Share this article :

Puasa, Sebuah Disiplin Rohani

 Sun July 14th, 2013
 6373

Mungkin ada dari kita yang tidak mengetahui bahwa puasa adalah salah satu disiplin diri untuk pertumbuhan kerohanian seorang Kristen. Puasa bukanlah suatu hal yang baru. Kita ingat bahwa Yesus Kristus sendiri melakukan puasa sebelum dicobai Iblis di padang gurun. Jemaat mula-mula terlihat melakukan puasa sebagai hal yang lumrah dan alamiah, seperti tercantum dalam Kisah13:203 dan Kisah14:23. Bahkan jikalau kita mundur ke belakang dalam zaman Perjanjian Lama, bangsa Israel diperintahkan untuk melakukan puasa secara rutin setiap tahun pada hari Pendamaian (Imama23:27-28).

Sama seperti disiplin-disiplin rohani lainnya (seperti membaca dan merenungkan Firman, berdoa, melayani), berpuasa bertujuan utama untuk melatih hidup yang beribadah (iTimo4:7, "Latihlah dirimu beribadah"). Setiap kita yang Allah tebus, ditetapkan dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya (0Roma8:29). Maka satu-satunya jalan menuju kedewasaan karakter Kristen dan hidup yang beribadah adalah melalui disiplin rohani.

Jikalau puasa bertujuan sedemikian baik, apakah ini berarti suatu kewajiban bagi orang Kristen? Tidak ada ayat dalam Alkitab yang dengan jelas menyatakan bahwa orang Kristen wajib berpuasa. Namun kita dapat menarik prinsip dari perkataan Yesus Kristus dalam Matiu9:14-15, bahwa ketika tiba saatnya mempelai laki-laki itu diambil dari mereka, maka murid-murid akan berpuasa. Saat itu adalah sekarang. Sampai Yesus Kristus datang kembali, para murid diharapkan akan berpuasa. Berpuasa bukanlah suatu kewajiban legalistik, namun sebuah undangan dari Allah untuk menikmati berkat yang Ia curahkan lewat disiplin rohani ini.

Setelah jelas bahwa tujuan utama dari berpuasa adalah melatih hidup yang beribadah pada Tuhan, maka kita sekarang membahas tujuan sekundernya. John Calvin memberikan pembagian sederhana bahwa puasa yang kudus dan sah memiliki tiga tujuan: menyangkal dan menundukkan tubuh kita; persiapan untuk doa dan perenungan yang lebih baik; sebagai bukti ekspresi kita merendahkan diri di hadapan Tuhan ketika kita mengakui kesalahan-kesalahan di hadapan-Nya.

Pertama, berpuasa bertujuan untuk menyangkal dan menundukkan tubuh kita, melatih, membatasi diri terhadap keinginan hidup boros, sia-sia. Menahan kebutuhan akan makan, yang adalah kebutuhan alamiah, menjadi contoh sederhana aplikasi bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah. Referensi perkataan Kristus dari Ulang8:3 ini mengingatkan bahwa Tuhanlah yang memelihara hidup kita. Yang menopang hidup kita sesungguhnya bukanlah roti, namun kehendak dan kebaikan Allah semata lewat makanan yang memberikan nutrisi pada tubuh.

Kedua, berpuasa juga erat kaitannya dengan disiplin berdoa. Dalam Matiu6, pembicaraan Yesus akan berpuasa digandengkan dengan disiplin berdoa. Puasa, secara spiritual mempertajam kepekaan dan kesiagaan kita dalam memanjatkan doa. Doa puasa dilaksanakan ketika ada keadaan mendesak dalam curahan isi hati mereka kepada Allah. Ezra yang berjalan bersama bangsa Israel, berpuasa dan berdoa di tepi sungai Ahawa memohon perlindungan Tuhan dari bahaya (0Ezra8:23).

Doa puasa juga dilakukan ketika mencari kehendak Tuhan, agar peka membedakan manakah kehendak-Nya. Paulus dan Barnabas berpuasa dan berdoa menggumulkan pimpinan Tuhan dalam menetapkan penatua bagi jemaat (Kisah14:23). Puasa dengan sendirinya tidak menjamin bahwa kita akan dengan jelas mengetahui kehendak Tuhan, namun puasa akan mempersiapkan hati kita lebih terbuka dan memahami kehendak Allah yang hendak Dia nyatakan kepada kita.

Ketiga, berpuasa adalah ekspresi kita merendahkan diri di hadapan Tuhan. Kita mengakui kesalahan, berduka atas dosa yang terjadi dan memohon belas kasihan kepada Tuhan. Pengakuan dan pertobatan dalam hati ini dimanifestasikan dalam bentuk puasa, sebagaimana halnya dalam 0Yoel2:12-15. Raja dan penduduk kota Niniwe juga mengumumkan puasa sebagai tanda pertobatan mereka setelah mendengar seruan keras Firman Tuhan (Yunus3:5).

Dalam mengakhiri puasa kita dengan makan (buka puasa), bersyukurlah pada Tuhan atas anugerah-Nya yang memampukan kita dan minta pengendalian diri dalam sikap paska-puasa kita, termasuk dalam bersantap makan. Berpuasa berarti kita melewatkan jadwal makan kita baik ketika berpuasa setengah hari maupun satu hari penuh; bukan menumpuk porsi hutang makanan yang harus kita santap.

Jika ingin mendisiplinkan roh kita, pertimbangkanlah untuk melakukan puasa.


Sumber: Buletin Pillar GRII

 

BACA JUGA:

Puasa yang Mengubahkan!

Meraih Kemenangan Saat Berpuasa

Umat Kristiani Berdoa bagi Umat Muslim yang Menjalankan Puasa

Apa Kata Alkitab tentang Junk Food?

Sumber : Buletin Pillar GRII | yk

Setiap Persoalan selalu ada Harapan dan Jawaban. Hubungi kami sekarang !


Share this article :