Share this article :

Kisah Nyata Dokter Angkuh yang Bertobat Karena Penyakit

 Tue July 2nd, 2013
 8893

Aku adalah seorang dokter dengan karir yang sukses dan menjanjikan. Kehidupan terasa makin lengkap saat aku dan pacarku akhirnya bisa membeli rumah idaman. Semua memang indah, kecuali satu hal.

Hubungan antara aku dan pacarku seringkali diwarnai percekcokan. Asal tahu saja, kami berdua berbeda keyakinan. Tampaknya sulit bagi kami untuk saling menghargai perbedaan. Berdebat dan berdebat, itulah yang sering kami lakukan. Tetapi karena sifatku yang lebih dominan, biasanya pacarku mengalah dan mengikuti keputusanku.

Memang ibuku sering berkata, "Ingat ya, Nak, terang dan gelap itu tidak bisa bersatu." Tetapi bagiku dia adalah pria yang terbaik. Aku bisa menentukan masa depanku sendiri.

Ambisius dan pekerja keras, itulah sifat yang membuatku tidak kenal lelah mencari pemasukan tambahan. Demi membangun masa depan, aku rasa sah-sah saja kalau harus jaga malam di rumah sakit sampai larut malam atau berkecimpung dalam bisnis lainnya.

Sampai suatu hari aku divonis dokter bahwa di rahangku ada kista. Tetapi bagiku itu bukan perkara yang harus dibesar-besarkan, toh suatu hari nanti juga sembuh.

Kembali ke pacar yang kucintai. Satu hal yang tidak pernah aku duga darinya ialah, bahwa dia berselingkuh dengan wanita lain. Teganya dia melakukan hal itu padaku. Perselingkuhannya terbongkar setelah aku menyelidiki nomor misterius yang sering dia sms-i kata-kata mesra.

Sungguh mengecewakan. Tapi, apa boleh buat. Aku harus tetap melangkah menapaki kehidupan ini, meskipun tanpa dia.

****

Suatu kali, aku merasakan sakit di bagian leher yang teramat sangat, membuatku tidak bisa berdiri. Untuk bangun, saya perlu perjuangan yang sangat besar. Keringat mengucur. Meskipun begitu, aku harus bekerja.

Seorang teman di rumah sakit menganjurkan agar aku melakukan tes MRI. Pasalnya, dia melihat bahwa posisi tubuhku semakin miring. Leherku tidak bisa berdiri tegak, dan selalu terjuntai ke bawah. Setelah tes MRI aku jalani, didapati hasil bahwa 2 ruas tulang belakang saya hilang.

Saya takut. Saya tahu bahwa operasi ini akan memakan banyak biaya, sekitar Rp 250 – 300 juta. Puji Tuhan, saya dipertemukan dengan dokter yang tepat, dan biaya yang dikeluarkan pun persis dengan jumlah tabungan  yang saya miliki pada saat itu. Sebuah pen dipasang pada leher saya, dan saya harus memakainya seumur hidup. Operasi dinyatakan berhasil.

Berdasarkan ilmu kedokteran yang saya ketahui, saya tinggal menunggu 3 bulan untuk bisa pulih dan bekerja kembali. Leher saya akan kembali lurus.

Namun itu hanya fakta di atas kertas. Kenyataannya, leherku tetap sakit. Aku tidak bisa bangun, untuk duduk saja susah. Dokter yang menangani pun heran mengapa ini bisa terjadi, padahal pemasangan pen di tulangku sudah tepat.

Di momen itulah aku hanya bisa terkapar di tempat tidur dalam keadaan tak berdaya. Siapa atau apa lagi yang bisa diandalkan? Mengandalkan pikiran, tidak sanggup. Uang, buat apa? Saya benar-benar hanya bisa berharap dan bersandar kepada Tuhan.

Saya mulai merenungkan semua yang telah terjadi dalam kehidupan ini. Hubungan dengan pacar yang kandas dan penyakit kista yang menyerang leherku adalah dua tragedi hidup yang tidak kupahami.

Di tengah masa-masa suram, aku menemukan sebuah ayat Kitab Suci yang menguatkan. "Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak. Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita  setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang." (Ibrani 12:5-8)

Aku rupanya sedang dibentuk menjadi anak-Nya yang berkualitas. Selama ini, saya pikir logika saya yang paling benar. Namun Tuhan hancurkan semua itu supaya saya hanya bergantung kepada Tuhan.

Momen penyakit penuh derita ini juga merupakan kesempatanku untuk melihat kasih sayang seorang ibu. Saat aku sakit, Mama datang dari Bandung dan merawatku dengan penuh dedikasi. Aku terharu. Sebenarnya aku adalah anak yang arogan. Aku selalu merasa diriku yang paling benar. Melihat pengorbanan Mama, aku jadi tersadar bahwa kehebatan yang aku banggakan tidak sebanding dengan cinta yang Mama berikan. Hubunganku dengan Mama pun dipulihkan.

Aku melihat kuasa Tuhan bekerja dalam hidupku melalui semua yang kualami. Leherku berangsur-angsur pulih kembali. Saya bersyukur bahwa Dia menyempatkan waktu untuk memproses saya secara maksimal dan personal. Rupanya ada hikmah di balik semua derita.

 

Sumber Kesaksian:

Hwenty Widjaja

Sumber : V130702165636

Setiap Persoalan selalu ada Harapan dan Jawaban. Hubungi kami sekarang !


Share this article :