Silahkan login terlebih dahulu sebelum
memasukkan pertanyaan Anda.

Register Login

Budhi Marpaung

Official Writer
15470


Aku, Kristina Wahyuningsih, adalah seorang ibu dan Moses adalah anak dari aku dan suami. Moses merupakan anak yang sehat. Ia hampir tidak pernah jatuh sakit. Bahkan, ia tergolong anak yang aktif. Ke dokter anak saja jarang kami lakukan. Sampai kemudian….

Pada usia yang keenam tahun, tubuh Moses demam. Entah mengapa, suara hatiku berkata ‘jangan pergi kantor hari itu, peluk saja anak kamu karena sebentar lagi dia akan pergi’. Aku mau berdoa, mengusir suara itu, tetapi kemudian suami masuk, dan itu tidak saya lakukan akhirnya.

Selang tiga hari, aku dan suami pergi ke dokter karena panas pada tubuh Moses tidak kunjung sembuh. Selain itu, kami juga ingin mengecek segala sesuatunya pada diri Moses. Selesai diperiksa, dokter hanya memberikan resep obat penurun panas.

Keesokan harinya, aku dan suami pun kembali bekerja seperti biasanya. Namun, sepulang dari kantor, aku terkaget karena Moses tidur di sofa yang ada di ruang tamu dalam kondisi panas tinggi. Bahkan, diketahui ia muntah-muntah sejak siangnya.

Kami pun buru-buru ke rumah sakit. Pada saat dicek, dokter yang memeriksa berkata bahwa Moses sudah alami dehidrasi dan hanya butuh diinfus selama maksimal dua hari.

Satu hari berlalu, aku melihat Moses tertidur. Keesokannya pun begitu. Aku pun bertanya kepada dokter yang merawat, “Kok Moses masih tidur aja ya? Padahal anakku sangat aktif lagi.” Sang dokter menjawab bahwa kemungkinan itu terjadi karena sekarang kondisi badan Moses sudah menunjukkan tanda-tanda membaik.

Sore hari sekitar pukul 5, kami menghubungi kakak ipar yang dokter di RS Bethesda Yogyakarta. Saat mengobrol, kakak iparku menunjukkan tanda-tanda kekuatiran. Dengan berteriak, ia mengatakan bedakan tidur dengan kehilangan kesadaran. Mendengar itu, telepon selesai, aku pun meminta dokter untuk datang dan sang dokter akhirnya mengajukan Moses dirujuk ke dokter syarat.

Ketika selesai diperiksa dokter syaraf, Moses dinyatakan harus segera dibawa ke ruang ICU. Dikatakan bahwa oksigen di dalam darah Moses sudah makin berkurang.

Jujur, aku begitu bingung dan bercampur kuatir saat itu. Semua selang, alat-alat yang tersambung ke dalam tubuh Moses begitu membuatku bersedih. Di ruang ICU, aku berteriak dalam hati kepada Tuhan, mengapa anakku harus mengalami semua itu, mengapa bukan aku saja.

Waktu terus berjalan. Di satu sisi, kondisi penyakit campak yang dialami oleh Moses sudah mengalami kesembuhan. Namun, sisi lain, anakku tanpa kuduga-duga didiagnosis peradagangan selaput otak dengan tingkat kesadaran yang sangat menurun.  

Dokter yang memeriksa mengatakan bahwa peluang hidup Moses sangat sedikit. Kalau pun sembuh, kemungkinan besar ia mengalami disabilitas. Sang dokter kemudian mengatakan agar aku banyak berdoa, minta Tuhan bekerja di dalam Moses.

Hatiku hancur mengetahui kabar itu. Aku pun langsung mengambil telepon dan menghubungi pembicara-pembicara rohani di televisi. Meminta mereka untuk mendoakan anakku yang terbaring tidak berdaya. Aku juga minta saudara-saudaraku untuk mendoakannya.

