
Usaha Keripik Pisang & Kacang Telur Membawa Keuntungan
Jumat, 18 Juni 2010
Ditulis oleh : bigke, Dilihat : 667 kali
“Trimakasi do latang OBI, toe nganceng hemong laku ai poli pande mose dia latang anak daku, OBI pande dia latang ami masyarakat, kudu maju sanggen masyarakat dami.” (artinya: Trimakasih banyak OBI , pengalaman ini tidak akan saya lupakan. Modal pengalaman ini bisa menjadi sumber pendapatan untuk mencukupi hidup anak saya. OBI menjadi kan sesuatu yang berbeda untuk kemajuan masyarakat kami). Demikian ungkap Maria Gorethi Lin (26), salah seorang peserta pelatihan Teknologi Tepat Guna (TTG) yang OBI adakan di dusun Koko, Kec. Wae Rii, Kab. Manggarai.
Sejak Desember 2009, Tim Pemberdayaan Masyarakat OBI di desa Koko NTT berupaya untuk menciptakan perubahan bagi masyarat setempat. Vasti, selaku tenaga pelatih (trainer) mengakui bahwa, upaya yang selama ini dilakukan untuk membawa masyarakat Koko keluar dari keterbatasannya, setahap demi setahap mulai menunjukkan hasilnya. “Keberhasilan dapat dilihat pada mereka yang sungguh-sungguh memanfaatkan pelatihan ini, dan memperaktekkan apa yang telah diperoleh dari pelatihan. Selain bertani sebagai sumber mata pencaharian, kini beberapa dari mereka punya pengetahuan dan keterampilan baru dan mampu mengelolah hasil pertanian yang ada, untuk menghasilkan uang dan menambah penghasilannya.”
Maria Gorethi Lin, misalnya. Janda satu anak ini merupakan salah seorang peserta pelatihan TTG yang kini telah merasakan hasilnya. Dengan mengikuti pelatihan membuat keripik pisang dan kacang telur, ia meraup keuntungan. Kini, ia punya mata pencaharian baru untuk menghidupi anak tunggalnya (Farrel 1 tahun), karena penghasilan sebagai buruh tani tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup dan mempersiapkan masa depan yang lebih baik bagi putra tunggalnya. “Lumayan pak, hasil membuat keripik pisang dan kacang telur, yang saya hargai Rp. 1000 per bungkus kecil membawa keuntungan. Selain itu, saya juga menitipkan dagangan ke kios tetangga di kampung.”
Perlahan dan pasti, setahap demi setahap, perubahan itu terjadi karena kepedulian masih ada.






