Parenting

Mengatasi Anak Malas Menulis


- Jawaban.com -
View: 15755 times
Nama : John Hendra
Umur : 40
Profesi : IT Staff
Kota : Tangerang

PERTANYAAN :

Anak pertama saya (laki-laki) umur 7 thn sekarang duduk di kelas 1 SD. Saya bingung dan hopeless bagaimana saya harus bertindak? Anak saya ini bisa dan menguasai pelajaran-pelajarannya di sekolah. Yang jadi masalah, baik dalam pelajaran ataupun ulangan dia tidak mau menulis dan mengerjakan soal-soal tersebut. Padahal setiap hari kami (saya dan isteri) selalu mendampinginya belajar untuk pelajaran atau latihan soal-soal untuk ulangan besok harinya. Dan di rumah tidak ada masalah dia bisa menjawab dan mengerjakan semuanya, tapi keesokan harinya yang terjadi justru sebaliknya bahkan pernah lembar jawabannya kosong sama sekali. Saya sudah coba tanyakan baik-baik apa alasannya dia tidak mau menulis, dan jawabannya selalu berkisar antara kalau tidak, "Saya capek, tanganku capek..." atau "Aku bingung, gak bisa soalnya...". Padahal soal-soalnya tidak banyak dan persis sama dengan yang dipelajari semalam. Saya mohon bantuannya bagaimana menghadapi anak saya ini? Terima kasih.

JAWABAN :

Bambang Syumanjaya :

Pak John yang lagi bingung dan hopeless, saya mengerti benar perasaan Bapak yang bingung terhadap tingkah laku anak Bapak karena tidak mau menulis di sekolah. Saya berasumsi bahwa ia di rumah bisa menulis dengan baik, kesulitan terjadi hanya di sekolah. Kalau keadaannya seperti ini Bapak harus mencari tahu informasi dari pihak sekolah, apakah dalam kesehariannya juga terjadi hal yang sama? Apakah pernah terjadi antara hubungan guru dan anak Bapak? Temukan akar masalahnya dan carilah jalan keluarnya. Sedangkan apabila keadaannya bahwa anak Bapak mengalami kesulitan menulis baik di rumah dan di sekolah, maka sebaiknya segera diajak bertemu dengan psikolog atau ahli yang kompeten untuk mengenali masalah apa yang terjadi dalam diri anak Bapak, khususnya yang berhubungan dengan kemampuan menulisnya. 

Jarot Wijanarko : 

Kasus yang sama persis saya hadapi ketika anak saya kelas 1 hingga kelas 2 SD (sekarang dia sudah kelas 3 SMP). Dia secara radikal malas bahkan TIDAK MAU menulis. Ulangan bagian multiple choice yang tinggal melingkari dikerjakan, begitu bagian menulis, walau 1 kata, kosong, alasannya "Nggak sempat", "Malas nulis" dll dan kadang di lembar jawab, justru ada gambar tank atau helikopter maupun kapal, sehingga sering nilainya hanya 3 atau 4. Anak saya naik kelas karena kalau ujian kenaikan soalnya berbentuk multiple choice dan mendapat bobot 2x lipat, namun pelajaran bahasa Indonesia nyaris merah dan nyaris tidak naik kelas.

Kami suami isteri juga sempat hopeless karena anaknya cuek-cuek saja dengan nilai ulangan 3 atau 4. Wajahnya tetap ‘penuh damai sejahtera', malah mamanya yang mules kalau musim ujian.  Marah sampai lembut, tidak ada dampak, dimarahi, dinasehati diam.

Waktu itu saya konseling ke psikolog, yaitu Dr.Heryanti Psi (Dia praktek di Cempaka Mas, ada juga psikolog Destrina - buka praktek di Sumarecon Serpong. Jika memerlukan kontak kedua psikolog tersebut, email saya ke jarotwj@yahoo.com) dan ternyata ada banyak ‘pasien' lainnya, anak laki-laki kelas 1-2 SD  malas nulis luar biasa.

Ketika anak laki-laki usia PG & TK diajari menulis, dia akan bisa dan mampu menulis, tetapi karena sebenarnya belum waktunya, maka itu justru menjadikan hal tersebut sebagai pengalaman ‘traumatis'. Dia BISA menulis, tetapi menulis itu BEBAN, susah, bagaikan kuk, tidak menyenangkan, bahkan ia membencinya. Fenomena serupa tidak atau jarang di jumpai pada anak perempuan.

Kami butuh waktu 2-3 tahun untuk menyembuhkan hal tersebut. Ketika anak saya mulai mau menulis, tulisannyapun besar-besar, bahkan besarnya luar biasa. Kalau orang lain 1 halaman bisa 40 kalimat, maka dia hanya untuk 2 atau 3 kalimat. Kalau bisa kecil, maka seperti tulisan dokter, tidak terbaca dan kalau ulangan, karena gurunya tidak bisa membaca, juga disalahkan.

