JC Alert - Health
JC Alert (Beta Ver.)
Pengumuman Pemenang Kuis Planetshakers
Pemenang Lomba Puisi Harapan Bagi Indonesia
Pengumuman Pemenang Kuis TW Youth
Pengumuman Pemenang Jawaban.Com FB Competition
Kenal Lebih Dekat Moderator Forum Yuk....
Gabung yuk di Mukjizat Terjadi at Yahoo Group
Celebrate Our Savior! Listen to CBN Radio
Health
Chat Email SMS Milist
Chating Online 24 Jam. Kapanpun dan dimanapun Anda bisa menghubungi konselor kami via chating disini!
Mau curhat atau konseling via email?
Segera kirimkan email ke konsultasi@jawaban.com sekarang juga
Konselor kami akan selalu siap menjawab email Anda dan mendoakan segala permasalahan yang Anda hadapi
Anda bisa konseling, minta dukungan doa atau bahkan curhat tentang apa saja disini, Konselor kami akan selalu setia melayani Anda. Nonstop 24 jam.

Hubungi HOTLINE 021-89903344 dan TOLL FREE 0-800-151-3344 (bebas pulsa khusus PSTN (non-selular) dari luar DKI Jakarta)

Ingin curhat via SMS? SMS ke 0817-994-3344
MENYADARI PENGELUARAN YANG TIDAK WAJIB
Posted On : 05-07-2007
View : 4091 times

Saya pernah bertemu sepasang suami-istri yang berada pada masa-masa awal perkawinannya. Namanya, sebut saja Yanto dan Lilis. Mereka berdua datang kepada saya sekitar Juni 2000, di mana keduanya berusia sekitar 29 tahun. Belum punya anak, karena mereka berdua masih ingin menundanya sampai sekitar dua-tiga tahun lagi.

Mereka datang kepada saya dengan membawa masalah. Keduanya sama-sama bekerja, dengan penghasilan total sekitar Rp 2 juta per bulan. Total keduanya. Tapi pengeluaran mereka per bulan sekitar Rp 2 juta sampai 2,3 juta. Ini berarti, mereka terkadang juga mengalami defisit, dan defisit itu selalu diambil dari tabungan mereka, sehingga kalau dibiarkan terus, tabungan mereka akan terus menyusut sampai akhirnya habis sama sekali.

Sementara dari pengeluaran tadi tak ada sedikit pun yang ditabungkan. Karena itu, mereka datang kepada saya dengan harapan bahwa saya bisa memecahkan masalah mereka, sehingga tabungan mereka tidak akan habis hanya untuk menutupi defisit bulanan.

Saya menyebut ini sebagai Konsultasi Anggaran. Kami duduk bertiga di sebuah meja bundar, dan saya mulai mengamati catatan pemasukan dan pengeluarannya. Saya menyadari bahwa pada umur-umur seperti ini di mana keadaan keuangan mereka belum baik, mereka harus melakukan sejumlah penekanan pada pengeluaran mereka.

"Kita harus menekan pengeluaran-pengeluaran ini." Kata saya sambil menunjuk pada kertas yang berisi pengeluaran-pengeluaran mereka.

"Ya... kami setuju," kata Yanto. Ia menoleh pada Lilis istrinya. "Kami memang harus menekan pengeluaran-pengeluaran kami. Makanya kita datang kepada Anda, Pak Safir."

Saya melihat pada catatan pengeluaran mereka. Di situ ada 25 pos pengeluaran yang mereka lakukan tiap bulan, hanya untuk biaya hidup saja. Di luar cicilan hutang dan premi asuransi.

Saya mulai menunjuk pada salah satu pos pengeluaran.

"Coret ini..." kata saya. Iuran langganan teve kabel, Rp 145 ribu sebulan.

Lilis membelalakkan matanya. "Lo, nanti kita enggak nonton apa-apa dong..."

