JC ID

Pass

Forget?

Register?

Thread

Video

Photo Box

Article

Pray For

Husband & Wife

Oral Seks Bolehkah?

View :3146 clicks


Nama : Sylvia Lukman
Umur : 33
Profesi : Karyawan Swasta
Kota : Bandung

PERTANYAAN :

Apakah oral seks dalam suatu pernikahan diperbolehkan ?

JAWABAN :

Ke kota manapun saya seminar "couples' bahkan pelosok kota kabupaten di Halmahera Utara atau Papua, pertanyaan ini selalu muncul. Waktu saya melakukan jajak pendapat tentang "oral seks', dari 1000-an orang yang merespons, ternyata 60% pria setuju oral seks, 20% pria menentang, 20% abstain atau tidak tahu dan 60% wanita menentang oral seks, 10% setuju dan 30% tidak tahu.

"Oral seks', sama halnya dengan onani dan masturbasi memang menimbulkan pro dan kontra di banyak kalangan. Di dalam satu kelompok agama pun terdapat berbagai macam pendapat, dan tidak semua tokoh agama mau mengungkapkan dengan jujur karena takut dianggap "tidak rohani', bahkan cukup banyak yang membuat "standar ganda' atau memasang "kuk' yang dia sendiri tidak sanggup melakukannya. Karena itu saya sampaikan di bawah ini pendapat berbagai kelompok dan juga pendapat saya pribadi. Anda tidak harus setuju, ini sebagai wacana dan masukan saja untuk dipertimbangkan.

a. Pendapat yang menentang "oral seks'

Orang yang menentang oral seks berpendapat bahwa seks diciptakan Tuhan dengan organ seks, masing-masing organ tubuh diciptakan sesuai fungsi dan peruntukannya. Mulut diciptakan Tuhan untuk berbicara, alat komunikasi, baik sesama atau dengan Allah, untuk memuji Allah atau bersyukur. Mulut diciptakan untuk makan. Mulut tidak diciptakan untuk sex.

b. Pendapat yang setuju "oral seks'

Orang  yang setuju dengan "oral seks'  mengatakan bahwa mulut juga adalah organ seks, memang bukan organ genetik / produksi, tetapi juga organ seks. Dalam mulut, lidah dan bibir ada saraf-saraf kepuasan seks, syaraf yang berhubungan dengan rangsangan seks, membuat orang merasa nikmat dan juga terangsang. Mulut dipakai untuk percumbuan dan menyatakan kasih sayang, bukan hanya untuk bicara dan doa. Misal dengan mencium, mengecup. Mulut juga organ kepuasan, dimana di dalam saraf-saraf di dalam mulut dipenuhi dengan pengecap kepuasan dan bukan hanya kepuasan terhadap rasa atau makanan. Seorang anak kecil atau bayi, sebelum fungsi organ seksualnya berkembang, maka pusat kenikmatannya adalah di mulutnya dengan mengedot atau mengenyot jarinya.

Mulut memang bukan organ "genetik' / produksi, bukan organ untuk menghasilkan keturunan, tetapi organ seks, dengan mulut orang berciuman dan terangsang, bahkan bisa ejakulasi, menikmati kepuasan seksual. Bahkan ketika dewasa pun manusia melakukan percumbuan, keintiman dengan berciuman bibir dan saling mengulum bibir atau bahkan mulut / memasukkan lidah ke mulut pasangan untuk mendapatkan kepuasan, puas karena memang ada syaraf-syaraf kepuasan seks di sana.

Orang setuju dengan "oral seks', sebagai penyaluran semasa isteri hamil, sakit melahirkan, datang bulan. Yang lain mendukung oral seks yang dilakukan oleh isteri terhadap suami untuk merangsang suami yang sudah loyo.

c. Pendapat saya pribadi

Pertama saya sarankan ikuti pendapat gembala, karena ini sudah memasuki wilayah theologis. Namun sebagai pribadi, saya menyatakan pendapat pribadi saya. Ini pendapat saya pribadi, tidak mewakili kelembagaan agama, tidak mewakili Yayasan dimana saya melayani, bahkan tidak mewakili  keluarga. Isteri saya juga termasuk tidak setuju dengan "oral seks'. Saya termasuk yang "bisa setuju' dengan beberapa syarat.

Saya sebenarnya setuju bahwa mulut memang bukan organ genetik tetapi organ seksual, sehingga secara theologis saya justru bisa menerima. Hanya saja untuk "oral seks' sebenarnya riskan untuk dilakukan dari sisi pendekatan medis, karena bagaimanapun dan sebersih apapun organ kelamin dicuci, disemprot bahkan sekarang tersedia parfum khusus untuk organ kelamin, mau rasa apel, rasa melon dll, tetap tidak mungkin higienis, tidak mungkin bersih. "Oral seks' bisa memicu sakit radang tenggorokan, batuk kering, radang saluran pernafasan dan infeksi mulut. 

