day’s Wages, gerakan untuk mengurangi kemiskinan global ekstrim, ambil bagian untuk meningkatkan kesadaran akan isu-isu dimana masih banyak perempuan yang sedang mengejar impian mereka. Jutaan perempuan di seluruh dunia yang tidak mampu mengecap pendidikan yang bagi diri mereka sendiri dan keluarga mereka. Harapanku adalah untuk memberikan secercah titik terang dan mengundang kalian mengambil aksi bersama dengan ku.”

Melalui pernyataan tertulis ini, Jeremy Lin benar-benar rindu supaya banyak orang menyadari pentingkan terlibat dalam mendukung pendidikan bagi kaum perempuan. “Kita tidak bisa melakukan pekerjaan ini sendirian, butuh kerja sama diantara kita,” tulisnya.

Donasi dengan jumlah yang tidak sedikit itu menunjukkan bahwa Jeremy memang adalah pribadi yang memiliki beban untuk menolong sesama. Mungkin tak hanya sekadar tertarik, tapi Jeremy tentunya terdorong oleh beban panggilan dari dalam hatinya untuk ikut terlibat dalam berbagai kegiatan sosial semacam itu. Mungkin saja hal itu pula yang mendorong dia membangun organisasi nirlaba The Jeremy Linn Foundation. Lembaga ini fokus untuk memerangi kekerasan yang dialami anak-anak di sekolah.

Sumber : Christianpost.com/Gospelherald.com

Setiap Persoalan selalu ada Harapan dan Jawaban. Hubungi kami sekarang !


Share this article :
SUZY RATNANINGRUM 29 April 2017 - 01:20:07
Bapa di surga saya tolonglah saya pulihkan keuanga... more..

Kartilah 27 April 2017 - 15:53:46
Mohon bantuan doanya supaya saya bisa segera menda... more..

William Gosal 25 April 2017 - 15:28:00
Tolong doakan saya agar terbebas dari ikatan porno... more..

Yovita Anum Prihantari 19 April 2017 - 11:27:34
Kami berdoa untuk kesembuhan anak kami, Patrick 10... more..

Connect With Us


connect facebook connect twitter connect youtube connect google instagram
Stres Kuliah, Pria Ini Memilih Curhat Dibanding Bunuh Diri
Stres Kuliah, Pria Ini Memilih Curhat Dibanding Bunuh Diri
Pada tahun 2014, data Kantor Statistik Nasional Inggris melaporkan 130 kasus mahasiswa (fulltime stu...