Butuh kesabaran yang luar biasa untuk menyembuhkan. Anak saya sekarang sembuh. Jika dia mulai mau menulis, walaupun besar atau tulisannya jelek, berikan dia rewards (pujian/ imbalan).  Anak harus diubah pikirannya,  bahwa menulis itu mengasyikkan, ajak dia menulis hal-hal yang dia sukai, seperti senjata, game dll.  Jika dengan pencil atau bulpen sulit, bisa dimulai dengan spidol, yang lebih mudah untuk menulis walau tulisannya besar-besar, yang penting menulis dulu.

Jangan dipaksa dan jangan diberi target terlalu tinggi, targetkan saja yang penting naik kelas. Makin dipaksa akan makin malas. Jangan berharap cepat sembuh, tetapi sebenarnya dia bisa sembuh, hanya perubahan itu begitu kecilnya. Berikut ini kesaksian tentang anak saya tersebut, yang sempat dimuat di TABLOID KELUARGA.

Rumah Perubahan

Anak saya nomor dua, Benaya, kelas 2 SMP, telah dinyatakan sebagai penerima program beasiswa sekolah SLTA oleh Pemerintah Singapura, ASEAN SCHOLARSHIP. Di sekolahnya, Rafles Chritian International School, dia mendapat rangking satu, berbagai mata pelajaran mendapat nilai A -Plus.

Kami orangtua juga tenang melepas dia ke luar negeri, karena secara pribadi dia sangat rohani, teman-temannya memanggil dia ‘pendeta'.  Dia membuat statemen di facebooknya atau di berbagai acara, bahwa dia ‘berperang' melawan pornografi, rokok dan drug.  Sebelum tidur ia saat teduh, membaca renungan harian, dan melakukan doa pribadi. Di gereja  ia melayani sebagai pemain keyboard atau terkadang sebagai singers.  Saya sering menjumpai ia berpuasa untuk perubahan teman-temannya.

Di kamarnya, ada berbagai poster buatan sendiri,  diantaranya dengan kalimat:

"If i can't, then i MUST"
"There is no FAILURE, only LEARNING EXPERIENCE"
"If my life shaking, then i must focus on my outcome"

Itulah cara dia untuk memotivasi dirinya sendiri, dengan menulis berbagai poster di pintu kamar, dinding kamar, bahkan di plafon/ langit-langit tempat dia tidur, dia pasang poster juga.  Ada lagi whiteboard besar di kamarnya, agenda dan target mingguan yang dia buat.

Masih ada beberapa tulisan dia tempel di dekat komputernya; "Main game 1 jam sehari",  "Usia 24 tahun lulus MIT",  "Nov 2009 berangkat ke Singapura untuk ASEAN SCHOLARSHIP",  "Turun berat badan 10 KG dalam 10 bulan kedepan".

Semua seolah-olah serba wah ketika berbicara tentang anak-anak kami. Namun sebenarnya tidak ada yang instant. Anak baik dan anak pandai tidak turun dari langit.

Tujuh tahun lalu, anak yang sama penuh dengan masalah. Dia hampir tidak pernah menulis agenda harian dari sekolah, tidak tahu apakah ada PR atau tidak. Beberapa kali, pihak sekolah memanggil isteri saya, dan beberapa kali pihak antar jemput meninggalkan dia, karena dia belum menulis agenda dan tidak boleh pulang, dan isteri harus ke sekolah untuk menjemputnya, itupun setelah gurunya sudah tidak bisa menunggu lebih lama, karena ia hanya duduk di bangku bagaikan patung tanpa menulis apa-apa di agendanya.

Hampir  tidak naik kelas, karena nilai ulangan sekitar angka 3 saja (dari skala 10 angka).  Ia malas menulis, jadi jika ada ulangan, lembar jawaban kosong, ia hanya menjawab  soal yang pilihan tinggal melingkari. Setiap hari sulit sekali dibangunkan, bahkan setelah dimandikanpun ia akan segera tidur kembali, dan masih banyak masalah lainnya yang tidak bisa diceritakan semuanya.

Kami bertekad bahwa ia harus dan pasti bisa berubah. Setelah kami suami isteri dan anak ke konselor psikolog, beberapa terapi kami lakukan, tapi satu hal yang saya mau sharingkan: "Berikan anak rewards, perhatian, pujian untuk setiap perubahan, sekecil apapun asal ke arah positif"

Misal setelah melalui 2 bulan pendampingan, kami suami  isteri mengurangi segala kegiatan pelayanan, maka nilai ulangan harian berubah dari 3.5 menjadi 4.0. Ini artinya sudah ada perubahan kecil ke arah yang lebih baik. Berikan pujian karena ia bertambah 0.5 poin! Jangan menunggu ia mendapat nilai 8 baru dipuji dan ketika nilai 4.0 dimarahi, karena ia sudah berubah ke arah positif. Jika Anda konsisten dengan prinsip ini, percaya saya, keluarga Anda akan menjadi Rumah Perubahan. Gbu. http://www.jarotwijanarko.org/