Jika dilakukan sebatas "mencium' atau "mengecup' maka "relatif' aman, tetapi jika sebagai "menu utama', secara kesehatan saya tidak menyarankan. Seks harus sebagai pernyataan cinta kasih, sebagai ungkapan cinta dan lambang kedekatan hubungan. Jika salah satu "jijik' melakukannya, yang satu tidak boleh meminta pasangannya untuk melakukannya.

Saya setuju jika suami dan isteri memang sama-sama mau dengan sukacita serta menikmati dengan melakukannya. Jika isteri tidak mau maka juga tidak boleh dilakukan, karena itu berarti perkosaan, pemaksaan kehendak dan dosa karena motivasinya hanya untuk memuaskan diri sendiri, memuaskan fantasinya sendiri.

Saya setuju jika suami sudah menjadi impotent secara medis dan dia mau melayani, memuaskan isterinya dengan merangsang organ seksnya, klitorisnya baik dengan tangan atau lidahnya (oral) dan isterinya memang juga mau.

Saya setuju jika isterinya ada masalah medis, dalam masa hamil, dalam masa datang bulan atau keputihan atau masalah medis lainnya, sehingga tidak bisa melakukan persetubuhan yang wajar, dan dengan itu, secara sukacita dan sukarela dia mau melakukan "oral seks' untuk suaminya. Sekali lagi jika dan hanya jika isteri mau melakukan dengan senang / rela / ikhlas. Beberapa pasangan memilih melakukan hubungan intim bukan dengan mulut, tetapi dengan tangan. Karena isteri cacat medis atau suami impotent, maka mereka merangsang pasangannya dengan tangannya ke organ pasangannya, hingga pasangannya orgasme. 

Saya setuju dengan cara ini, dan ini berbeda dengan onani. Onani adalah dengan tangan sendiri, untuk organ seksnya sendiri, ada unsur egois dan ketidakpenguasaan diri. Sedangkan melakukan untuk pasangan adalah untuk memuaskan pasangan, karena mengasihi pasangan.

Dan dalam kesemuanya itu syarat mutlaknya adalah bahwa itu atas persetujuan bersama, dinikmati bersama, dalam rangka ungkapan kasih kita, bahwa kita mau melakukannya, karena kita mencintainya, untuk membahagiakannya.

Jujur, saya berikan kesaksian saya sendiri: Sebenarnya saya secara pribadi termasuk setuju dan ingin juga mencoba, bagaimana rasanya jika isteri saya melakukan "oral seks' terhadap saya. Bahkan saya juga beberapa kali memintanya untuk melakukannya.

Isteri saya punya pendirian dan pendapat, saya juga harus menghormatinya.  Pendapat isteri saya adalah:

"Saya tidak setuju oral seks, karena saya pernah membaca sebuah buku, dimana ada orang sedang dilayani "pelepasan' menggelepar-gelepar dan mulutnya monyong-monyong.  Berbagai roh "ditengking' dan menggeleparnya berhenti, namun tidak dengan "mulut monyong-monyongnya' sampai akhirnya, seorang pendoa syafaat mendapat "marifat' dan berteriak "roh oral seks keluar' maka berhentilah manifestasinya."

Isteri saya berkata kepada saya; "Saya tidak mau oral seks, karena saya menghormati kamu. Saya tidak bisa membayangkan jika kita melakukannya, lalu di sebuah kebaktian doa atau kepenuhan roh, saya atau kamu bermanifestasi "monyong-monyong' dan ditengking pendoa syafaat."

Bagi saya tidak masalah, saya memahami alasannya, dan saya tidak mau memaksa, karena bagi kami, sumber kebahagiaan pernikahan bukan hanya dari seks. Kami punya banyak sumber kebahagiaan. Jadi dengan tidak "oral seks', bukan berarti dia menolak pribadi saya, "oral seks' hanya sebagian kecil dari seks dan seks hanya sebagian kecil cara berhubungan. Kalau seks dilakukan dengan bergairah, dan tanpa "oral seks', saya yakin tidak akan menjadi masalah besar.

Hubungan akan bermasalah jika pasangan memiliki hubungan memang tidak baik. Pada saat seperti itu pasangan menolak "oral seks', maka terjadilah pertengkaran yang sebenarnya ada akar masalah lainnya, dan "oral seks' hanya menjadi pemicunya saja. 

Akar masalah itu bisa uang, tidak terbuka, pasangan tidak mendengar, meremehkan, bukan teman bicara yang baik, pasangan malas seks dan berbagai masalah rumah tangga lainnya. Selesaikan masalah tersebut.

1 Korintus 6:12, Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun.

1 Korintus 10:23, "Segala sesuatu diperbolehkan." Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. "Segala sesuatu diperbolehkan." Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun".

Mitra CBN



COMMENTS

COUNSELLING

Add Your Comment

Nickname
Email
Comment
  • No comment yet