Share Your Story
Between Me And Papa Gustianto
SATURDAY, 04 FEBRUARY 2012
Total View : 1473 times
Persahabatan memang tidak mengenal usia atau pun status. Itulah yang saya rasakan saat ini dengan Papa Gustianto. Pada awalnya saya mengenal beliau tidak lebih hanya pada saat bertemu di gereja. Tidak pernah saling tegur, apalagi berbicara. Bahkan saya nyaris tidak mengenalnya. Saya baru "menyadari" keberadaan beliau pada saat beliau mengajar pelajaran Alkitab. Selebihnya, saya disibukkan dengan berinteraksi bersama teman-teman saya yang umurnya sebaya.
Hingga suatu saat kami dipertemukan dalam suatu sesi dimana beliau menjadi pembimbing saya. Jujur saja, saya kurang merasa nyaman saat itu. Soalnya beliau menanyakan hal pribadi yang tidak ingin saya bahas dengan orang lain. Bahkan teman-teman akrab saya pun tidak pernah saya ceritakan. Kenapa juga harus dengan orang "asing" di luar lingkaran teman akrab saya?
Pada saat menjawab pertanyaan yang beliau ajukan, saya menjawab dengan acuh tak acuh bahkan berbohong!! Padahal beliau adalah wakil gembala di gereja kami tapi saya tidak peduli dengan hal itu. Yang penting zona nyaman saya jangan diganggu. Namun, hal yang tidak saya duga malah terjadi. Beliau memeluk dan mendoakan saya. Bahkan beliau meminta saya memanggilnya papa. Sungguh, saya sangat terkejut! Kenapa orang ini? Dia tidak mengenal saya tapi saya dianggap anak? Apalagi saya memang sudah lima tahun ditinggalkan papa saya untuk selamanya. Saya sampai bertanya dengan polos, apakah saya bisa memanggilnya papa hanya saat acara berlangsung atau bisa jangka panjang? Beliau mengatakan saya bisa memanggilnya papa sampai kapan pun.
Ajaibnya, sejak saat itu saya yang selalu memulai untuk akrab dengan beliau. Bukan hal yang mudah tentunya karena dengan jarak usia yang sangat jauh, ditambah dengan status beliau membuat saya merasa canggung berbicara langsung. Maka gadgetlah yang menjadi medium antara saya dengan beliau. Saya yang aktif mengirimkan pesan singkat kepada beliau, mulai dari sekedar menyapa atau bahkan menceritakan masalah yang sedang saya hadapi. Jika saya menunjukkan rasa akrab "di belakang layar", lain halnya dengan Papa Gustianto, beliau malah terang-terangan di depan umum. Cara beliau menjabat tangan, menepuk pundak, bahkan apa yang menjadi topik pembicaraan dengan saya sangat jelas berbeda dibanding dengan orang lain. Hal itu ibarat simalakama bagi saya. Satu sisi memang saya senang dan bangga mendapat "perhatian khusus", tapi di sisi lain bisa menimbulkan "kecemburuan sosial". Maka dari itu, jika di depan umum saya berusaha "senormal" mungkin. Akan tetapi jika hanya kami berdua, saya dengan terang-terangan mengungkapkan apa yang menjadi uneg-uneg atau hasil pemikiran saya secara bebas.
Saya senang,karena Papa Gustianto orangnya terbuka akan hal-hal baru dan tidak menggurui sehingga membuat saya merasa nyaman. Apalagi, saya memang masih membutuhkan figur seorang ayah, tentunya ada kesan tersendiri. Bahkan saya pamer pada teman-teman saya seperti anak kecil lagi, kalau saya punya papa baru. Tentu saja mereka kaget, kapan mama saya nikah lagi? Namun setelah saya jelaskan, barulah mereka mengerti. Walau banyak juga yang mengira beliau ayah kandung saya, padahal dimana miripnya? Memang banyak teman saya yang belum pernah melihat atau bertemu dengan ayah kandung saya sehingga saat saya menggunakan foto berdua dengan Papa Gustianto, wajar jika mereka berpikir demikian.
Akan tetapi, bukannya tidak pernah ada konflik diantara kami. Malah lebih mudah menyelesaikan jika dengan yang seumuran. Memang, kami tentu tidak berkelahi atau rebutan pacar seperti yang seumuran hanya saja perbedaan usia yang sangat jauh mempengaruhi cara pandang sekaligus pola pikir. Saya suka kesal dengan cara beliau yang menurut saya lambat atau beliau juga tidak paham apa yang sedang menjadi pembicaraan populer. Sehingga jika saya membicarakan hal tersebut, saya harus menjelaskan dari awal, baru beliau mengerti. Selain itu, setiap beliau memberi wejangan, harus berdasarkan Kitab Suci. Padahal menurut saya apa susahnya hanya memberi saran atau masukan umum?