Saya mendekatkan kepala saya. "Ada lima stasiun teve Indonesia yang bisa Anda tonton Mbak Lilis," kata saya sambil menyebutkan kelima stasiun yang pasti sudah Anda tahu juga. "Anda masih bisa tetap nonton teve meskipun Anda tidak berlangganan lagi teve kabel." Apalagi jumlah stasiun teve juga masih akan terus bertambah.

Konsultasi anggaran memang tidak selalu disukai oleh klien saya. Ini karena kadang-kadang mereka harus menekan pengeluaran-pengeluaran bulanan yang mungkin "berat" untuk ditekan. Tapi untuk menekan defisit mereka, memang harus ada yang dikorbankan.

Lilis masih kelihatan keberatan. Saya menatapnya lekat-lekat. "Anda masih mau defisit atau tidak?"

Lilis tidak bisa menjawab apa-apa. Ia hanya menoleh pada suaminya seperti meminta "pertolongan" dan berharap suaminya ikut bicara. Tapi Yanto hanya merangkul Lilis dan tersenyum kecil sambil berkata pelan, "Enggak apa apa..." Dia bisa mengerti bahwa memang itulah pengorbanan yang harus mereka lakukan untuk sementara.

Saya berkata lagi, "TV kabel itu enggak wajib. Anda berdua mungkin tahu tapi tidak menyadarinya. Malah -- maaf kalau saya harus terus terang -- kebanyakan pengeluaran-pengeluaran kita sebagai manusia sebetulnya enggak perlu dan enggak wajib."

"O ya?" Yanto terheran. Ia menoleh ke kertas catatan pengeluarannya.

"Ya," kata saya. "Lihat ini..." saya mulai menunjuk.

"Keanggotaan fitness. Enggak wajib!"

Saya menunjuk lagi ke pos di bawahnya. "Hiburan, enggak wajib..."

Sebelum saya meneruskan, Lilis memotong, "Lo, bagaimana kita bisa hidup kalau itu semua harus dihilangkan?"

"Saya tidak mengatakan bahwa Anda harus menghilangkan semua pengeluaran yang tidak wajib ini. Yang saya maksud, ada pos-pos yang memang wajib Anda bayar, dan jumlah yang harus Anda bayar memang sudah wajib sebesar itu. Tapi ada pos-pos lain yang memang sifatnya tidak wajib, di mana pada pos-pos ini Anda leluasa untuk menekan jumlah pengeluaran Anda. Tidak perlu dihilangkan kalau memang Anda tidak mau."

Mereka kelihatan mulai mengerti. Malah sebetulnya, Anda - pembaca - boleh percaya boleh tidak, bahwa banyak sekali pengeluaran-pengeluaran yang kita lakukan sebetulnya sifatnya tidak wajib, sehingga Anda bisa leluasa menekan jumlah pengeluarannya. Sebut saja: Fitness? Rekreasi? Nonton? Semua itu tidak wajib. Paling tidak dari sekali seminggu, bisa Anda kurangi menjadi sekali dalam dua minggu atau sekali sebulan.

Telepon? Enggak wajib. Kurangi bicara yang tidak perlu di telepon. Selain menghabiskan energi, juga menghabiskan biaya.

Makanan? Enggak wajib. Ada banyak bahan makanan yang sebaiknya Anda beli, tapi ada juga bahan makanan yang bisa Anda belakangkan prioritasnya. Biskuit misalnya.

Baju? Enggak wajib. Baju memang penting, tapi Anda mungkin bisa menekan jumlah rupiah yang Anda keluarkan untuk baju kalau memang pengeluaran Anda untuk baju terasa besar. Kalau biasanya beli baju baru sebulan sekali, sekarang coba dijadikan dua bulan sekali.