Aku yakin ketika banyak orang yang mendoakan Moses, anakku itu cepat sembuh. Sementara itu, banyak teman di kantor, sahabat yang justru meminta aku dan suami untuk mengiklaskan kepergian Moses untuk selama-lamanya. Aku menolak melakukannya.

“Selama masih ada waktu. Selama Moses masih hidup, aku tidak akan menyerah.”

Aku pun berdoa sungguh-sungguh kepada Tuhan. Aku katakan bahwa aku tahu Tuhan sayang sama Moses, tetapi aku pun begitu. Aku katakan jangan ambil anakku. Pemikiranku jika aku kuat, Moses pun akan kuat.  

Sampai kemudian, pada hari kedua belas, tiba-tiba Moses membuka matanya. “Aku sangat-sangat bahagia. rasanya itu kayak, ‘ini lho yang aku tunggu. Ini sangat melegakan hatiku.”

Di ruang isolasi, Moses mulai diterapi. Ternyata prosesnya sungguh sangat menyakitkan. Rasa sakit yang dialami anakku, kenapa harus anakku, kenapa tidak aku saja. Itu membuat hatiku bersedih.

Meskipun telah sadar, dokter menginfokan ingatan Moses akan hilang berpuluh-puluh persen. Mendengar itu, aku berlari kepada Tuhan. Aku katakan bahwa aku percaya Tuhan adalah lebih dari tabib, dokter manapun, aku percaya Tuhan akan menyembuhkan anakku, Moses.

Perlahan tapi pasti, kondisi Moses berangsur-angsur membaik. Berhari-hari terkurung di kamar, Moses meminta untuk keluar dari ruangan. Namun, karena keadaannya yang memaksa untuk tidak bisa duduk, akhirnya akupun memangkunya di kursi roda.

Ketika pada akhirnya kami bisa keluar dari pintu kamar, Moses senang sekali. Sampai kemudian dia melihat ke aku, “ma..” Mendengar itu rasanya luar biasa sekali. Dari situ, dia bisa berbicara meski terpatah-patah. Bagi aku pribadi, itu sudah luar biasa sekali.

Proses itu membuat aku makin percaya Tuhan itu selalu ada buatku. Mukjizat terjadi.

Tuhan sembuhkan Moses, kembali seperti semula. Tidak tanggung-tanggung, Dia membayar tagihan, tanpa tunggakkan.

Setiap Natal tiba, aku merasa begitu bahagia karena kesembuhan Moses menjadi sebuah kado yang luar biasa bagi kami semua. Indah sekali saat kami bisa semua berkumpul seperti waktu dulu.

Bagiku dan keluargaku, Tuhan Yesus adalah tabib yang ajaib. Terpujilah nama Tuhan!

Sumber : Kristina Wahyuningsih

Share this article :

Setiap Persoalan selalu ada Harapan dan Jawaban. Hubungi kami sekarang !

Vin 24 November 2017 - 02:37:57

Pernikahan saya spt sudah diujung tanduk..saya sud.. more..

0 Answer

Ledo Kartono 22 November 2017 - 12:15:48

apa saja contoh kesombongan dalam religius

1 Answer

Mikey Oei 20 November 2017 - 21:25:50

Kenapa dalam Mat 27 : 44 tertulis berbeda dengan L.. more..

1 Answer


Herman Tan 24 November 2017 - 07:17:01
Tolong doakan sahabat saya joseph k yang mengalami... more..

Marusaha F S 18 November 2017 - 12:09:03
Minta bantu doa utk pekerjaan, dan agar hutang hut... more..

DEDEN SURYADI 16 November 2017 - 03:02:20
Sya minta dukungan doa untuk bisa memiliki rumah d... more..

Leticia 15 November 2017 - 11:34:48
Teman2 JC tolong doakan saya supaya dapat pekerjaa... more..

Banner Mitra Week  3


7334

advertise with us