Beliau juga sama, kurang suka jika saya pergi bersama teman-teman saya dibanding menemani ibu saya, apalagi melihat saya ogah-ogahan dalam beribadah karena buat saya membosankan. Gesekan demi gesekan makin nyata ketika orang-orang di sekitar kami mungkin sengaja atau pun tidak, turut campur dalam urusan kami. Hanya hari minggu saya bisa bicara langsung dengan beliau, tapi entah kenapa "pasien" yang datang pada Papa Gustianto tidak kunjung habis. Padahal yang dibicarakan biasa saja, bukan hal penting atau mendesak. Demikian pula jika kami pergi bersama, ada saja yang dominan bicara sehingga saya tidak punya kesempatan. Jelas saja itu membuat saya kesal. Karena,bagi saya apa yang ingin saya katakan jauh lebih penting. Jika melalui gadget, belum tentu maksud yang saya sampaikan sama dengan apa yang beliau pikirkan. Tapi ya ampun susahnya hanya untuk bicara saja!
Masalah kian menjadi rumit karena ada orang yang mengadu domba kami. Sehingga mama tidak suka saya bergaul dengan Papa Gustianto. Saya yang sudah terbakar emosi malah minggat dan menginap di rumah teman. Saya mengatakan kepada beliau supaya menghapus nomor saya, anggap saja kita tidak saling kenal seperti sebelumnya. Saat itu, saya benar-benar kalap. Bahkan supaya beliau membenci saya, saya sengaja melontarkan kata-kata yang kurang sopan. Beberapa hari kemudian, tepatnya hari minggu malam, beliau menghubungi saya dan bertanya kenapa saya tidak pergi ibadah. Mulanya saya tetap pada ego yang masih memuncak. Setiap nasehat yang dikatakannya selalu saya bantah. Sehingga kami cukup lama berbicara di telepon. Tapi hati kecil saya sedih dan menyesal kenapa saya harus bersikap seperti itu? Padahal selama ini beliau tempat saya mengadu. Bahkan masalah yang sahabat terdekat saya tidak tahu, saya ceritakan padanya. Beliau meminta saya supaya tekun dalam doa juga puasa. Sehingga sedikit demi sedikit saya mulai sabar dalam menghadapi cobaan hidup.
Sayangnya, gengsi melebihi segalanya. Saya tetap tidak mau merasa salah. Saya tetap pada pendirian saya untuk "bermusuhan" walau hati saya terus berkecamuk. Hingga suatu hari, salah seorang jemaat mengadakan syukuran atas tumah baru dan kami bertemu namun tidak saling tegur sampai acara ibadah berakhir. Satu per satu orang-orang turun dari lantai dua untuk mengambil makan malam. Tinggallah saya dan beberapa orang di atas. Saya sengaja menunggu orang lain turun dulu. Tapi ternyata Papa Gustianto sedang berdiri di pinggir tangga! Aduh,saya mau turun lewat mana ini? Apalagi masih ada beberapa orang di antara kami, terlalu kelihatan jika saya mengacuhkannya. Akhirnya saya memutuskan untuk membuang keegoisan saya. Saya datang menghampiri beliau, menjabat tangannya dan meminta maaf. Papa Gustianto memeluk saya, dan sikapnya sama sekali tidak berubah. Ia seperti biasa, berbicara, dan bahkan mengajak bergurau. Hati saya sungguh damai. Rasanya seperi gurun pasir yang diterpa hujan. Begitu sejuk. Bahkan, kami pulang bersama-sama.
Sejak saat itu, saya tidak peduli dengan gosip atau isu miring tentang kami. Buat apa dipikirkan? Hanya cari penyakit dan mempersulit hidup saja. Malahan, saya "memproklamirkan" hubungan saya dengan Papa Gustianto sangat akrab. Saya terang-terangan memanggil beliau "papa" di depan semua orang. Bahkan foto kami berdua menghiasi semua jejaring sosial yang saya miliki. Tentu saja itu menimbulkan reaksi dari teman-teman saya, namun kali ini sangat positif. Ada yang kagum, ada juga yang bilang sungguh inspiratif, bagaimana saya bisa menjalin persahabatan dengan generasi yang jauh di atas saya.