Apakah Anda diberkati oleh artikel di atas? Anda ingin mengalaminya? Ikuti doa di bawah ini :

Tuhan Yesus, aku menyadari bahwa aku seorang berdosa yang tidak bisa menyelamatkan diriku sendiri. Aku membutuhkan Engkau. Aku mengakui bahwa aku telah berdosa terhadap Engkau. Saat ini aku minta agar darah-Mu menghapuskan segala kesalahanku. Hari ini aku mengundang Engkau, Tuhan Yesus, mari masuk ke dalam hatiku. Aku menerima Engkau sebagai Tuhan dan Juru Selamat satu-satunya dalam hidupku. Aku percaya bahwa Engkau Yesus adalah Tuhan yang telah mati dan bangkit untuk menyelamatkan dan memulihkanku. Terima kasih Tuhan, di dalam nama Tuhan Yesus Kristus aku berdoa. Amin!


Saya sudah berdoa dan mempercayai Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat secara pribadi


Comments: 3

rien_dunk : 2012-05-05 20:54:29
Sepertinya saya juga mengalami masalah yang sama seperti yang dialami oleh parents diatas. Akan tetapi usia anak saya saat ini baru 4,5 tahun. Saya bisa memaklumi kekurangsukaan anak saya untuk menulis di TKnya, tapi bagaimana caranya menyadarkan para guru yang memaksa muridnya menulis dengan memberikan tugas menulis yang memang saya rasa terlalu banyak, hingga anak jenuh dan serring mengeluh capek. Dan yang lebih menyedihkan komentar guru yang terkadang bikin anak merasa "saya tidak bisa", "saya nakal", dll. Bagaimana klo sudah begini? mohon pencerahan......

James : 2010-09-03 12:10:32
Anak saya laki-laki usia 9,5 tahun dan duduk dikelas V SD. Sejak kelas I SD hingga saat ini keluhan atas kondisinya yaitu tidak mau menulis, menulis sedikit langsung mengeluh capek dan tulisannya tidak rapi. Di sekolah guru-guru mengeluhkan hal yang sama, catatan tidak selesai, ulangannya tidak selesai dan tulisan susah dibaca. Saya dan istri saya selama ini selalu ekstra perhatian terhadap masalah ini. Waktu usia 6 thn anak kami operasi Amandel dan Adenoid di belakang hidung. Saat itu kami byk membaca ttg Amandel, bhw dpt mengganggu konsentrasi anak apabila tidak dibuang (Amandel anak kami memang sudah tidak normal, jd kami putuskan dibuang).Setelah itu, kami pernah mengikutkannya test psikolog, hasilnya anak kami kurang konsentrasinya. Kami juga mendapat keluhan dari guru, pada jam pelajaran berlangsung dia sering melamun/mengutak-atik peralatan tulis/bercerita dgn temannya. Istri saya sering sekali tidak bisa mengontrol emosinya, sehingga anak kami kelihatannya tidak mematuhi perkataan istri saya. Dulu dia sering mengeluhkan bahwa dia tidak suka ulangan yang menulis soal dan jawaban, dia mau ulangan pilihan ganda. Tetapi sudah peraturan di sekolah anak kami sejak kelas I SD soal ulangan harian dan jawaban ditulis. Kecuali pada saat Ujian Semester baru dibagikan lembaran soal, itupun soalnya essay bukan pilihan ganda. Apakah perlu saya memindahkan anak saya ke sekolah lain ataukah ada cara lain yang bisa membantu kami? Anak kami dalam hal ujian lisan hasilnya bagus. Guru di sekolah juga mengatakan bahwa anak kami pintar, tetapi kemauan belajarnya kurang dan sikap acuhnya tinggi. Apakah belum terlambat bagi anak kami untuk sembuh ? Kami sangat mengharapkan bantuan Bapak. Terima kasih.

John Hendra : 2009-07-17 10:47:03
Terima kasih saya ucapkan buat jawaban yg diberikan dari Pak Bambang dan Pak Jarot. Dan tampaknya kasus yg saya alami ini juga pernah di alami Pak Jarot dan dari penjelasan yg diberikan oleh Pak Jarot sangat membuka wawasan saya, dan saya hampir bisa memastikan penyebab utama kenapa anak saya ini tidak mau menulis. Seperti yg dikatakan Pak Jarot MENULIS bagi anak saya adalah BEBAN dan TIDAK MENYENANGKAN, anak saya memang 'terlalu dini' mengenal sekolah. Dia sudah ikut PG sejak usia 1 th, itu dikarenakan waktu itu istri saya masih bekerja. Setelah kami membaca kesaksian dari Pak Jarot kami bertekad bahwa kami juga bisa 'menyembuhkan' anak kami ini. Sekali lagi kami menngucapkan banyak terima kasih atas jawaban yg diberikan atas masalah kami ini.



Teaching