Mudah-mudahan Anda mengerti maksud saya bahwa hampir semua pengeluaran yang Anda lakukan sifatnya adalah tidak wajib. Sekali lagi, tidak wajib di sini adalah bahwa jumlah uang yang Anda keluarkan sebetulnya tidak harus sebesar sekarang. Anda bisa menekannya kalau Anda mau, terutama apabila Anda selalu mengalami defisit setiap bulan. Anda bisa kalau Anda mau.

Jangan merasa tertekan atau terjebak dengan tulisan saya kali ini. Di lain pihak, memang ada banyak pengeluaran dalam hidup Anda yang tidak bisa Anda ubah dengan mudah atau dengan cepat. Sebagai contoh, kalau Anda membeli kendaraan seperti mobil atau motor, Anda pasti akan dengan rutin mengeluarkan biaya untuk perawatannya, di mana jumlahnya tidak selalu bisa Anda tekan.

Anda bisa mengendalikan pengeluaran-pengeluaran yang tidak wajib itu kalau Anda mau. Hanya saja Anda mungkin belum menyadarinya karena Anda sudah terlalu lama mengeluarkan jumlah uang yang sama untuk membayar pengeluaran-pengeluaran tersebut.

Prinsipnya, bila pengeluaran Anda setiap bulannya selalu lebih besar daripada pemasukan Anda (defisit), hal itu biasanya terjadi bukan karena kecilnya penghasilan Anda, tapi karena sikap Anda sendiri. Dan sikap itulah yang harus berubah terlebih dahulu kalau Anda ingin menghilangkan defisit Anda setiap bulan.

Kalau sikap Anda tidak berubah, maka seberapa pun besarnya penghasilan Anda nantinya, Anda tetap saja akan mengalami defisit. Sampai kapan pun. (Oleh: Safir Senduk, dikutip dari Tabloid NOVA No. 656/XIII)


Sumber :

       Print | Kirim | Comment Archive

1. Name : yanti
Date : 31-05-2008 14:26
Comment :
tipsnya patut dicoba. terimakasih, mudah2an saya bisa menerapkannya dan berhasil. GBU

2. Name : Wanda Laurentius
Date : 05-05-2008 01:22
Comment :
Infonya bagus sekali pak. Tapi saya juga ada masalah. Saya seorang mahasiswa yang mendapatkan kiriman bulanan dari orang tua. Jumlahnya 2jut per bulan. 655ribu buat bayar kostan sisanya buat makan dll. Tapi saya bingung cepat sekali habisnya mohon bantuannya agar saya bisa berhemat ya..email saya di laurentz_irokesen@yahoo.com

3. Name : Fergiawan
Date : 29-08-2007 20:38
Comment :
Makasih Pak Safir Senduk...akhirnya saya tahu rahasia untuk menabung.

4. Name : SK
Date : 09-08-2007 15:36
Comment :
Thanks pak Safir infonya, sangat membantu sekali

:: MENGENAL POS-POS PENGELUARAN YANG BESAR
:: SELAMAT BERKAT TABUNGAN PENDIDIKAN
:: Anak dan Kebiasaan Menabung
:: Membangun Pola Menabung Berkala (1)
:: Membangun Pola Menabung Berkala (2)
:: Tips Keuangan Bagi Para Single
:: Bayar Diri Anda Dulu
:: Mengenal Pos-pos Pengeluaran Yang Besar (1)
:: Gaji Cepat Habis? Ini Solusinya!
:: Menyusun APBN Rumah Tangga
:: Asuransi Atau Tabungan, Mana Lebih Penting?
:: Ukur Kemampuan Sebelum Beli Rumah
:: Alasan Seseorang Tak Beri Pinjaman Uang
:: Aman Saat Bertransaksi Online
:: Manajemen Amplop
:: 10 Kebiasaan Mengembangkan Stabilitas Finansial
Tuhan akan menolong orang yang mau menolong dirinya sendiri. Seringkali kita berteriak-teriak minta tolong, pada hal kita terkunci dalam ruangan yang kuncinya ada ditangan kita sendiri.