Dari Papa Gustianto saya belajar banyak hal, salah satunya adalah bahwa orangtua ataupun orang-orang yang lebih tua jauh di atas kita pun bisa kita jadikan sahabat. Cobalah memulai menawarkan persahabatan lebih dahulu kepada mereka, dan kita akan menerima "pantulan" yang sama pula. Hormati mereka bukan karena takut, basa-basi, atau karena norma kesopanan dan etika. Melainkan dengan kasih, kejujuran juga kepercayaan. Risang Bayu Citra Saptadi
Tag Keyword : persahabatan, papa gustianto, papa, gereja
Diedit oleh : 198, Diedit oleh : lestari99
Segala sesuatu yang berkaitan dengan isi dan kebenaran dari kisah di atas diluar tanggung jawab Jawaban.com
Upload Your Story :

Tuhan Yesus, aku menyadari bahwa aku seorang berdosa yang tidak bisa menyelamatkan diriku sendiri. Aku membutuhkan Engkau. Aku mengakui bahwa aku telah berdosa terhadap Engkau. Saat ini aku minta agar darah-Mu menghapuskan segala kesalahanku. Hari ini aku mengundang Engkau, Tuhan Yesus, mari masuk ke dalam hatiku. Aku menerima Engkau sebagai Tuhan dan Juru Selamat satu-satunya dalam hidupku. Aku percaya bahwa Engkau Yesus adalah Tuhan yang telah mati dan bangkit untuk menyelamatkan dan memulihkanku. Terima kasih Tuhan, di dalam nama Tuhan Yesus Kristus aku berdoa. Amin!
Saya sudah berdoa dan mempercayai Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat secara pribadi
Other Articles
Teaching
Dapatkan Jodoh yang Terbaik (1)
youtube.com by lois horiyanti/jawaban.com
Di dalam hidup kita, tidak ada kelengkapan gambar Allah, yang perempuan harus dilengkapi dengan yang pria, yang pria harus dilengkapi dengan wanita. Gambar Allah itu dua-duanyaPrecious Minutes
Video Teachings by :
TV Programs
| Stasiun | Lokasi | Hari | Jam Tayang |
|---|---|---|---|
| SCTV | Jakarta | Senin | 24.30 WIB |
| SBO TV | Surabaya | Kamis | 21.00 WIB |
| Life Channel | Jakarta | Rabu | 03.00 & 20.00 WIB |
| Sabtu | 03.00 & 20.00 WIB | ||
| Family Channel | Jakarta | Sabtu-Minggu | 09.00, 12.00, 20.00, 23.00 & 02.30 WIB |
| Jogja TV | Yogyakarta | Senin | 21.30 WIB |
| Molucca TV | Maluku | Senin-Jumat | 21.00 WIT |
| GO TV | Manado | Senin & Kamis | 18.30 WITA |
| Stasiun | Lokasi | Hari | Jam Tayang |
|---|---|---|---|
| O-Channel | Great Jakarta | Rabu | 22.00 WIB |
| Kamis | 22.00 WIB | ||
| Jumat | 22.00 WIB | ||
| Life Channel | Jakarta | Senin | 03.00 & 20.00 WIB |
| Selasa | 03.00 & 20.00 WIB | ||
| Kamis | 03.00 & 20.00 WIB | ||
| Jumat | 03.00 & 20.00 WIB | ||
| Family Channel | Jakarta | Senin-Jumat | 10.30, 19.30, 02.00, 03.30, & 04.30 WIB |
| SBO TV | Surabaya | Selasa | 21.00 WIB |
| Minggu | 05.30 WIB | ||
| B Channel | Jakarta | Sabtu | 07.30 WIB |
| Minggu | 07.30 WIB | ||
| U Channel | Jakarta | Selasa | 01.00, 04.30, 13.30, & 17.30 WIB |
| Rabu | 00.30, 06.30, 10.30, 14.30 & 23.30 WIB |
| Stasiun | Lokasi | Hari | Jam Tayang |
|---|---|---|---|
| TPI | Jakarta | Jumat | 24.30 WIB |
| MNC TV | Jakarta | Jumat | 24.30 WIB |
| U-Channel | Jakarta | Kamis | 01.00 & 04.30 WIB |
| Jumat | 01.00, 03.30 & 23.30 WIB | ||
| GO TV | Manado | Rabu & Sabtu | 23.30 WITA |
| Stasiun | Lokasi | Hari | Jam Tayang |
|---|---|---|---|
| Bandung TV | Bandung | Sabtu | 22.00 WIB |










COMMENTS
COUNSELLING
* Divalia'
2012-03-10 14:15:47* Octo'
2012-03-07 10:07:46