Share this article :

Benny Budianto: Karena Haus Kekuasaan, Aku Terjerat Narkoba

 Thu September 9th, 2010
 15673

Dalam usia sangat muda, Benny Budianto, 15 tahun, bertekad menjadi penguasa. Benny memiliki prinsip pada saat itu, dimana pun dia berada, maka dia akan berlaku kasar.

Layaknya seorang dewasa, Benny pun merencanakan strategi yang tepat untuk mendapatkan kekuasaan musuh. Benny sudah memprediksi hal terburuk apa yang akan terjadi bila dia melancarkan aksi kekerasannya dan dia takut akan kematian yang bisa sewaktu-waktu mengancam hidupnya. Dalam pikirannya, dia dapat dikenal oleh orang-orang yang direbut kekuasaannya.

Pada satu hari, Benny dan teman-temannya berada dalam posisi yang terjepit. Benny dan kawan-kawannya yang berjumlah 40 orang menghadapi lawan yang tidak seimbang yang berjumlah 200 orang. Namun, nyali Benny dan teman-temannya tidak gentar. Mereka terus melawan karena dalam kelompoknya memiliki moto "pantang untuk mundur, pertarungan selesai bila badan sudah tergeletak (mati).'

Pertarungan dua kelompok besar ini berakhir setelah Benny mengeluarkan senjata api yang berada di belakang badannya dan menembakkannnya selama 3 kali ke udara. Melihat hal tersebut, Benny menyadari betapa begitu berkuasanya sebuah senjata api ini sehingga dapat membuat ratusan orang ini berhenti.

Kekerasan yang dilakukan oleh Benny Budianto bermula dari hobinya yang menyenangi film-film mafia pada usia masih belia, yakni sekitar 13 tahun. Benny mempelajari apa yang dilakukan oleh para bos mafia tersebut. Mulai dari cara berbicara, bekerja bahkan cara berpikirnya seperti apa. Bukan hanya karena hobi nontonnya saja yang membuat Benny seperti itu, perasaan mindernya juga mempengaruhi hidupnya. Rasa minder yang dimilikinya, membuatnya ingin menjadi pusat perhatian.

"Dimana teman-teman saya nih high class lah. Saya ga akan didenger nih sama orang-orang ini. Saya berpikir, bagaimana caranya bisa didengar sama orang-orang ini. Kalo saya mau didengar sama orang, saya harus do something agar bisa dilihat orang. Tetapi caranya yang salah, yakni dengan kekerasan."

Orang tua Benny Budianto merasakan bagaimana kuatirnya mereka melihat kelakuan nakal anaknya tersebut. Jos Budianto, Ayah Benny Budianto mengatakan bahwa kenakalan yang dibuat oleh anaknya membuat mereka kuatir, bahkan Ibunya Benny juga terpukul melihat kelakuan anaknya.

Tidak pernah puas memperluas luas kekuasaannya,Benny pun terus melakukan kekerasan yang berdampak kepada kehidupannya.

"Satu hari ada peristiwa besar, saya membabi buta. Ada satu anak, tinggi gede, kurang lebih 180-an, saya 160-an. Saya pukul dia dengan stick baseball, itu mungkin sebanyak 10 kali, sekuat tenaga saya. Dan orang itu tergeletak, tidak bangun. Saya rasa takut luar biasa. Rasa takut. Takut dia mati."

Jiwa yang tidak tenang, membawa Benny terseret ke dalam dunia narkoba.

"Saya pake narkoba ketika ketakutan itu datang. Saya makan itu kayak tong sampah, Apapun saya makan. Saya gak merasakan takut, saya merasakan damai. Santai aja gitu. Kayaknya everything is fine. Ga ada apa-apa. Tetapi, begitu obat itu turun, drop, pasti kan kepikir lagi. Jadi mau gak mau saya ga bisa stop untuk menggunakan drugs."

Rasa hampa dan ketakutan yang bertambah dalam jiwa Benny, membuat dia semakin takut untuk menjalani hidup yang sedang dijalani. Benny mulai berpikir tentang kematian yang bisa tiba-tiba datang menghampiri dia seperti teman-temannya yang telah mati sebelumnya. Dalam batinnya, Benny menjerit kepada Tuhan agar nyawanya tidak dicabut pada masa mudanya.

Di tengah ketakutannya, Benny bertemu dengan temannya yang akan mengubah kehidupannya. Teman Benny ini adalah orang yang takut akan Tuhan. Dia memberikan nasihat kepada Benny yang ingin berubah menjadi orang benar untuk tidak masuk ke dalam kubangan yang sama, dia harus menjauhi kubangan tersebut.

Tidak hanya nasihat dari seorang temannya, bahkan sebuah nasihat dari saudaranya pun meresap dalam pikirannya

"Benny, kamu tahu gak kamu tuh bejana yang retak. Tuhan mau bagusin. Tuhan ga mau cuma semenin kamu. Tuhan mau hancurin belur dan dibentuk menjadi baru. Kalo diancur leburin, memang sakit rasanya. Kamu pilih mana, mau disemen atau diancur leburin? Kalo disemen, dia akan retak lagi. Kalo baru, bejana itu akan baru dan menjadi bagus."

Nasihat ini benar-benar tertancap dalam di hati Benny. Benny terus merenungkan kata-kata nasihat tersebut. Sampai pada akhirnya, Benny berkata kepada Tuhan di dalam hatinya, " bila memang Tuhan ingin menghancur leburkan saya, hancurkan saja, tetapi berilah saya kekuatan'

Dalam pencariannya mencari kebenaran, Benny menyempatkan diri untuk pergi ke sebuah perkumpulan ibadah. Ketika berada di ibadah tersebut, hati Benny tersentuh oleh satu pujian. Benny yang adalah orang yang memiliki prinsip pantang untuk mengeluarkan air mata, pada hari itu menangis sejadi-jadinya.

Ketika mendengar syair pujian tersebut, di dalam hati Benny seperti ada yang berkata bahwa dia berharga, berharga karena dirinya adalah biji mata Tuhan. Saat itulah Benny menyadari siapa dirinya dan menemukan jawaban atas jati dirinya selama ini.

Benny pada saat itu berjanji kepada Tuhan akan mempersembahkan hidupnya bagi Tuhan. Tidak hanya dirinya saja yang berjanji akan melayani Tuhan, tetapi dia dan seisi keluarganya berkomitmen kepadanya juga.

"Anak saya yang nakal, sekarang menjadi benar. Yang udah bonyok-bonyok bisa jadi berubah total. Itu berkat Tuhan Yesus membikin dia berubah benar. Kalo manusia, gak bisa melakukannya," kata Lili Budianto, Ibu Benny Budianto.

Saat ini, Benny mengaku mengucap syukur atas segala apa yang telah dikerjakan Yesus dalam kehidupannya. Dia yang tadinya berasal dari "sampah" atau "comberan" diangkat Tuhan menjadi berharga, yakni menjadi biji mata-Nya. (Kisah ini ditayangkan 9 September 2010 dalam acara Solusi Life di O'Channel).

Sumber Kesaksian:
Benny Budianto 
Sumber : V090305135055

Setiap Persoalan selalu ada Harapan dan Jawaban. Hubungi kami sekarang !


Share this article :